
"Ya, ini rambutnya. Kapan hasil test nya keluar Dok?" tanya Nyonya Erna lagi dengan hati yang tegang.
"Biasanya hasil akan keluar dalam 3 hari. Bu Erna akan dihubungi oleh pihak rumah sakit ketika hasilnya sudah ada."
"Baiklah, kalau begitu saya minta tolong ya sama Dokter. Jangan beritahu suami saya mengenai hal ini!" pinta Nyonya Erna dengan perasaan cemas dan gelisah.
Dokter pun mengangguk mengiyakan. "Saya akan merahasiakan ini dari Pak Teddy!"
"Aku sangat berharap jika Rose adalah putriku! Ya Tuhan, aku mohon kepada Engkau, pertemukan lah kami, jika memang putriku masih hidup." benak Nyonya Erna.
Waktu terus berlalu, tak terasa hari di mana pertemuan para direksi telah tiba. Rose berangkat ke Gedung Perusahaan Harris Utama, di temani oleh Kristan, asisten setia yang dia cari sendiri dengan ingatan di masa lalu.
Dulu, Kristan berkerja keras untuk memajukan perusahaan. Ketika Wilson memegang jabatan penting di Perusahaan A-more, Kristan dengan gencar menunjukkan permusuhan terhadap Wilson. Sebab Kristan tau, Wilson selalu berniat buruk dan menyembunyikan topengnya dengan baik.
Suatu hari, Kristan menemukan bukti jika Wilson memindahkan semua aset perusahaan. Kristan mengungkapkan semua kejahatan yang dilakukan oleh Wilson, namun Rose telah dibutakan oleh cinta palsu dari pria itu, dia tidak mempercayai kata-kata Kristan. Hingga akhirnya, semua hal buruk menimpa keluarga Rose. Wilson lalu membuka topengnya, dia mengakui semua perbuatan hina yang telah dia lakukan dihadapan Rose. Tapi untuk apa? Semuanya sudah terlambat.
Di sebuah ruang pertemuan, para dewan direksi yang berjumlah sekitar 12 orang berada di sana. Mereka duduk di kursi yang mengelilingi sebuah meja panjang, meja yang berada di tengah ruangan.
Seorang pria paruh baya berdiri, pria itu mengenakan kemeja putih dengan hiasan dasi biru, Pria yang di panggil dengan nama Pak Hendy. Dengan wajah tenang dan nada yang santai, dia mengemukakan wacananya.
"Saya ingin mengusulkan pemberhentian Presdir Wilson dari jabatannya!"
Wilson berada di dalam ruangan, dia duduk dengan perasaan cemas dan gelisah. Mendengar dirinya akan diberhentikan, seketika wajah pria itu menjadi pucat. Hatinya risau dan galau, sebab jika banyak yang menyetujui penarikan posisi darinya, dia benar-benar akan kehilangan kekuasaan di perusahaan.
"Nah, mari kita mulai dari Tuan David, apakah anda setuju dengan wacana ini?" tanya Pak Hendy.
__ADS_1
"Saya setuju!" jawab Tuan David tanpa berpikir panjang.
Mereka yang hadir mengemukakan pilihan secara bergiliran. Setelah Tuan David, laki-laki yang berada di sebelahnya menjawab, "Tidak setuju!"
"Setuju!"
"Tidak setuju!"
Setelah semua orang mengemukakan pilihan mereka, Pak Hendy menghitung hasil dari suara yang di ambil.
Jika di tempat lain kita menghitung hasil suara berdasarkan jumlah kepala, maka di sini tidak seperti itu. Mereka menghitung hasil suara berdasarkan jumlah kepemilikan saham yang ada di tangan mereka.
"Baiklah! Setelah di hitung, jumlah yang tidak setuju sebesar 19% dan jumlah yang setuju sebesar 21%. Karena saham yang di miliki oleh Tuan Wilson sebesar 30%, maka wacana untuk penarikan jabatan presdir Wilson akan di to..."
"Berhenti!" Rose segera berteriak begitu dia membuka pintu. Dia masuk ke dalam ruangan di temani oleh Kristan dan seorang pengacara yang bernama Pak Yusuf.
Wilson begitu marah ketika dia dilemparkan ke dalam penjara. Untung saja Pamannya memiliki kenalan yang bekerja di bagian kepolisian, sehingga Wilson bisa bebas dengan jaminan. Melihat Rose yang berada di dekatnya, ingatan di dalam penjara kembali mengusik pikiran Wilson.
Wilson merasa sangat terhina ketika tangannya di borgol lalu di bawa ke dalam jeruji besi. Apalagi saat di dalam penjara, Wilson menjadi bulan-bulanan narapidana yang sedang merasa kesal ataupun marah. Dia di hajar habis-habisan meskipun dirinya hanya diam di sudut ruangan.
"Wanita jal*ng ini! Kenapa dia berada di sini?" pikir Wilson.
Rose yang baru masuk segera menjadi pusat perhatian. Bukan karena keributan yang dia buat saja, tapi karena penampilannya yang sangat cantik dan menarik untuk di lirik.
Rose lalu berkata, "Saya setuju dengan wacana dari Pak Hendy!"
__ADS_1
"Hahaha..."
Suara tawa Wilson memenuhi seisi ruangan, dia merasa lucu melihat Rose yang tiba-tiba datang dan menginginkan dirinya untuk turun dari jabatan presdir. Wilson masih berpikir jika Rose bukanlah salah satu dewan direksi di perusahaan.
Setelah dia berhenti tertawa, Wilson lalu bertanya kepada Rose. "Memangnya kamu ini siapa? Apa hak yang kamu miliki sehingga memintaku untuk turun dari jabatan?"
Rose melirik pengacaranya, Pak Yusuf. Pria paruh baya itu segera maju lalu menjelaskan jika Rose adalah salah satu pemegang saham di Perusahaan Harris Utama. Pak Yusuf menunjukkan bukti-bukti kepemilikan saham di hadapan semua dewan direksi.
Wilson segera menatap Rose, tatapan yang penuh permusuhan. Dia merasa telah dipermainkan oleh Rose, namun sesaat kemudian dia kembali tertawa. Tertawa karena melihat angka di atas kertas yang di pegang oleh sang pengacara.
"Nona Rose, sepertinya kedatangan mu ke sini akan sia-sia. Karena... Meskipun kamu ingin menarikku turun dari posisi presdir, tapi kamu... Tidak memiliki kemampuan untuk itu!" ucap Wilson sambil menyeringai.
Wilson menganggap Rose hanya anak ingusan yang tidak mengerti apa-apa. Tatapan yang menghina dan merendahkan terlihat jelas di mata Wilson. Baginya, Rose tak lebih dari sekedar wanita cantik yang lugu dan polos. Wanita kaya dan manja yang tidak mengerti bagaimana kejamnya dunia luar.
Rose terdiam, dia sudah berusaha menghubungi pemilik saham terakhir sebelum menuju ke Perusahaan Harris Utama. Namun orang tersebut tidak dapat dihubungi, Rose sempat berharap jika pemilik saham itu sudah hadir di sini. Tapi harapan hanya tinggal harapan saja, sebab tidak terlihat wajah asing di sana.
Di kehidupannya yang lalu, Rose sudah pernah menghadiri pertemuan dewan direksi untuk menemani Wilson. Dia sudah mengenal semua wajah yang berada di dalam ruangan.
Rose mengingat dengan jelas, tidak ada orang yang membeli saham Harris Utama lebih besar dari 5% lewat market di kehidupan lalu. Namun kehidupan kali ini berbeda, seseorang telah mengumpulkan 11% saham Harris Utama yang membuat Rose tidak bisa memiliki saham tersebut.
"Nona Rose memegang 21% saham. Jika di jumlahkan, yang setuju dengan wacana Pak Hendy menjadi 40%. Sementara yang tidak setuju berjumlah 19% ditambah dengan saham Tuan Wilson 30%. Jumlah yang tidak setuju adalah 49%. Maka dengan ini saya menyatakan..."
Bammmm!
Pintu di buka secara kasar dari luar, semua mata secara refleks menatap ke sumber suara. Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan, laki-laki tampan namun berwajah dingin. Membuat semua yang menatap merasakan perasaan takut yang tidak jelas sebabnya.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^