
"Tapi aku tidak ingin dijodohkan, Ma! Hati ini, sudah memilih pemiliknya. Tapi... Apa sebaiknya aku mencoba menemui laki-laki yang akan dijodohkan denganku? Aku juga penasaran, siapa laki-laki itu?" benak Rose.
"Tapinya gak jadi, Ma. Hehe...!" jawab Rose sambil tertawa kecil.
"Ya udah, kalau gitu Mama tutup ya teleponnya. Mama masih ada pekerjaan, bye Rose!"
"Oke, Ma. Bye...!" jawab Rose mengakhiri percakapan.
"Nona Rose, anda mau makan siang dulu atau langsung kembali ke perusahaan?" tanya Kristan memastikan.
"Ke perusahaan aja, aku belum lapar." jawab Rose.
"Baik, Nona!" sahut Kristan yang lalu membelokkan setir ke arah kanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gerry masih mengemudi, dia melajukan mobil menuju ke perusahaan. Ponsel Gerry berdering, dia memberhentikan laju mobil lalu menjawab telepon dari seorang pria yang bernama Anderson.
"Bos, kami sudah menemukan informasi terkait kecelakaan Nona Rose. Setelah kami selidiki, ternyata semua hal buruk yang terjadi di sekitar Nona Rose itu adalah ulah Luna. Wanita itu membayar sejumlah uang untuk membunuh Nona Rose bagaimana pun caranya."
"Aduh, wanita satu itu sudah gila ya! Berani sekali dia membunuh orang di jaman ini, benar-benar edan!" pikir Gerry.
"Bos!" panggil Anderson dari telepon karena tidak mendengar jawaban Gerry.
"Oke. Kamu kumpulin aja bukti-buktinya lalu kirimkan ke perusahaan!" jawab Gerry yang lalu memutuskan sambungan telepon.
Gerry berbalik, dia menatap Michael yang sedang menunggu laporan darinya.
"Tuan Muda, Anderson sudah menemukan pelaku yang mencoba membunuh Nona Rose!"
"Siapa?" tanya Michael penasaran.
__ADS_1
"Luna!"
"Dia lagi, dia lagi! Perempuan gila itu harus diberi pelajaran!" geram Michael dengan dua kepalan tangan.
"Ger, panggil Yoshua dan Trex kembali. Suruh mereka untuk mengawasi dan melindungi Rose." perintah Michael yang langsung di laksanakan oleh Gerry.
Michael kepikiran dengan Rose yang tadi dia abaikan, "Rose, kapan kau akan menyadari perasaan mu terhadapku? Aku sangat ingin berada di sisimu. Jika aku menggunakan cara lama, dia sudah pasti jatuh ke dalam tanganku. Tapi aku tidak ingin melihat kebencian di matanya. Aku ingin dia mencintaiku dan memberikan dirinya secara sukarela."
Sebuah mobil hitam berhenti di sebelah mobil Michael, seorang wanita turun dari mobil itu. Wajah Michael langsung berubah kesal, di matanya terlihat jelas permusuhan yang di tujukan kepada wanita itu. Wanita yang sangat dibenci oleh Michael, Nyonya Erna. Karena tidak ingin melihat wajah wanita itu, Michael langsung menyuruh Gerry untuk segera pergi dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wilson mendapat panggilan telepon dari Luna. Wanita itu meminta Wilson untuk membebaskan dia dari penjara. Dia sudah tidak tahan lagi dengan penyiksaan yang dilakukan oleh napi lain yang sekamar dengannya. Awalnya Wilson hendak menolak, namun ia berubah pikiran karena ingin menggunakan Luna untuk membalas dendam kepada Rose.
"Baiklah, aku akan membebaskan mu dari sana. Tapi kau harus berjanji untuk menuruti semua perintahku!" ucapnya dari telepon kepada Luna.
"Bebaskan aku dari sini, aku akan melakukan apapun yang kau minta." jawab Luna.
Luna dibebaskan secara bersyarat, Wilson juga membayar sejumlah denda sebagai jaminan pembebasan untuk Luna. Leo diminta untuk mengantarkan Luna kembali ke apartemen miliknya. Sementara Wilson ikut dengan pengacara yang dia panggil untuk membantu proses pembebasan Luna.
Terlihat banyak luka memar di sekujur lengan dan wajah wanita itu, namun Wilson tampaknya tidak peduli. Dia bahkan tidak bertanya penyebab luka-luka itu, malah menyerahkan wanita nya kepada Leo.
Dalam perjalanan, Luna tampak kesakitan karena bekas luka yang masih basah di area siku lengan dan lutut. Leo menatapnya dari kaca spion karena wanita itu terus-terusan mendesis bagai ular.
"Nona perlu ke dokter?" tanya Leo karena merasa sedikit kasihan terhadap Luna. Meskipun ia tidak menyukai wanita itu.
"Gak, aku gak ada duit buat bayarnya." jawab Luna.
Selama ini, semua uang Luna berasal dari Wilson. Pria itu selalu memberikan uang kepada Luna sebagai hadiah atas malam panas mereka. Namun sejak dipenjara, Luna tak lagi memiliki pemasukan. Dia bahkan khawatir, bagaimana caranya menghabiskan sisa hari sampai awal bulan nanti.
Setiap awal bulan, di rekening Luna akan masuk uang sebesar 5 Juta sebagai biaya hidup untuknya yang dikirimkan oleh orang tua Luna. Angka itu tentu saja terlalu kecil bagi Luna yang suka menghabiskan uang secara sembarangan. Membeli pakaian baru dan kosmetik mahal, ditambah dengan tas bermerek dan sepatu dari kulit yang cukup menguras isi dompet.
__ADS_1
Sudah lama hidup Luna di isi dengan barang-barang mewah karena Wilson memanjakan wanita itu. Namun sekarang, tampaknya Laki-laki itu tak lagi peduli kepada Luna. Sejak kehadiran Rose, Wilson mulai mengabaikan Luna. Laki-laki itu, hanya bertemu untuk melampiaskan gairahnya. Setelah malam panas berakhir, dia akan pergi dan mengabaikan Luna.
Tidak ada lagi makan malam romantis, apalagi hadiah kejutan untuk Luna yang dulu sering dia dapatkan dari Wilson. Membuat Luna semakin membenci Rose, dia ingin menghancurkan wanita itu. Terutama wajah milik Rose yang cantik luar biasa, Luna begitu terobsesi untuk merusaknya.
Leo menghentikan mobil di depan sebuah gedung apartement. Luna turun dari mobil, dia berjalan tertatih-tatih karena lututnya terasa sakit. Mobil pun kembali melaju, meninggalkan Luna yang masih pelan-pelan menuju ke dalam apartement.
Tiga Hari Kemudian
"Drttttt.... Drtttt....!"
Ponsel Nyonya Erna berdering, membuatnya terbangun di pagi hari. Waktu masih menunjukkan pukul 06.10. Dengan malas-malasan, Nyonya Erna mengambil ponsel dan menjawab telepon dari nomor tak dikenal.
"Hallo, selamat pagi!"
"Selamat pagi, Bu Erna! Saya dari rumah sakit Halim Kusuma, mau menyampaikan kepada Bu Erna, jika hasil test DNA yang Bu Erna minta sudah keluar. Ibu mau kami kirimkan ke alamat Bu Erna atau mengambil sendiri di rumah sakit?"
"Saya akan ke sana sekarang!" jawabnya secara cepat.
Ngantuk dan lelah langsung menghilang begitu saja, Nyonya Erna melepas semua pakaian lalu menuju ke kamar mandi. Belum ada 5 menit, wanita itu sudah keluar dari sana. Dia memakai dress panjang yang memang menjadi pakaian favoritnya lalu segera berlari ke mobil.
Melihat istrinya yang buru-buru sejak pagi hari, Paman Teddy pun bertanya-tanya. Ada apa dengan istrinya itu? Namun dia tidak mau ambil pusing, laki-laki itu kembali tidur dengan memeluk bantal guling.
Dalam perjalanan, hati Nyonya Erna merasa cemas dan gelisah. Dia menantikan hasil itu selama beberapa hari, namun ketika hari ini akan melihat hasilnya, dia merasa sedikit takut. Takut apabila hasilnya akan mengecewakan dirinya.
"Tin Tin Tin!!!"
Sebuah klakson panjang terdengar dari mobil di belakang mobil Nyonya Erna. Dia melamun hingga tak sadar jika lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
Nyonya Erna melanjutkan perjalanan, dia sedikit gugup karena terus memikirkan hasil test DNA. Hingga akhirnya ia pun tiba di parkiran rumah sakit.
"Ya Tuhan... Semoga saja Rose adalah putriku!" batin Nyonya Erna.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^