Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 39


__ADS_3

Tidak puas hanya dengan memaki, Luna mulai bersikap kasar. Wanita itu melempar semua benda yang ada di sekitar kamar ke arahku.


Tentu aku berusaha menghindar, namun usaha itu hanya sia-sia belaka. Ruang sempit membuat jarak kami terlalu dekat, aku juga terlalu lemah untuk bergerak cepat.


Aku membiarkan saja Luna menghina dan terus memaki hingga akhirnya wanita itu mengucapkan kalimat yang tidak pernah aku bayangkan.


"Untung saja anakmu mati sebelum lahir! Jika anak itu lahir, aku akan membuatnya lebih menderita dari pada penderitaan ibunya!"


"Deg!"


Jantungku serasa berhenti berdetak, apa yang aku dengar barusan membuat jiwaku begitu terguncang. Ternyata foto yang dilihat Wilson adalah hasil USG anak kami yang telah meninggal sebelum dilahirkan.


Belum habis rasa terkejutku, Luna mengambil pecahan vas keramik yang dia lempar, dengan cepat pecahan vas itu dia goreskan di wajahku.


Aku berteriak kesakitan, bukan karena wajahku terluka, namun karena hatiku. Hatiku terasa perih, sakit dan sesak. Air mata mulai membasahi wajahku yang sudah lebih dulu dibasahi oleh darah segar.

__ADS_1


Aku berteriak dengan keras, sangat-sangat keras hingga rasanya hati ku ikut berteriak. Rasa sakit itu... Aku tidak ingin merasakannya lagi.


Aku merasa Tuhan sedang mempermainkan hidupku. Ingin rasanya aku mengutuk langit atas semua derita dan air mataku.


*Aku menangis dan terus menangis hingga tak terasa sudah sebulan berlalu sejak bayiku keguguran. Aku tidak mengerti rasa sakit ini, kenapa aku begitu mencintai bayi kami disaat aku sangat membenci Wilson? Aku sa*ngat membencinya hingga rasanya aku sanggup untuk membunuh pria itu.


Ayah dan ibu yang ada di surga, kenapa kalian tidak membawaku pergi bersama ketika kalian mengajak bayiku? Itulah pertanyaan yang selalu aku pikirkan setelah kehilangan bayiku.


Hari-hari yang kulalui setelahnya hanya dipenuhi dengan air mata penyesalan. Namun apa gunanya semua itu? Semuanya sudah terlambat, penyesalan ini hanya menyisakan dendam yang tidak terbalas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apakah ini khayalan yang di buat oleh Rose? Atau dia sedang menulis novel tragedi?" tanya Michael dalam hati.


"Jika memang benar semua yang tertulis di buku ini pernah dijalani oleh Rose, maka sumber depresi Rose dan ketakutannya adalah pria yang bernama Wilson." gumam Michael.

__ADS_1


Michael teringat dengan pria yang mencoba melecehkan Rose, dia sudah meminta Gerry untuk memeriksa identitasnya. Namun karena sibuk dengan Rose, Michael belum sempat melihatnya.


Tanpa menunggu lama, Michael memanggil Gerry melalui pesan di handphone. Dia meminta Gerry untuk membawakan laporan hasil penyelidikan Wilson.


Sepuluh menit berlalu, Gerry mengetuk pintu dengan pelan. Belum sempat ia membuka pintu, Michael sudah keluar dari sana. Pria itu buru-buru keluar karena ia tidak sabar untuk mencari tau informasi tentang Wilson.


"Nama yang sama, Wilson dan juga perilaku yang sama, 'bejad'. Apakah semua yang tertulis di buku diary itu memang benar-benar pernah terjadi? Atau Rose bisa melihat masa depan?" pikir Michael.


"Ger!" panggil Michael.


"Ya bos?" sahut Gerry.


"Apakah mungkin ada orang yang bisa mengetahui masa depan?" tanya Michael.


Gerry terdiam, dia menatap bos nya itu dengan wajah yang sedikit bingung.

__ADS_1


"Lupakan saja!" ucap Michael yang langsung kembali masuk ke kamar.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2