
"Rose, kenapa malam-malam ke sini?" tanya Paman Teddy yang baru saja keluar dari balik pintu.
"Rose mau bertemu dengan Paman dan juga Tante Erna. Boleh Rose masuk?"
Mata Rose mulai berkaca-kaca, dia merasa bersalah karena tidak bisa kembali ke keluarga orang tua kandungnya.
"Rose!"
Nyonya Erna menyusul dari belakang, dia memanggil nama Rose begitu melihat wajah putrinya di depan pintu.
"Kenapa malam-malam ke sini? Ayo masuk!" ajak Nyonya Erna.
Rose masuk ke dalam, Nyonya Erna menuntun langkahnya menuju ke ruang tamu, mereka bertiga lalu duduk di kursi sofa. Nyonya Erna dan Paman Teddy saling menatap sesaat, tatapan mereka lalu beralih ke wajah Rose.
"Rose, kamu sudah tau semuanya?" tanya Tanya Erna.
Rose mengangguk, dia masih menahan tangisannya. Rose berpikir, bagaimana cara untuk memberitahu kedua orang tua kandungnya itu.
Rose tidak ingin meninggalkan keluarganya saat ini, dia bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga Papa Hanz dan Mama Daisy. Tapi Rose khawatir jika Orang tua kandungnya akan sakit hati apabila dia menolak secara langsung untuk kembali kepada mereka.
"Jangan menangis Nak, semua ini salah Mama. Jangan menangis!" ucap Nyonya Erna ketika melihat air mata Rose yang mulai tumpah.
Rose tiba-tiba saja berdiri, dia lalu berlutut di lantai. "Mama, Papa, Maafkan Rose, Rose tidak bisa kembali ke keluarga ini. Tolong maafkan semua ke-egoisan Rose."
Nyonya Erna dan Paman Teddy tertegun, mereka tidak menyangka akan mendapat penolakan dari Rose sebelum mereka mengatakan apa-apa.
"Rose, kamu marah karena Mama Dan Papa tidak menjagamu dengan baik?" tanya Nyonya Erna.
Rose menggelengkan kepala, "Tidak, Rose tidak marah."
"Lalu kenapa kamu tidak mau kembali kepada kami?" tanya Paman Teddy.
"Rose minta maaf, itu karena Rose ingin mempertahankan kebahagiaan di hati Mama Daisy dan Papa Hanz. Apalagi Lily saat ini masih muda, dia masih sangat manja dan bergantung kepada Rose. Rose memang egois, tolong maafkan anak Mama dan Papa yang durhaka ini." ucap Rose mengeluarkan semua isi hatinya.
Nyonya Erna membantu Rose untuk berdiri, dia lalu memeluk Rose sambil menepuk-nepuk pelan pundaknya. "Rose, Mama mengerti. Jadi jangan minta maaf, seharusnya kami yang meminta maaf dari mu. Karena kami tidak menjaga Rose dengan baik, membuat kamu menderita dan terlantar di jalanan. Mama benar-benar minta maaf."
Nyonya Erna menangis begitu sedih, membuat Rose ikut merasakan kepedihan di hati Ibu kandungnya itu.
"Rose tidak pernah menyalahkan kalian. Rose tau kalian tidak sengaja melakukannya. Mama dan Papa pasti lebih sakit hati ketika Rose menghilang. Jadi tolong, jangan meminta maaf kepada Rose. Semua ini, hanya takdir buruk yang sedang mempermainkan kehidupan kita."
Nenek Yun baru saja turun dari lantai atas, dia segera menghampiri Rose dan ikut memeluknya.
"Akhirnya cucuku di temukan!" ucap Nenek Yun sambil membelai wajah Rose yang dibasahi air mata.
Mereka duduk kembali, Rose kemudian menceritakan kehidupannya di keluarga Hoffmann. Sejak kecil hingga dewasa, Papa Hanz dan Mama Daisy selalu memberikan yang terbaik untuk Rose. Dia juga diberi pilihan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
__ADS_1
Nyonya Erna dan Paman Teddy kini mengerti isi hati Rose, dia tidak bisa mengabaikan orang tua yang sudah membesarkan dan memberi kasih sayang yang begitu besar terhadapnya. Apalagi, mereka juga menyelamatkan Rose yang saat itu masih berusia balita.
"Ma, Pa, Nenek! Rose akan tetap tinggal di keluarga Hoffmann. Tapi itu tidak berarti kita bukan keluarga. Rose tetap anak kandung Mama dan Papa. Rose tetap cucu dari Nenek Yun. Rose akan sering datang dan berkunjung kemari."
Paman Teddy mengangguk, dia menyetujui keputusan Rose. Memang ini yang terbaik untuk keluarga Rose yang sudah membesarkan dirinya. Akan tidak adil apabila mereka merebut Rose yang sudah berusia dewasa dari tangan kedua orang tua asuhnya.
"Rose, kamu harus sering-sering main ke sini ya!" ucap Nyonya Erna.
Rose mengangguk sambil tersenyum. Dia menatap ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 03.00. Rose teringat jika Mama Daisy masih menunggunya di rumah.
"Rose pamit pulang ya." ucapnya sembari berdiri dari kursi.
"Sudah jam segini, nggak mau nginap saja Rose?" tanya Nenek Yun.
"Mama Daisy masih menunggu Rose pulang." jawab Rose yang menolak untuk menginap.
Rose akhirnya kembali ke rumah, dia melihat Mama Daisy sudah ketiduran di sofa. Rose duduk di lantai, dia menatap wajah Mama Daisy yang sudah mulai muncul kerutan di kulitnya. Dari sudut matanya, masih bisa terlihat sisa air mata yang mulai mengering.
"Mama, jangan bersedih lagi. Rose tidak akan ke mana-mana. Rose akan selalu berada sisi Mama dan Papa. Rose mencintai kalian semua Ma."
Malam itu, Rose tidur sambil duduk di lantai. Saat pagi hari tiba, Mama Daisy membangunkan Papa Hanz. Mama Daisy meminta Papa Hanz untuk membawa Rose ke dalam kamar tanpa membangunkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Michael menatap layar ponselnya berkali-kali, menunggu balasan dari pesan chat nya kepada Rose yang tak kunjung tiba. Dia memikirkan wajah canggung Rose saat makan malam kemarin, Michael senyam senyum sendiri. Membuat Gerry menggelengkan kepala melihat kelakuan Tuan Mudanya yang terkena penyakit cinta.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif."
"Kok malah nggak aktif sih!" keluh Michael yang sudah terlalu merindukan kekasihnya.
Michael menganbar kunci mobil, dia langsung pergi ke rumah Rose. Setibanya di sana, Lily membukakan pintu untuk Michael yang menekan bel tanpa jeda.
"Yang sabar dong!" omel Lily dengan wajah jutek ketika melihat Michael di depan pintu.
"Rose mana?" tanya Michael sambil menatap ke dalam rumah.
"Di kamar!" jawab Lily yang lalu masuk ke dalam.
Michael ikut masuk, dia menutup pintu lalu berjalan ke kamar Rose. "Rose..." Michael menutup mulutnya ketika melihat Rose berbaring di atas ranjang. Dia berjalan ke samping tempat tidur lalu duduk menatap wajah Rose yang masih tertidur lelap.
Sesekali Michael mengecup pipi Rose yang terlihat menggemaskan. Dia juga tersenyum ketika melihat Rose menggerakkan bibirnya seakan sedang mengunyah.
"Kamu nih, bobok aja masih mimpiin makanan!" gumam Michael pelan.
"Ma, aku sayang sama Mama!" Rose mengingau, mengatakan kata-kata di dalam hatinya.
__ADS_1
Michael lalu melihat mata Rose yang mulai berair, dia menyeka pelan air mata itu dengan jari jempolnya.
"Mimpiin apa sih kamu?" tanya Michael dalam hati.
Rose merasakan seseorang sesang membelai wajahnya, perlahan dia membuka mata. Senyumnya langsung melebar begitu melihat wajah Michael di sampingnya.
"Mike, kamu kenapa di sini?" tanya Rose.
"Tentu saja karena aku merindukan istriku!" jawab Michael sambil terkekeh.
"Siapa istrimu?"
"Istriku? Wanuta tercantik di bumi ini."
"Haha... Dasar kamu! Siapa pula yang mau jadi istri kamu yang suka menggombal."
"Aku hanya gombalin kamu seorang."
Rose merasa bersyukur karena kebahagiaannya saat ini begitu besar. Tapi di salah satu sudut hatinya, dia merasa takut apabila kebahagiaan ini akan cepat berlalu. Menghilang dan lenyap bagai asap yang melayang.
"Rose, kamu lagi mikirin apa?" tanya Michael yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Rose.
"Mikirin sampai kapan kebahagiaan ini akan bertahan." jawab Rose dengan wajah yang kelihatan sedih.
"Apa sih yang kamu pikirin nih? Tentu saja selamanya." jawab Michael sambil membelai lembut wajah Rose.
"Semoga saja."
Michael ikut berbaring, dia memeluk Rose lalu memejamkan mata. "Semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir." benak Michael.
"Tok Tok Tok!" Lily mengetuk pintu kamar, mengagetkan Rose dan Michael yang masih berpelukan.
"Kak, yuk makan!" ajak Rose dari luar pintu.
"Iya, Kakak mandi dulu sebentar." jawab Rose tanpa membuka pintu.
Michael segera berdiri di ikuti oleh Rose, mereka saling bertatapan lalu tertawa bersama. Rose masuk ke kamar mandi, dia bergerak cepat agar tidak ditunggu kelamaan.
Saking buru-burunya, Rose lupa jika Michael sedang berada di dalam kamar. Dia keluar tanpa memakai pakaian, handuknya pun masih melilit di atas kepala karena ramburnya yang basah.
Michael menelan air liurnya, matanya menjelajah dari atas ke bawah, menatap tubuh Rose yang terpampang jelas di depannya.
"Kyaaaaaaaaaaa!" jeritan Rose terdengar hingga keluar kamar. Michael segera mendekat lalu menutup mulut Rose agar tidak menjerit.
"Kak, kakak kenapa?" tanya Lily yang baru saja tiba di depan kamar karena mendengar suara jeritan Rose.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^