
Mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi dari Papa Hanz, Rose menjadi kebingungan. Dia tidak tau bagaimana harus menjawab, sebab jawaban yang jujur akan membuat mereka berpikir jika Rose itu mengidap penyakit jiwa.
Mana ada orang yang akan percaya, jika dia berkata bahwa dia pernah mati, lalu hidup kembali. Rose sendiri bahkan tidak akan mempercayai kalimat itu, apabila bukan dirinya sendiri yang sudah melalui semua keajaiban itu.
"Rose!"
Papa Hanz memanggil, sebab Rose hanya diam saja dan tidak menanggapi pertanyaan darinya.
Rose menatap mata Papa Hanz, dia sedang berargumen di dalam hati. Haruskah menceritakan semua kejadian yang sudah dia lalui? Atau dia hanya perlu mengarang untuk menutupi semua kenyataan pahit yang pernah dia hadapi.
"Jawaban apa yang harus aku katakan kepada Papa?" tanya Rose dalam hati.
Menyadari jika Rose kebingungan, Michael segera membantu untuk menghindar dari pertanyaan Papa Hanz.
"Rose pasti belum mengingat semuanya dengan jelas, nanti saja kamu cerita kalau kamu sudah lebih sehat." Michael menatap mata Rose, mengisyaratkan wanita itu untuk ikut bersandiwara.
"I--iya, Rose belum bisa mengingat banyak." jawab Rose sedikit gagap, namun berhasil membuat Papa Hanz menyerah untuk bertanya lebih lanjut.
"Benar juga, Papa terlalu buru-buru. Maaf yah, Papa jadi menganggu pikiran Rose, padahal Rose masih perlu banyak beristirahat." sahut Papa Hanz.
__ADS_1
"Nggak-nggak pa-pa kok Pa." jawab Rose sambil tersenyum.
"Ya sudah, Papa mau pulang aja biar Rose bisa istirahat dengan baik."
Papa Hanz mengecup kening Rose, di ikuti dengan Mama Daisy. Mereka berdua pamit pulang lebih dulu agar tidak mengganggu istirahat Rose. Paman Teddy dan Nyonya Erna mendekat ke tempat tidur, Michael menatap keduanya dengan tatapan sinis.
"Ma, Pa, maaf sudah membuat kalian cemas." ucap Rose sambil melirik ke arah Michael.
Rose merasakan kebencian dari Michael yang di tujukan untuk kedua orang tuanya. Meskipun dia penasaran, dia belum berani bertanya kepada Michael, apa alasan dia membenci kedua orangtuanya.
"Kami juga pulang duluan ya, tolong jaga Rose dengan baik." ucap Nyonya Erna yang lalu mengecup kening Rose dan memeluknya sesaat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wilson sedang berada di sebuah ruangan, lebih tepatnya, dia berada di ruang kerja Lexo Harris Laki-laki itu dimarahi habis-habisan oleh ayahnya, penyebabnya adalah kebakaran yang terjadi di gedung tua milik ayah Wilson.
Lexo Harris, nama dari ayah Wilson. Laki-laki itu sudah lama mengosongkan gedung itu agar tidak di ketahui memiliki ruang bawah tanah. Gara-gara kebakaran ini, ruang bawah tanah di gedung itu malah menjadi berita utama di semua media.
Lexo Harris, nama panggilannya Alex. Laki-laki itu menyembunyikan semua laporan keuangan di dalam brankas di gedung tua. Selama ini, dia memalsukan semua laporan keuangan perusahaan. Alasannya sederhana, untuk menghindari pajak dan juga profit dari perusahaan.
__ADS_1
Karena kebakaran itu, kasus penipuan dan penggelapan pajak di perusahaan Harris kini menjadi berita pencarian nomor satu. Dia begitu marah, hingga akhirnya melempar asbak rokok tepat di kepala anaknya.
Wilson memegang kepalanya yang berdarah, dia menatap ayahnya dengan mata yang penuh amarah dan juga kebencian. "Cepat atau lambat, aku akan membunuh pria tua ini lalu menguasai semua harta keluarga Harris." benak Wilson.
"Dasar anak tak berguna! Kau tidak hanya membuat keributan, sekarang kau juga menyinggung Tuan Muda dari keluarga Hoffmann! Kau benar-benar pembawa bencana!" Alex kembali melempar barang yang ada di atas meja, kali ini Wilson menghindar. Vas bunga yang di lempar Alex membentur dinding lalu pecah menjadi serpihan kecil.
"Keluar!" bentak Alex dengan wajah memerah.
Wilson berjalan keluar dari kantor ayahnya, dia lalu turun ke lobby dan pergi ke parkiran. Wilson membuka pintu mobil, dia mengangkat kakinya untuk masuk ke dalam.
"Brukkk!"
Seseorang memukul Wilson dari belakang, membuat laki-laki itu pingsan dan terjatuh di lantai parkiran. Tubuh Wilson di seret, dia di angkat masuk ke dalam sebuah mobil Van hitam. Wilson di bawa pergi dengan mobil tersebut, hingga dia di turunkan di sebuah rumah kosong yang berada di pinggiran kota.
Wilson dibiarkan kelaparan dan kehausan. Sudah dua hari dia di sana tanpa seorang pun datang ke tempat itu.
"Di mana ini? Siapa yang sudah menculikku?" tanya Wilson dalam hati.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1