Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 80. Membuka Rahasia


__ADS_3

Mama Daisy memaksakan senyumannya, dia lalu berkata kepada kedua putrinya. "Mama cuma sedikit kelaparan. Makan yuk!"


Rose dan Lily membantu Mama Daisy membuat sarapan, Rose memperhatikan wajah Mama Daisy yang terlihat murung. Dia bertanya-tanya dalam hati, "Mama kenapa ya? Mama kelihatan sedih dan murung. Apakah ada masalah di kantor, atau Mama sedang berantem sama Papa?"


Sementara itu, Nyonya Erna baru saja tiba di rumah. Dia menceritakan semua yang dikatakan oleh Mama Daisy kepada ibu mertua serta suaminya.


"Sepertinya, orang tua Rose juga tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Rose." Nenek Yun sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada cucu semata wayangnya itu.


Begitu pula dengan Paman Teddy, dia ingin mengetahui siapa orang kejam yang sudah tega membuang Rose di tengah jalan setelah menyiksa anak sekecil itu.


Nyonya Erna masih sakit hati mengetahui kenyataan jika putrinya ternyata di siksa oleh si penculik. Tapi dia sedikit bersyukur karena Rose masih hidup dan bertemu dengan keluarga yang baik.


Dia merenungi kata-kata dari Mama Daisy yang menyebut dirinya tak layak menjadi seorang ibu.


"Dia benar, aku memang tidak layak menjadi seorang ibu. Seandainya saja waktu itu aku lebih memilih Rose, kejadian seperti ini pasti tidak akan terjadi. Rose tidak akan meninggalkan keluarga ini dan tidak perlu di siksa oleh orang yang bahkan tidak dia kenal."


Pada malam hari itu, Mama Daisy berada di dalam kamar bersama Papa Hanz. Wanita paruh baya itu bercerita tentang pertemuannya dengan Nyonya Erna yang mengaku sebagai ibu kandung Rose.


"Ma, Papa pikir, sebaiknya kita memberitahukan rahasia ini kepada Rose. Biarlah dia sendiri yang akan memutuskan akan tetap bersama kita atau memilih kembali kepada keluarganya yang asli."


Mama Daisy menatap Papa Hanz, dia sedikit tidak rela jika putri yang sudah puluhan tahun dia besarkan kini akan diambil oleh keluarga lain hanya karena hubungan darah.


Apalagi mengingat betapa sayangnya dia terhadap Rose yang sejak kecil dia timang. Dalam hatinya, dia sudah menganggap Rose sebagai anak kandung sendiri.


"Pa, bagaimana jika Rose memilih untuk kembali kepada keluarganya? Mama akan kehilangan dia untuk selamanya. Mama nggak rela Pa."


"Ma, serahkan semuanya kepada Rose, dia berhak mengetahui asal usulnya. Rose sudah dewasa, dia tau mana yang terbaik untuknya." sahut Papa Hanz sambil menepuk pelan pundak istrinya.


Mama Daisy menghela napas panjang, dia merasa berat dan tidak rela. Namun apa yang di katakan oleh Papa Hanz memang benar, Rose berhak untuk menentukan masa depannya sendiri, jalan hidup yang akan dia tempuh. Semuanya, hanya Rose sendiri yang berhak memutuskan karena itu adalah kehidupannya.


"Mama akan menceritakan hal ini kepada Rose."

__ADS_1


Mama Daisy sudah mengambil keputusan, dia akan membuka rahasia ini kepada kedua putrinya. Mama Daisy berjalan keluar dari kamar, Papa Hanz mengikuti dari belakang.


Rose dan Lily masih di ruang tamu, mereka menonton film komedi bersama. Melihat tawa dan senyuman di wajah Rose dan Lily, Mama Daisy merasa lega dan bahagia.


"Putriku yang tercinta, Mama sangat bangga memiliki kalian sebagai putri mama." ucap Mama Daisy dalam hati.


"Rose, Lily, ada yang ingin Mama bicarakan."


Kedua putrinya menoleh ke tempat Mama Daisy berdiri. Menyadari jika wajah Mama Daisy sangat serius, Rose segera mematikan televisi. Dia memperbaiki duduknya yang bermalas-malasan. Begitu juga dengan Lily, dia segera bangkit dari sofa empuk yang ditidurinya sejak tadi, dia lalu duduk di samping Rose.


Mama Daisy duduk di depan Rose dan Lily, sementara Papa Hanz duduk di samping Rose.


"Mama mau menceritakan sebuah rahasia yang tidak pernah Mama ungkapkan selama ini. Rahasia ini tentang Rose."


Mama Daisy menatap wajah Rose yang menegang penuh keheranan. Dia mengambil tangan Rose lalu menggenggamnya dengan kedua telapak tangan.


"Rose, kamu..." Tenggorokan Mama Daisy rasanya tercekat, terlalu sulit baginya untuk mengeluarkan kata-kata itu.


Rose mematung mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Mama Daisy, dia sedang berusaha mencerna kata-kata itu dengan pikiran yang tenang.


Mama Daisy melanjutkan dengan bercerita tentang awal mula pertemuannya dengan Rose hingga akhirnya dia di adopsi oleh Mama Daisy dan Papa Hanz. Mama Daisy lalu berkata kepada Rose.


"Pagi ini, Mama kandung Rose datang untuk menemui Mama. Dia sepertinya ingin membawa Rose kembali. Jadi itu sebabnya, Mama dan Papa harus memberitahukan hal ini kepada Rose."


Rose masih berdiam diri, tidak terbaca emosi di wajahnya. Dia hanya berekspresi datar, tak terlihat kesedihan ataupun bahagia.


"Mama tau ini berat, tapi asal Rose tau, Mama sudah menganggap Rose sebagai bagian hidup dari Mama. Rose akan selalu menjadi anak Mama yang berharga. Jadi, semua keputusan Rose akan Mama terima."


Papa Hanz mengelus kepala Rose lalu menepuk-nepuk pelan pundaknya. Lily hanya menatap ke samping, memandangi wajah kakaknya yang selama ini selalu menjadi panutannya.


Setelah hening beberapa saat, Rose membuka mulutnya. "Jadi, siapa orang tua kandung Rose?"

__ADS_1


Wajah nya masih datar, dia hanya bertanya untuk memastikan siapa orang yang sudah tega membuangnya sejak kecil. Bukan karena dia ingin kembali kepada keluarga kandungnya.


"Namanya Erna, tapi Mama tidak mengenal wanita itu."


Rose menarik tangannya yang sedang di genggam Mama Daisy, dia balik menggenggam erat tangan Mama Daisy.


"Erna? Tante Erna adalah Mama kandungku?" tanya Rose dengan mata yang membesar dan suara yang meninggi.


Hati Rose seketika merasa lega, dia yakin jika kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang dia bayangkan. Orang tuanya tidak membuangnya tapi mereka kehilangan dirinya.


"Syukurlah, ternyata aku bukan anak yang tak di inginkan." benak Rose.


"Ma, boleh Rose keluar sebentar? Rose mau bertemu dengan Tante Erna."


Pertanyaan Rose membuat Mama Daisy sedikit kecewa, dia berpikir jika Rose akan memilik untuk kembali kepada orang tua kandungnya. Namun Mama Daisy tetap tersenyum dan mengizinkan Rose untuk bertemu dengan orang tuanya


"Hati-hati di jalan ya sayang." jawab Mama Daisy dengan mata yang berkaca-kaca.


Rose seolah bisa membaca pikiran Mama Daisy, dia segera memeluk dan berbisik di telinga Mama Daisy.


"Ma, Rose selamanya anak Mama dan Papa. Tungguin Rose pulang ya."


Tangisan Mama Daisy pecah seketika, dia membalas pelukan dari Rose sambil mengangguk-angguk.


Rose melajukan mobil merahnya menuju kediaman Nenek Yun. Dalam beberapa menit saja dia sudah tiba di sana. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, jalanan yang mulai sepi membuat Rose bisa melajukan si merah dengan kecepatan tinggi.


"Ting Tong!"


Beberapa kali Rose menekan bel pintu hingga akhirnya seseorang membukakan pintu untuknya.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2