
Nasi dengan lauk yang bisa dikatakan porsi jumbo tersusun rapi di dalam kotak makan. Rose melebarkan senyuman ketika melihat makanan di depannya.
"Selamat makan!" ucapnya lalu mulai menikmati makan malam penuh cinta dari Michael.
Setelah menghabiskan semua makanan, Rose mengambil foto kotak makan yang sudah kosong. Foto itu lalu dikirim ke ostagram dengan tulisan, "Sudah aku habiskan, Terima kasih!"
Gerry yang melihat postingan itu segera menunjukkan ponselnya kepada Michael. Wajah pria itu langsung tersenyum, senang dan bahagia karena Rose menghabiskan semua makanan yang dia bawa.
"Tuan Muda, ponsel saya!" Gerry hendak mengambil ponselnya namun Michael seolah belum puas melihat postingan itu.
Michael melemparkan ponsel miliknya kepada Gerry, "Buatkan akun ostagram!" titah Pria itu.
Gerry hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan Tuan Mudanya yang semakin hari semakin sulit dipahami.
Rose melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. "Udah jam segini! Aku tidur di sini aja deh biar hemat waktu." benak Rose.
Rose melepaskan semua pakaian, dia membersihkan diri di dalam kamar mandi pribadi miliknya. Sebuah cermin besar terletak di dinding kamar mandi, membuat Rose bisa melihat semua bagian tubuhnya.
Melihat bercak-bercak merah di leher dan pundak, membuat Rose mengingat kembali kejadian di rumah sakit. Ciuman panas dan liar dari bibir Michael, sentuhan-sentuhan lembut yang dia berikan hingga mereka hampir saja berbuat dosa.
Rose menepis tangan Michael ketika dia mulai menyentuh bagian intim miliknya, "Untung saja aku masih diberi kesadaran, aku gak mau melakukan hubungan tanpa ikatan pernikahan lagi!" ucap Rose ketika mengingat semua kejadian malam itu.
Rose mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang sudah tersedia di dalam kamar mandi, dia lalu memakai piyama tipis yang terletak di atas rak kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Rose berjalan menuju ke kamar mini yang terletak di bagian dalam ruangan.
Ruang kerja Rose di desain memiliki sebuah kamar tidur di dalam, sebuah kasur empuk yang berukuran king size terletak di tengah-tengah. Teringat masa lalu, Rose tidak pernah sekalipun menginap di kantor karena semua waktu luangnya dia habiskan bersama Wilson.
Dalam hati Rose berpikir, "Betapa bodohnya aku di masa lalu, menghabiskan waktu sia-sia untuk seorang pria brengsek."
Rose merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh lampu-lampu kecil berwarna putih.
"Mulai sekarang, aku akan hidup bahagia selamanya." Malam itu, Rose tertidur lelap tanpa bermimpi.
Matahari mulai bersinar, cahaya menyelusup di antara tirai jendela. Menerpa sebagian wajah Rose, membuatnya terasa hangat. Rose terbangun karena cahaya yang hangat itu, dia meregangkan tubuhnya lalu bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
Sejak berlatih ilmu bela diri, Rose memulai hari dengan berolah raga. Rose melakukan gerakan sederhana namun bermanfaat yang di ajarkan oleh sang pelatih. Selama 30 menit, dia mengulangi gerakan yang telah di pelajari.
Rose lalu mandi dan berganti pakaian. Dia keluar dari kamar menuju ke ruang kerja. Kristan sudah hadir di sana, dengan segelas teh hangat dan sarapan pagi yang terlihat menggoda selera.
"Selamat Pagi Nona Rose!" ucap Kristan begitu melihat Rose yang sedang menatapnya.
"Kamu pagi banget datangnya!" sahut Rose yang berjalan menuju ke sofa.
"Saya selalu datang ke kantor jam 7 pagi." jawab Kristan.
Rose duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja, Kristan berdiri di samping. "Saya sudah menyiapkan sarapan untuk Nona!" ucapnya sambil meletakkan sebuah piring yang berisi roti dengan telur mata sapi dan dua sosis goreng.
"Silahkan di makan Nona!"
Pria itu lalu keluar setelah mendengar kata "Terima kasih" dari Rose.
Rose mengesap secangkir teh hangat yang berada di atas meja, dia lalu menikmati sarapannya. Rose menatap ponsel miliknya yang masih dalam mode silent, segera setelah sarapannya habis, dia bangkit dari duduknya lalu mengambil ponsel yang berada di atas meja kerja.
Rose membuka dan membaca semua komentar tentang foto kalung yang dia posting. Wajahnya terlihat sedikit kecewa saat tidak melihat komentar yang dia inginkan. Rose menutup layar ponsel, dia lalu membuka laptop untuk mulai bekerja.
"Drtttt! Drtttt!"
Rose menatap layar ponselnya yang bergetar, dia lalu melihat nama yang tidak asing dalam ingatannya. "Calvin Pratama" nama pria yang di tunggu oleh Rose.
Segera, Rose menjawab panggilan. "Hallo, selamat pagi." ucap Rose membuka percakapan dengan salam.
Selamat pagi, Nona Rose! Saya melihat postingan anda di situs penjualan. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati, apakah anda berniat menjualnya?
^^^Ya, saya berniat menjual kalung itu.^^^
Bisakah kita bertemu secara langsung, Nona Rose?
^^^Anda berminat untuk membelinya?^^^
__ADS_1
Ya, sudah lama saya mencari kalung yang persis dengan kalung di foto Nona. Bisakah saya melihat kalung itu terlebih dulu sebelum memutuskan akan membeli atau tidak?
^^^Silahkan datang ke alamat yang akan saya kirimkan nanti. Saya tunggu kedatangan Tuan di jam makan siang.^^^
Baik, Terima kasih Nona Rose.
Begitu telepon melalui aplikasi itu terputus, Rose melompat kegirangan. "Beruntung aku pernah membaca situs penjualan di masa lalu. Banyak pembeli yang suka mencari barang di sana, termasuk Tuan Muda yang bernama Calvin Pratama."
Rose melanjutkan pekerjaannya, dia membuat rencana untuk menerima tawaran kerja sama dengan perusahaan Zero One yang akan terkenal dua tahun mendatang. Di kehidupan yang lalu, Zero One menempati urutan nomor 1 dalam dunia fashion.
Sebelum perusahaan itu terkenal, mereka pernah menawarkan proposal untuk bekerja sama dengan perusahaan A-more. Tapi saat itu, Rose menolak tawaran mereka sebab perusahaan Wilson juga bergerak di bidang fashion.
"Kali ini, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Aku akan menerima tawaran dari mereka! Jika perlu, aku yang akan menawarkan kerja sama terlebih dulu." pikir Rose.
Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Rose masih sibuk membuat proposal untuk bekerja sama dengan perusahaan Zero One.
"Tok Tok Tok!"
"Masuk!" ucap Rose begitu mendengar suara ketukan pintu.
Pintu dibuka dari luar, Kristan masuk ke dalam ruangan. "Nona, seprang pria yang bernama Calvin meminta untuk bertemu. Beliau bilang sudah membuat janji dengan Nona."
Rose mengingat jika dirinya memiliki janji dengan Tuan Muda Pratama. "Aku memang sudah buat janji tadi lewat telepon. Bawa aja orangnya ke sini!" sahut Rose sambil membereskan laporan yang berantakan di atas meja.
Kristan lalu keluar, dia membawa Tuan yang bernama Calvin ke dalam ruang kerja Rose sesuai dengan perintah Nona mudanya.
"Silahkan masuk!" ucap Kristan ketika mereka tiba di depan pintu.
"Terima kasih!" jawab pria itu sambil tersenyum ramah.
"Oh Tuhan...! Kenapa bisa pria ini yang bernama Calvin Pratama? Apakah ada yang salah atau mereka hanya memiliki nama yang sama?"
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1