Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 12. Trauma


__ADS_3

“Ngapain kamu nginap di sini?” tanya Rose dengan wajah penasaran.


“Menagih hutang!” jawab Michael dengan tatapan dingin.


“Dasar gila! Kamu nggak punya rumah ya? Ngapain nagih utang pakai nginap di rumah ku?” ucap Rose dengan nada kesal.


"Buat mastiin kamu masih bernyawa sebelum melunasi hutangmu!" jawab Michael dengan nada dingin.


"Mastiin? nyawa? maksudnya dia mau melindungi aku di sini?" batin Rose.


“Di mana kamar ku?” tanya Michael sambil membuka sebuah pintu.


“Ck...! Apa-apaan sih? Siapa yang ngizinin kamu buat nginap?” kekesalan Rose bertambah besar karena sikap Michael yang tak sopan.


Michael tidak memperdulikan ocehan Rose, dia berkeliling mansion seolah sedang melakukan tour, dia membuka satu persatu ruangan yang ada di mansion.


Michael berhenti di sebuah ruangan kamar dengan ukuran 10 meter x 12 meter. Kamar itu dilengkapi dengan sebuah kamar mandi dan ruang kerja yang cocok dengan seleranya.


“Sekarang, kamar ini menjadi milikku!” tegas Michael tanpa persetujuan pemilik mansion.


Rose memijit ringan keningnya, kepalanya terasa sakit karena menahan kekesalan. Dia menatap Michael dengan wajah yang merah karena amarah.


“Keluar! Saya tidak pernah setuju untuk membiarkan anda menginap di sini. Ini adalah sopan santun saya yang terakhir! Tolong keluar dari rumah ini!”


Gerry diam-diam tertawa melihat adegan itu. Di mata Gerry, mereka terlihat seperti pasangan yang sedang bertengkar.


Michael menarik koper dari tangan Gerry, dia membawa koper itu masuk ke kamar yang telah dia pilih. Pria itu kemudian membuka salah satu pintu lemari yang berada di sana.


“Blush”


Wajah Michael merona seketika saat melihat isi di dalam lemari itu.


Michael segera menutup pintu lemari, dia menelan air liurnya yang tiba-tiba terasa banyak. Rose manatap pria itu dengan wajah heran, dia bertanya-tanya kenapa wajah pria itu memerah.


Kamar itu adalah kamar milik Rose, dia merancang sendiri design kamarnya. Di dalam mansion, hanya kamar Rose yang memiliki ruang kerja mini di dalamnya.


“Aghhh...!” jerit batin Rose saat menyadari apa yang membuat wajah Michael memerah.


Rose baru ingat jika mama nya pernah mengirimkan hadiah ulang tahun yang isinya selusin set pakaian dalam sexy dan selusin lingerie tipis transparan dengan berbagai model.

__ADS_1


Hadiah itu dia simpan dalam lemari yang jarang digunakan. Lemari di kamar Rose ada 8 pintu, dan pintu yang dibuka oleh Michael adalah pintu dari lemari yang jarang dipakai olehnya.


Wajah Rose ikut memerah karena merasa malu. “Apa yang akan dipikirkan oleh pria ini tentang ku, saat melihat baju baju sexy itu?” benak Rose.


Rose menenangkan pikirannya, dia harus mengusir pria ini lebih dulu. Bukan saatnya memikirkan hal lain.


“Ini kamar milik saya, kamu sebaiknya pergi dari sini. Saya tidak bisa mengizinkan laki-laki tinggal di sini. Hal itu akan merusak nama baik saya!” ucap Rose dengan suara datar.


Michael tersenyum dingin, dia mendekatkan wajah mereka kemudian berbisik di telinga Rose.


“Aku akan bertanggung jawab jika hal itu terjadi. Lagi pula kita memang sudah berhubungan sangat dekat bukan?”


“Deg!”


Jantung Rose tersentak saat mendengar kata-kata Michael, dia jadi teringat kejadian di malam itu. Wajahnya kini penuh amarah, “Pria ini benar-benar keterlaluan.” Benak Rose.


Dia masih berpikir bahwa Michael telah mengambil keperawanannya. Dia menganggap pria ini sungguh tak tahu malu, setelah apa yang dia lakukan, dia masih bisa berbicara dengan seenak jidatnya. Tentunya ini hanya salah paham yang tidak dijelaskan oleh Michael.


“Plakkk!”


Sebuah tamparan mendarat di wajah Michael, Gerry membesarkan matanya saat melihat hal itu. Baru pertama kali bos nya di tampar, apalagi tamparan yang berasal dari seorang wanita. Gerry merasa terkejut dengan keberanian Rose.


Rose mengusir Michael dengan kasar, napasnya memburu karena menahan amarah. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Ger, keluar dan tutup pintu!” perintah Michael.


“Mau apa kamu?” tanya Rose dengan perasaan takut.


“Menunjukkan ke kamu, yang nama nya bajingan itu seperti apa!" Jawab Michael sambil menarik lengan Rose dan membawanya ke tempat tidur.


“Lepaskan! Lepaskan aku!” bentak Rose ketakutan.


“Ugh...!”


Rose makin ketakutan saat tubuh Michael menindihnya. Pria itu menahan kedua tangan Rose dan mulai mendekatkan bibir mereka.


Tubuh Rose gemetaran, tangan dan kakinya menjadi dingin karena rasa takut yang memuncak.


“Kumohon lepaskan aku! Kumohon jangan lakukan itu padaku! Kumohon...” Rose mulai meracau bertubi-tubi dengan tangisan yang membuat pilu hati Michael.

__ADS_1


“Hey, aku hanya menggertakmu. Jangan menangis!” ucap Michael saat melihat air mata di kedua ujung mata Rose.


“Kenapa dia gemetaran seperti ini? Apa yang terjadi padanya?” benak Michael.


Rose masih menangis dan meracau, dia terus menyebut kalimat yang sama berulang-ulang. Michael merasa cemas melihat reaksi Rose yang di anggap terlalu over, dia bahkan belum melakukan apa-apa pada gadis itu.


“Ger, cepat hubungi dokter!” perintah Michael dengan suara keras.


30 menit kemudian Dokter tiba di sana. Dokter memeriksa dan menyuntik obat penenang ke tubuh Rose.


“Apakah pasien mempunyai penyakit psikologis?” tanya Dokter dengan wajah penasaran.


“Saya tidak tahu.” Jawab Michael.


“Apakah pasien pernah mengalami trauma di masa lalu yang membuatnya ketakutan berlebihan?” tanya Dokter lagi.


Michael menggelengkan kepala, “Saya tidak tahu, saya baru mengenal gadis ini.”


“Menurut pendapat saya, anda harus membawa pasien ke dokter psikiater. Jika dilihat dari reaksi pasien yang ketakutan secara berlebihan, sepertinya pasien memiliki trauma yang sulit untuk di lupakan.” ucap Dokter dengan wajah serius.


“Trauma? Trauma apa yang membuatnya bereaksi seperti ini?” benak Michael.


Gerry mengantar Dokter ke depan pintu, saat dia masuk kembali, dia melihat Michael sedang menatap Rose yang tertidur karena pengaruh obat penenang. Bos nya kini terlihat sangat cemas dan gelisah. Ini kedua kalinya dia melihat ekspresi wajah Michael yang seperti itu.


“Hidup bos akan menderita mulai dari sekarang!” benak Gerry.


Malam itu Michael tidur di sofa kamar Rose, dia terbangun beberapa kali untuk mengecek kondisi Rose yang di anggapnya sedang tidak sehat.


Rose membuka mata saat sinar matahari pagi menerpa wajahnya. Dia bangkit dari tempat tidur, dengan sebelah tangan dia memegang kepalanya yang terasa pusing.


Matanya membelalak kaget saat melihat Michael tidur di sana. Dengan segera, ingatan semalam muncul di benak nya. Rose mengambil sebuah gunting besar dari dalam laci, dia memegang erat gunting itu dengan jemarinya.


Michael terbangun saat mendengar suara laci yang ditutup dengan kasar. Dia menoleh ke tempat tidur, Rose duduk di tepi tempat tidur dengan memegang sebuah gunting yang ujungnya di arahkan ke Michael.


Pria itu bangkit dan mendekat ke arah Rose. "Kamu, mau membunuh ku?" tanya Michael dengan nada dingin.


"Jangan mendekat!" ucap Rose dengan suara bergetar.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2