
"Nggak pa-pa, cuma ada kecoa di kamar!" jawab Michael.
Rose menarik handuk dari rambutnya, dia menutup tubuhnya dengan handuk itu.
"Keluar kamu! Keluar!!!" Rose mengusir Michael, dia begitu malu hingga wajahnya memerah semua.
"Kenapa? Kok ngusir?" protes Michael yang tak ingin melewatkan kesempatan.
"Mike!" bentak Rose sambil membesarkan bola matanya.
Michael langsung menempelkan bibirnya, dia mencium bibir Rose. Perlahan Rose memejamkan mata, menikmati ciuman mesra dari Michael yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Tangan Michael mulai meraba-raba, menekan dan merem*s bukit di dada milik Rose. Wanita itu terperanjat, dia langsung mendorong tubuh Michael. Rose berlari menuju lemari, dia mengambil pakaian dari dalam lemari, lalu kembali masuk ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.
"Gagal lagi deh!" keluh Michael dalam hati.
Rose keluar dari kamar mandi, dia lalu berjalan berdampingan bersama Michael menuju ke ruang makan. Semua sudah menunggu di sana, melihat Rose bersama seorang laki-laki, Mama Daisy menjadi penasaran.
"Rose, siapa ini? Kenalin dong."
"Saya Michael, Om, Tante."
Mama Daisy dan Papa Hanz tersenyum melihat anak gadisnya yang kini sudah memiliki pasangan. Mereka mempersilahkan Michael untuk duduk dan sarapan bersama.
"Ternyata anak Mama diam-diam sudah punya pacar ya." goda Mama Daisy.
Wajah Rose memerah, dia merasa malu dan canggung karena memperkenalkan Michael sebagai kekasihnya. Lily yang melihat wajah merah Rose kembali mengganggu kakaknya itu.
"Kak, kapan merid?" tanya Lily lalu memasukkan sepotong roti ke dalam mulut.
"Masih lama, kakak kan masih mau melanjutkan kuliah." Rose melirik wajah Michael. Dia penasaran apa yang di pikirkan laki-laki itu ketika mendengar pertanyaan dari Lily.
"Setelah merid masih bisa kok melanjutkan kuliah." sahut Lily yang masih mengunyah makanan.
"Kakak kan masih muda, baru 18 tahun. Ngapain juga cepat-cepat menikah?" ujar Rose.
__ADS_1
Mama Daisy menatap wajah Michael, dia merasa tidak asing dengan wajah laki-laki yang duduk di samping putrinya.
"Nak Michael, maaf kalau Tante bertanya. Tapi Tante penasaran, siapa nama ayah kamu?"
"Carl Hoffmann, nama papa saya." jawab Michael sambil tersenyum.
"Oh, ternyata kamu anak dari Carl. Pantes tante mikir kok wajah nak Michael sepertinya pernah lihat di mana, ternyata mirip sama Carl."
"Tante kenal sama Papa saya?"
"Iya, kami dulu bertiga kuliah di jurusan yang sama. Sering berantem malah dulu ya, Pa." ucap Mama Daisy bernostalgia.
"Papa Hanz mengangguk, "Carl ternyata bisa menikah juga. Padahal dulu dia dingin banget di kampus, sampai-sampai semua cewek takut kalau lihat wajahnya yang galak itu."
"Hahaha... Papa nih, masa bicarain orang di depan anaknya sih!" tegur Mama Daisy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah gedung tua, Wilson berada di sana bersama dua orang wanita. Mereka melakukan olahraga yang menguras banyak tenaga dan keringat tapi terasa nikmat. Luna baru saja tiba di sana, dia masuk ke dalam gedung itu lalu berjalan ke ruangan yang di tempati oleh ke tiga orang tersebut.
Luna membuka pintu ruangan, dia melihat Wilson sedang dilayani oleh dua orang wanita secara bersamaan. Hatinya terasa hancur menjadi serpihan kecil, melihat Wilson yang terlihat asing di depannya.
Luna tidak menyangka jika Wilson akan melakukan hal seperti ini, dia lebih terkejut lagi karena mereka bermain bertiga. Wilson menatap ke arah Luna, dia tidak menghentikan aktifitasnya itu meskipun Luna sedang melihat mereka.
"Kenapa kau di sini?" tanya Wilson.
"Aku perlu uang." jawab Luna sejujurnya.
"Kau kira aku mesin ATM? Kau hanya tau meminta uang dan uang saja, dasar wanita tak berguna." bentak Wilson yang membuat Luna terperanjat.
Selama ini Luna selalu mengira jika Wilson hanya mencintainya saja. Dia tidak mengira jika di dalam hati laki-laki itu, dirinya sama sekali tidak berharga dan tidak berarti apa apa.
"Ternyata hubungan kita selama ini hanya sebatas teman tidur." benak Luna.
Wilson bangkit berdiri, dia mengambil sebuah kartu dari dompet yang berada di atas meja. Kartu itu dilemparkan ke wajah Luna. "Ambil kartu itu dan lakukan tugasmu!" ucap Wilson lalu kembali bermain dengan kedua wanita yang masih berada di atas ranjang.
__ADS_1
Luna memungut kartu yang terjatuh di bawah, dia menahan amarahnya. Dengan langkah kaki yang berat, wanita itu pergi dari sana.
Luna menelepon seseorang, setelah terdengar jawaban dari telepon, Luna memberikan perintah kepadanya. "Aku sudah mengirimkan foto seorang wanita. Bawa wanita itu ke hadapanku secepatnya!"
"Baik, Nona." jawab si penerima telepon.
Sementara itu, Rose baru saja membantu Mama Daisy membersihkan piring kotor. Mereka lalu duduk di ruang tamu untuk berbincang dengan Michael.
"Rose, kamu nggak kenalin Michael ke orang tua kandung kamu?" tanya Papa Hanz.
"Orang tua kandung? Apa maksudnya?" tanya Michael penasaran.
Rose menjelaskan semuanya kepada Michael, dia mengatakan kepada laki-laki itu jika orang tua kandungnya adalah Nyonya Erna dan Paman Teddy.
Mendengar kenyataan itu, hati Michael rasanya seperti tertusuk ribuan pisau. Dia menatap Rose dengan wajah dingin, tanpa berkata apa-apa, Michael langsung keluar dari rumah itu.
Michael masuk ke dalam mobil, dia melajukan mobilnya dengan sangat cepat tanpa arah tujuan.
"Kenapa? Kenapa kamu harus menjadi putri dari pembunuh itu?" gumam Michael dengan mata yang memerah.
Michael dulunya memiliki seorang kakak perempuan, Michelle Hoffman, nama dari Kakak Michael yang sudah meninggal. Ketika Michelle berusia 20 tahun, dia menyukai seorang laki-laki yang sudah memiliki istri.
Namun Michelle tidak ingin menyerah begitu saja, dia mencoba segala cara untuk mendapatkan cinta dari laki-laki itu. Hingga akhirnya Michelle memakai jalan yang tercela.
Michelle membuat laki-laki itu mabuk, mereka lalu melakukan hubungan suami istri di salah satu kamar hotel. Dari hubungan satu malam itu, Michelle ternyata hamil anak dari laki-laki tersebut.
Michelle meminta pertanggung jawaban, namun laki-laki itu menyanggah tuduhan dari Michelle. Dia tidak mengakui jika dirinya pernah melakukan hal seperti itu terhadap Michelle apalagi sampai menghamilinya.
Karena depresi, Michelle yang saat itu sedang hamil muda akhirnya memilih untuk bunuh diri. Dia naik ke atas gedung yang berlantai 20 tingkat, Michelle lalu melompat ke bawah. Dia meninggal saat itu juga tanpa sempat di bawa ke rumah sakit.
Setelah membaca diary Michelle, Michael dan keluarganya mengetahui penyebab Michelle bunuh diri. Orang tua Michael sangat sedih mengetahui penderitaan yang selama ini di simpan sendiri oleh putrinya. Namun mereka mengingat pesan terakhir dari Michelle di dalam diary.
"Tolong jangan melakukan apapun, jangan menyakiti laki-laki yang aku cintai. Ini permintaan terakhir dari putri Mama dan Papa yang tidak berguna."
Laki-laki yang di sebutkan di dalam diary itu adalah Paman Teddy, ayah kandung Rose. Sejak saat itu, Michael sangat membenci keluarga Yun. Karena dia menganggap penyebab kematian kakaknya adalah Paman Teddy.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^