
Rose memimpikan tahun-tahun yang dia lewati dengan siksaan dari Wilson yang tidak ada habisnya.
Wilson saat itu baru saja kehilangan klien besar, dengan kesal pria itu menghampiri tempat Rose di tahan. Rose ketakutan melihat Wilson yang masuk dengan membawa borgol dan rotan panjang berukuran setengah meter.
Rose duduk meringkuk di lantai, dia menundukkan wajah di atas lututnya yang tertekuk dengan lengan yang melingkar di kakinya. Rose sangat ketakutan hingga tubuhnya gemetaran.
Wilson terlihat puas saat manatap Rose yang di landa ketakutan, pria itu menarik satu lengan Rose dan menyeretnya hingga ke tengah ruangan.
"Berdiri!" perintah Wilson dengan senyuman iblis di wajahnya.
Rose menuruti perintah Wilson, dia berdiri ketakutan di depan pria yang pernah menjadi calon suaminya itu.
Wilson tersenyum puas, dia menarik lengan rose kemudian memasangkan borgol di lengan itu. Borgol yang lain ia lingkarkan di tiang yang terpasang di tengah ruangan.
Tiang itu memang sengaja di buat untuk mengatasi sikap keras Rose. Wilson yang posesif dengan wanita itu sudah berulang kali merantai Rose di sana. Berulang kali pula dia membuat kulit mulus Rose lebam kemerahan akibat penyiksaan yang dia lakukan.
"Berdirilah dengan satu kaki!" perintah Wilson.
Rose menuruti perintah Wilson, ia mengangkat kaki kirinya sementara kaki kanannya menapak di lantai yang dingin tanpa alas apapun.
"Angkat kedua tangan mu!" perintah Wilson lagi.
Rose kembali menuruti permintaan aneh Wilson, dia mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Srattt!"
Tiba-tiba saja Wilson melayangkan rotan panjang yang sejak tadi ia pegang.
"Awwwww!!!"
Rose merintih kesakitan, bukannya merasa kasihan, Wilson malah semakin puas mendengar suara rintihan yang keluar dari bibir indah Rose.
Pria itu kembali memukuli tubuh Rose berulang kali, Rose terus memohon kepada Wilson untuk menghentikan penyiksaan itu. Namun pria itu seperti kerasukan iblis, semakin Rose memohon, semakin senang pula hatinya.
Puas menyiksa fisik Rose, Wilson melepas borgol di tangan Rose. Tubuh wanita itu kemudian ia hempaskan ke ranjang yang ada di sudut ruangan.
Wilson membuka pakaian Rose, ia menjamah setiap bagian tubuh wanita itu. Mulai dari sentuhan tangan ,bibir, lidah dan terakhir Wilson juga memaksakan junior miliknya untuk memasuki tubuh Rose.
Entah sudah berapa kali Wilson melakukan penyiksaan ini terhadap Rose. Bertahun-tahun ia di kurung di ruangan gelap itu, tidak ada satu hari yang ia lewati tanpa tersiksa lahir maupun batin.
Jiwa dan raga Rose sudah lelah, sangat lelah hingga ia berharap untuk segera mati saja agar kehidupan sengsara yang ia alami segera berakhir.
Namun keinginan Rose untuk mati tidak sekuat imannya, dia takut dengan dosa yang harus ia emban jika harus mengambil nyawanya sendiri. Berkat iman kuatnya, Rose terus bertahan menghadapi semua siksaan dan hinaan dari Wilson dan Luna yang saat ini menjadi istrinya.
__ADS_1
Puas melepas hasrat bejadnya, Wilson menarik tubuh Rose yang ramping ke kamar mandi. Dia kembali memasang borgol di tangan wanita itu. Sementara Rose sudah tidak sadarkan diri setelah lama menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya yang rapuh.
Tangan Rose terbogol di tiang besi dalam kamar mandi, Wilson menyalakan kran air kemudian ia mengarahkan kepala shower ke arah tubuh wanita itu.
Air dingin yang keluar dari shower membuat perih luka-luka di tubuh Rose. Tubuhnya yang masih polos tanpa busana terasa sakit, perih, dingin hingga ke tulang-tulangnya.
Rose membuka matanya, rasa sakit dan dingin yang menusuk membuatnya terjaga. Wanita itu memohon dengan suara menggigil, ia terus memohon agar Wilson melepaskannya.
"Dingin... tolong lepaskan aku! Aku mohon lepaskan aku!
Tolong keluarkan aku dari sini!
Dingin...
Tolong aku...!
Aku mohon...!"
Wilson menyalakan sebatang rokok, ia duduk di kursi yang berada di samping ranjang. Seolah menikmati suara Rose yang memohon pertolongan, pria itu tersenyum sambil menghisap rokok yang ada di tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Rose!"
"Rose!!"
Michael mencoba membangunkan Rose dari mimpi buruknya, pria itu menepuk pelan bahu Rose sambil memanggil namanya.
"Tolong aku!"
Rose mengeluarkan suara rintihan kesakitan sambil terus meminta tolong. Matanya yang masih terpejam mulai mengeluarkan air mata, bukti kesedihan dan kesengsaraan yang ia alami di masa lalunya.
Michael panik melihat reaksi Rose yang semakin parah, dia meminta Gerry untuk memanggil dokter.
Beberapa menit kemudian dokter tiba di ruangan itu, dokter meminta agar Michael dan Gerry meninggalkan ruangan agar tidak mengganggu pekerjaan petugas medis.
Michael menunggu dengan perasaan cemas, dalam hati pria itu selalu memiliki banyak pertanyaan tentang Rose yang belum terjawab.
"Apa sebenarnya penyebab Rose selalu ketakutan? Siapa yang menyiksa wanita itu hingga jiwanya terluka seperti ini? Siapa...? Siapa sebenarnya orang itu? Aku akan membunuhnya! Aku pasti akan membunuh orang itu dengan tanganku sendiri!" ucap Michael dengan penuh amarah dalam hatinya.
Dokter keluar dari kamar pasien, Michael segera berdiri untuk menanyakan keadaan Rose.
"Pasien baik-baik saja, kami sudah memberi tambahan obat penenang kepada pasien agar dia bisa beristirahat." jawab dokter.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang terjadi pada Rose?" tanya Michael.
"Kami tidak menemukan penyakit pada pasien, tapi melihat kondisinya yang bermimpi buruk hingga panik, sepertinya pasien mengalami depresi yang berat. Saya sarankan untuk membawa pasien ke dokter psikiater." jawab Dokter.
Michael terdiam mendengar penjelasan dari dokter, ia semakin yakin jika Rose pernah mengalami penyiksaan.
"Ger, siapkan penerbangan jet pribadi besok pagi!" perintah Michael dengan wajah dingin.
"Baik Bos!" jawab Gerry.
"Waduhhh... Bos jadi makin seram aja sejak tiba di kota H." benak Gerry.
Michael kembali ke sisi Rose, dia sangat penasaran dengan kehidupan wanita itu.
"Apa yang menyebabkan wanita ini begitu kesakitan? Apa yang membuat ia ketakutan? Siapa orang yang terus ia mimpikan hingga membuatnya tidak bisa tidur nyenyak?"
Michael menghubungi Dokter Frans, ia meminta dokter muda itu untuk menyediakan waktu besok siang. Dokter Frans menyetujui pertemuan mereka besok siang karena ia juga tidak memiliki jadwal lain di waktu yang telah ditentukan oleh Michael.
"Tok Tok Tok!"
Gerry mengetuk pelan pintu kamar, ia masuk dengan membawa koper yang baru saja dia jemput dari hotel Angkasa.
"Bos, ini barang-barang Nona Rose." ucap Gerry sambil meletakkan koper dan beberapa tas belanjaan di sudut kamar.
"Bagaimana dengan jet pribadi?" tanya Michael.
"Semua sudah di siapkan bos!" jawab Gerry.
Gerry keluar dari kamar agar tidak mengganggu Michael ,dia menutup perlahan pintu kamar kemudian duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar.
"Besok masih ada dua rapat penting! Sampai kapan bos akan mengabaikan pekerjaannya?" keluh Gerry.
Michael membuka koper bawaan Rose, ia mencari sesuatu di dalamnya.
"Srekk Srekk Srekk!"
Pakaian yang tersusun rapi kini menjadi berantakan karena tangan pria yang sedang mengaduk-aduknya.
Tangan Michael berhenti mengaduk saat ia menemukan barang yang di carinya di sudut bawah koper.
Buku diary milik Rose lah yang ia cari-cari sejak tadi. Michael membawa buku itu bersamanya, ia duduk di samping tempat tidur Rose.
Michael membuka buku diary Rose, baru beberapa menit ia terdiam fokus, kini mata Michael terlihat sangat terkejut dengan isi buku itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin...!" ucap Michael dengan mata terbelalak.
^^^BERSAMBUNG...^^^