
"Saya kurang tau, sebentar saya tanyakan kepada petugas yang berjaga hari ini!" jawab pria berseragam itu.
Beberapa saat kemudian pria berseragam itu kembali, dia berkata, "Nona Rose baru saja keluar bersama temannya, tadi dia bilang mau makan dulu nanti baru balik lagi untuk mengambil laporan pengaduan."
Michael mengerutkan alisnya, dalam hati dia bertanya, "Rose, di mana kamu sekarang?"
Tanpa mengucapkan terima kasih, pria itu langsung berlari keluar dan mengemudikan mobilnya. Dia meninggalkan Gerry yang saat ini sedang meminta maaf kepada pria berseragam polisi itu.
"Pak, Tolong maafkan sikap Bos saya yang tidak sopan. Beliau sedang cemas karena calon istrinya menghilang sejak tadi. Sekali lagi, saya mohon maaf ya Pak!" ucap Gerry sambil memberi hormat.
Gerry mengerti jika Bos nya sangat khawatir karena Rose baru saja di ikuti oleh preman preman yang hendak menculiknya.
Gerry mengetahui lokasi Rose berkat daftar telepon yang dihubungi oleh wanita itu. Karena itu juga Michael menjadi panik sebab nomor yang di hubungi oleh Rose adalah panggilan darurat untuk meminta bantuan polisi.
Michael semakin panik setelah menuju ke tempat lokasi yang sebelumnya di datangi oleh Rose, dia melihat rekaman CCTV yang merekam kejadian saat preman itu mendesak Rose untuk membuka pintu. Apalagi ketika besi panjang itu di hantam ke jendela kaca, jantung Michael rasanya berhenti sesaat melihat adegan mengerikan yang terekam dengan sangat jelas itu.
Michael melajukan mobilnya perlahan sambil melihat ke arah kanan dan kiri jalan. Dia terus mencari hingga akhirnya melihat Rose yang sedang tersenyum di depan pria lain.
Michael begitu marah melihat senyuman itu di tujukan untuk pria lain selain dirinya. Apalagi saat ini mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kencan dan menikmati makan malam bersama.
Amarahnya pun memuncak, ditambah dengan kegelisahan hatinya yang sejak tadi mencari keberadaan pujaan hati. Tanpa sadar, pria itu bersikap kasar di depan Rose meskipun sesungguhnya dia tidak menginginkan hal ini terjadi.
Ketika Michael mengantar Rose pulang, pria itu memilih untuk pergi bukan karena dia marah, dia hanya takut. Takut dirinya tidak bisa mengontrol emosi, takut dirinya akan membuat Rose menjadi ilfeel terhadapnya karena sikap kasarnya yang tidak bisa dia kendalikan.
Michael kembali ke kantor polisi untuk menjemput Gerry, di sana dia meminta laporan lengkap milik Rose dari polisi yang bertugas.
"Ger, cari informasi dari ketiga pria ini! Aku akan membunuh mereka!" ucapnya dengan penuh kebencian dan dendam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Melalui jendela kaca, Luna melihat Rose berjalan masuk ke dalam kelas. Dengan sengaja, wanita itu melempar kaleng minuman yang ada di mejanya ke arah pintu.
"Awwwww!" rintih Rose sambil memegang keningnya yang dicium oleh kaleng minuman.
"Siapa yang lempar?" tanya James dengan nada tinggi.
Beberapa mata menatap ke arah pelaku, meski tidak mengucapkan nama, Rose dan James langsung mengerti siapa yang di maksud oleh teman-teman sekelas mereka.
Rose mengambil kaleng minuman yang terjatuh di lantai, dia berjalan ke tempat duduk Luna lalu "Plokkk!"
__ADS_1
"Hey!" jerit Luna sambil memegangi keningnya yang terasa sakit.
"Sampah tuh cocoknya di tempat sampah!" ucap Rose sambil berlalu.
Dalam hati Luna berkata, "Suatu hari nanti akan ku injak-injak wanita ini hingga ayah dan ibunya tidak bisa mengenali dirinya!"
Rose duduk di samping James, di depannya ada seorang gadis muda yang bernama Silvy, gadis itu berbalik lalu mengacungkan dua jari jempol ke arah Rose.
"Aku nggak nyangka kamu bakal nimpuk kaleng itu langsung di kepalanya si Luna. Mantap banget Rose! Hehehe...!" ucap Silvy yang pernah menjadi korban bully Luna.
"Kalau aku masih Rose yang dulu, pasti aku bakal diam aja dan nggak melakukan apa apa. Tapi karena aku pernah terlahir kembali, aku akan membalas semua perbuatan Luna sekecil apapun itu!" pikir Rose.
Rose kembali menatap layar ponsel, dia kembali membalas chat dari Michael yang memakai nama Prince tanpa sepengetahuannya.
Rose : Udah ku belah, dan ternyata isinya ulat semua🤣
Prince : Tega ya kamu ngatain hati ku isinya ulat semua. Aku nangis nih!!
Rose : Nangis ajah, nanti aku kirimin permen 🍬🍬🍬
Prince : Jangan permen...!
Prince : Kamu! Kirimin kamu aja ke sisiku!
Rose : Buaya!
Michael tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Gerry tentu saja mengetahui kenapa bos nya itu tersenyum namun tidak dengan karyawan yang lain. Beberapa dari mereka merasa heran dengan sikap bos sombong yang biasanya selalu memasang wajah dingin, kini tersenyum sambil menatap layar ponsel.
"Bisa senyum juga ya Bos kita!" ketik salah satu karyawan ke dalam grup chat yang mereka buat untuk memaki Michael di kala pria itu marah-marah kepada karyawannya.
"Baru kali ini aku lihat senyuman Bos! OMG... Manis banget senyumnya!"
"Lagi jatuh cinta kali si Bos!"
"Wah bentar lagi ada Nyonya Bos! Semoga nggak jutek dan sombong kayak Bos kita!"
"Nggak mungkin lah, palingan juga sama arogannya baru bisa jadi pasangan!"
"Astaga!! Bisa mati darah tinggi kita kalau dapat Nyonya Bos yang arogan juga!"
__ADS_1
"Stttt... Gue mau bikin kontes, siapa yang dapat foto terbaik edisi senyuman Bos ntar gue beliin sarapan selama sebulan full!"
"Cuss... Nyolong foto Bos!"
"Aku juga ikutan!"
"Awas loe pada di pecat nanti kalau ketahuan!"
"Ya biarlah, hati Bos kan lagi berbunga-bunga. Paling juga cuma kena maki sepatah dua kata!"
Dan semua karyawan yang ada di sana pun mulai sesi pemotretan si Bos yang masih sibuk menatap layar ponsel.
Pada malam harinya Rose pergi ke minimarket tempat Junaidy bekerja, dia pergi ke sana untuk membeli makanan ringan sekalian menemui pria penyelamatnya.
"Selamat datang, selamat berbelanja!" sapa wanita yang menjadi Kasir saat Rose baru saja masuk.
Rose mencari-cari keberadaan Junaidy, namun pria itu tidak kelihatan. Akhirnya ia bertanya kepada kasir, "Mbak, Junaidy nya ada?"
"Oh, dia nggak kerja di sini lagi Mbak!" jawab Mbak Kasir.
"Kenapa? Sejak kapan dia berhenti?" tanya Rose.
"Dia memang bukan pekerja tetap di sini, cuma kadang-kadang aja ke sini bantuin susun barang kalau pas masuk barang Mbak."
"Ooo gitu...! Terima kasih ya Mbak untuk infonya." ucap Rose, ia lalu memilih makanan ringan dan mengambil sebotol cola dari dalam kulkas transparan yang ada di sudut ruangan.
Setelah membayar, Rose memesan taxi online untuk kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, dia mencari nomor ponsel Junaidy yang sempat dia foto saat memberi laporan sebagai saksi di kantor polisi.
"Ini dia!" ujarnya ketika melihat nomor ponsel Junaidy di salah satu lembar foto.
Rose menekan nomor ponsel Junaidy, setelah beberapa kali berbunyi, terdengar suara jawaban dari sana.
"Hallo!"
"Hallo, apa benar ini Junaidy?" tanya Rose memastikan.
"Ya, saya Junaidy. Maaf, anda siapa?" tanyanya dengan nada dingin.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1