
"Hai, kenalkan aku calon suami Rose. Namaku Michael dan saat ini berusia 25 tahun." ucap Michael dengan semangat.
"Apa kamu sudah gila?" ucap Rose dengan kesal.
Pria ini bukannya bantu menjelaskan malah menambah minyak di atas bara api.
Rose bertambah kesal saat Lily meladeni kegilaan Michael, mereka ngobrol dengan begitu dekat. Bertanya ini itu dan pertanyaan terakhir dari Lily membuat Rose terbatuk-batuk.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Lily dengan antusias.
"Uhukkk....! Uhukkk...!"
"Segera" jawab Michael tanpa berpikir.
"Dasar gila!" maki Rose.
"Ya, aku tergila-gila pada mu." balas Michael dengan senyum mematikan.
Lily ikut bahagia melihat kedekatan Rose dan Michael, sudah lama dia menginginkan seorang kakak ipar karena mereka hanya tinggal berdua di mansion luas itu.
"Kakak Ipar, kamu harus segera melamar Kak Rose jika tidak ingin dia di rebut." ucap Lily.
"Apa maksud mu? Apakah banyak pria yang mengejar Rose?" tanya Michael.
Lily mengangguk, "Bukan hanya itu, Papa akan menjodohkan Kak Rose kepada anak dari Paman Aldo."
"What?? Perjodohan?" tanya Rose tak percaya.
Lily kembali mengangguk, "Yes, mom bilang Kak Rose sangat pendiam pasti akan sulit mendapat jodoh. Jadi Mom and Dad akan segera mempertemukan Kak Rose dengan anak laki-laki dari Paman Aldo.
Michael terlihat tidak senang dengan berita itu. Dia melingkarkan tangannya ke pundak Rose dan berkata, "Aku akan melamar Rose hari ini juga. Ayo ikut aku ke Amerika!"
"Ck Ck Ck... Buat iri aja" ucap Lily sambil mendecak.
"Aku nggak pernah bilang mau nikah sama kamu!" jawab Rose dengan wajah jutek.
"Tapi aku hanya mau nikah sama kamu." ucap Michael kemudian dengan cepat mengecup pipi Rose.
"Blush" wajah Rose merona.
"Ka....ka... kamu!" Rose kesal pada Michael karena mencium nya di depan Lily.
Lily menutup kedua mata dengan tangannya kemudian keluar setelah berkata, "Aku tidak melihat apa-apa. Silahkan di lanjutkan Kakak Ipar. Kalau bisa segera punya dedek bayi lebih bagus."
"Blammm!" Lily menutup pintu kamar.
"Deg Deg Deg!" jantung Rose berdebar kencang. Pipinya bahkan sudah semerah buah tomat matang.
Michael menjulurkan lidahnya dan menjilat daun telinga Rose.
"Arghhh..." Rose mendesah karena geli.
"Awas kamu! Jangan macam-macam!" ucap Rose dengan nada kesal namun pipinya semakin memerah.
"Hahaha..." Michael tertawa lucu melihat wajah Rose yang malu-malu mau.
Michael memeluk erat tubuh Rose, "Menikahlah dengan ku..." bisik Michael dengan suara pelan.
"Maaf, aku belum mau nikah. Dan juga kita tidak saling kenal." jawab Rose dengan nada datar.
__ADS_1
"Bukan kah kita sudah cukup dekat? Kita bahkan pernah makan, mandi dan tidur bersama." sanggah Michael.
"Mandi??" gumam Rose.
Michael mengangguk, "Ya kita pernah mandi bersama di apartemen ku malam itu."
"Ka... ka... kamu lihat semua badan ku?" tanya Rose terbatah.
Michael tersenyum genit dan menjawab, "Ya, semuanya, dari atas hingga ke bawah sudah aku lihat."
"Akhh... malu nya!!!" gumam Rose sambil membenamkan wajahnya ke bantal.
Michael tersenyum geli, dia merasa senang hubungan mereka sudah bertambah dekat. Rose tidak lagi takut pada nya.
"Mau mandi bareng?" goda Michael.
"Ck... keluar gih!" ucap Rose kesal.
"Kenapa telinga mu menjadi merah gitu?" goda Michael lagi.
"Kamu, keluar sana! Aku malu..." ucap Rose yang masih membenamkan wajahnya di bantal.
"Nggak usah malu, cepat atau lambat aku tetap akan melihatnya." bisik Michael.
Rose merasa geli saat hembusan napas Michael masuk ke liang telinganya. Bulu di sekujur tubuhnya merinding, dia mengangkat wajah kemudian menatap Michael.
"Kamu, sejak kapan suka sama aku?" tanya Rose.
"Entah lah, mungkin sejak pertama kali kita bertemu." jawab Michael.
"Tapi aku nggak suka sama kamu." ucap Rose dengan nada dingin.
"Aku akan menunggu sampai kamu bersedia menjadi istri ku." jawab Michael dengan nada sedih.
"Bagaimana kalau itu tidak mungkin terjadi?" tanya Rose.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." jawab Michael dengan yakin.
"Makasih... udah suka sama aku." ucap Rose.
"Makasih udah suka sama aku yang kotor dan hina ini." batin Rose.
Michael membantu Rose mencuci wajah dan menyikat gigi. Rose merasa malu namun dia tidak menolak perlakuan lembut dari Michael.
Rose sedang berganti pakaian di kamar, Michael menunggu Rose dia ruang tamu.
Lily menghampiri Michael dan bertanya dengan nada tegas, "Kakak Ipar, benarkah kamu akan melamar Kak Rose hari ini?"
"Aku mau nya seperti itu, tapi Rose tidak mengizinkan. Aku akan menunggu sampai Rose menyetujui nya." jawab Michael.
"Hmm... kenapa ya Kak Rose nolak cowok setampan Kakak Ipar?" gumam Lily.
"Mungkin aku belum cukup baik untuk nya." jawab Michael dengan nada serius.
"Kakak Ipar, gimana kalau Kakak Ipar lamar aku ajah?" ucap Lily dengan mata berbinar.
"Ehem... Ehem...!" Rose berdehem mendengar pertanyaan Lily.
"He he he... Lily cuma bercanda, jangan marah Kak Rose. Nih Lily bawain kesukaan Kak Rose." Lily menyerahkan sekotak permen warna warni kepada Rose.
__ADS_1
Rose tampak panik, dia segera melempar permen ke sembarang arah. Michael dan Lily terkejut melihat perbuatan Rose yang di nilai tidak wajar.
Terutama Lily, dia sangat ingat jika Rose menyukai permen pelangi itu. Namun saat ini Rose tampak ketakutan melihat permen yang telah berserakan di atas lantai.
Michael mendekat dan segera memeluk tubuh Rose yang mulai gemetaran, "Jangan takut, ada aku di sini." ucap Michael sambil membelai rambut panjang nya.
"Singkirkan permen itu dari sini!" perintah Michael kepada Lily.
Lily segera melakukan perintah Michael tanpa bertanya. Dia mengutip semua permen dan membuang permen itu ke dalam tong sampah yang berada di luar mansion.
"Tenangkan diri mu, semua nya akan baik-baik saja." ucap Michael dengan suara rendah.
Michael menelepon Gerry untuk membatalkan jadwal nya hari ini, dia akan membawa Rose ke klinik Dokter Frans. Michael berharap Dokter Frans dapat membantu Rose untuk menyembuhkan penyakit cemas nya.
Michael menceritakan kejadian yang baru saja terjadi pada Dokter Frans, Rose hanya diam tanpa ekspresi di wajahnya.
"Nona Rose, apakah saya boleh bicara berdua saja dengan anda?" tanya Dokter Frans.
Rose mengangguk, "Ya"
Michael keluar dari ruangan setelah berkata pada Rose. "Jangan takut, aku akan menunggu mu di luar."
Rose kembali mengangguk, perlahan dia melepaskan lengan Michael yang di genggamnya sejak tadi.
"Nona Rose, apakah anda punya masa lalu buruk yang berhubungan dengan permen pelangi?" tanya Dokter Frans.
"Ya, dulu saya pernah punya pengalaman buruk dengan permen itu." jawab Rose.
Dokter Frans pindah duduk di depan Rose, "Apakah anda bersedia menceritakan nya?"
"Saya... saya..." Rose terlihat sulit melanjutkan kata-kata nya.
"Jangan di paksakan, pelan-pelan saja. Cara terbaik adalah menyampaikan cerita anda dengan menulis nya di buku. Nona Rose bisa mencoba nya jika bersedia." ucap Dokter Frans.
"Menulis?" gumam Rose.
"Ya, tulis cerita anda di sebuah buku. Seperti menulis buku diary. Menulis akan lebih mudah dari pada bercerita." jelas Dokter Frans.
"Saya akan mencoba nya." jawab Rose sambil mengangguk.
Konsultasi berakhir. Rose keluar dari ruangan bersama Dokter Frans, Michael segera menghampiri mereka.
Dokter Frans menggelengkan kepala saat Michael menatapnya. Michael mengerti apa yang hendak di sampaikan oleh Dokter Frans, "Rose tidak menceritakan apapun padanya".
Michael membawa Rose ke mobil, dia memasangkan sabuk pengaman untuk Rose.
"Kamu lapar nggak?" tanya Michael memecah keheningan.
Rose mengangguk pelan, "Ya, lapar banget." jawab Rose.
Michael tersenyum kemudian bertanya lagi, "Mau makan apa?"
"Makanan enak." jawab Rose dengan cepat.
"Pfff...." Michael menahan tawanya.
"Bagus lah dia sudah normal kembali." benak Michael.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1