Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 35


__ADS_3

Kamar Rumah Sakit


"Baterai handphone nya lowbat Ma, Papa malah nggak sempat hafal nomornya." ucap Paman Teddy.


"Ya udah, di charge aja dulu Pa." jawab Nyonya Erna.


"Tok Tok Tok!"


Seorang suster masuk membawa beragam peralatan medis.


"Maaf Bu, saya harus mengambil darah pasien untuk di periksa lebih lanjut." izin suster kepada Nyonya Erna.


"Ya, silahkan sus." jawab Nyonya Erna yang bergeser sedikit ke samping agar tidak menghalangi pekerjaan suster.


"Sebelumnya, apakah pasien ada muntah-muntah Bu?" tanya suster setelah selesai mengambil sampel darah.


"Sepertinya nggak ada, Rose baik-baik saja tadi. Tapi saya lihat makannya sedikit aja waktu di pesawat." jawab Nyonya Erna.


"Kalau begitu saya permisi dulu, kita tunggu aja hasil lab nya ya." ucap suster sebelum keluar dari kamar.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan coba beberapa saat lagi!"


Paman Teddy kembali mencoba menghubungi Michael setelah ponsel Rose berhasil di hidupkan kembali. Namun nomor itu tidak bisa di hubungi karena ponselnya tidak aktif.


Paman Teddy melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, dia harus segera pergi karena ada janji meeting dengan klien namun hatinya tidak tenang membiarkan Rose sendirian di rumah sakit.


"Pa, biar mama aja yang temani Rose disini. Papa berangkat aja ke tempat meeting yah!" ucap Nyonya Erna seolah mengetahui isi hati suaminya.


"Papa nggak enak kalau harus tinggalin mama dan Rose di sini." jawab Paman Teddy.


"Nggak apa apa kok Pa, di sini banyak dokter dan suster. Aman kok di sini!" bujuk Nyonya Erna.


Dengan berat hati, Paman Teddy berangkat bersama supir dan Ivan ke tempat pertemuan.


Sementara itu Michael baru saja tiba di kota H, dia meminta Gerry untuk mencari tau di mana lokasi Rose saat ini.

__ADS_1


"Tuan muda, Nona Rose di jemput dengan ambulance ke rumah sakit Medicale beberapa jam yang lalu." lapor Gerry setelah memeriksa lokasi Rose.


"Kita akan ke sana sekarang juga!" ucap Michael.


Mobil segera meluncur menuju rumah sakit Medicale, Michael terus mencoba menghubungi nomor ponsel Rose namun ponsel yang tadi di charge oleh Paman Teddy sudah di matikan volumenya sebelum beliau pergi sehingga tidak ada yang menjawab panggilan telepon dari Michael.


Perlu waktu satu jam untuk sampai ke rumah sakit Medicale, Michael yang di penuhi rasa cemas berkali-kali melihat jam tangan yang terpasang di lengan kirinya.


Sesekali ia menatap ke luar jendela, jalanan yang padat membuat laju mobil semakin lambat. Padahal hanya tinggal 2 km untuk mencapai rumah sakit Medicale, namun sudah tiga puluh menit berlalu dan mobil Michael masih terjebak di jalanan yang sesak.


"Sial!" maki Michael geram saat melihat lalu lintas yang padat.


Michael membuka pintu mobil yang berhenti karena kemacetan lalu lintas, ia berlari menuju ke rumah sakit Medicale dengan kecepatan maksimal. Gerry yang melihat tindakan berbahaya bos nya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


Sampai di rumah sakit, Michael langsung menuju ke pusat informasi.


"Di mana kamar pasien bernama Rose?" tanya Michael dengan nafas ngos-ngosan.


"Sebentar ya Pak, biar saya periksa dulu." jawab petugas yang melayani di pusat informasi.


"Maaf menunggu lama, kamar pasien bernama Rose ada di lantai 3, nomor kamarnya 308." ucap petugas itu.


"Terima kasih!" ucap Michael yang kembali berlari menuju ke kamar tempat Rose di rawat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nyonya Erna turun ke lantai 1 rumah sakit untuk membeli makanan dan minuman. Saat akan kembali ke kamar Rose, Nyonya Erna melihat pertengkaran suami istri di lorong rumah sakit.


Sang suami mencurigai jika anak yang baru di lahirkan oleh istrinya itu bukanlah anak kandungnya. Sang suami ingin melakukan test DNA untuk membuktikan kecurigaannya.


Sementara sang istri menolak test itu dengan tegas, keduanya tidak ada yang mau mengalah meskipun banyak orang yang lalu lalang melihat pertengkaran mereka.


Seketika muncul rasa penasaran di hati Nyonya Erna. Berkali-kali suami dan mertuanya berkata jika wajah Rose sangat mirip dengan wajah Nyonya Erna. Bahkan beliau sendiri merasa jika Rose memang sangat mirip dengan fotonya ketika beliau masih muda.


"Mungkinkah Rose adalah putriku yang hilang? Apakah aku boleh melakukan test DNA untuk memastikannya?" tanya Nyonya Erna dalam hati.

__ADS_1


"Tidak, tidak boleh. Aku akan lebih kecewa lagi jika ternyata aku salah. Lebih baik seperti ini saja, aku sudah merasa puas dengan keberadaan Rose yang sekarang ada di sampingku." jawab Nyonya Erna dalam hati setelah banyak pertimbangan.


Nyonya Erna terus memikirkan hal itu berulang ulang, tanpa sadar kakinya sudah melangkah hingga tiba di depan pintu kamar Rose. Dia menatap lurus ke depan, di lihatnya Michael yang sedang terburu-buru mencari kamar seseorang.


Michael terus mengulang kata yang sama selama ia melihat satu persatu nomor yang tertera di pintu kamar rawat inap.


"308, 308, 308."


"308, 308, 308."


Nyonya Erna mendengar angka 308 yang di sebut oleh Michael, beliau pun akhirnya bertanya kepada pemuda yang sedang ngos-ngosan itu, "Maaf, apakah anda kenal dengan Rose?"


Michael berhenti melangkah, ia menatap Nyonya Erna yang berjarak 2 meter darinya.


"Rose ada di kamar ini!" ucap Nyonya Erna tanpa menunggu jawaban dari Michael.


"Tap Tap Tap..."


Michael kembali berlari, saking buru-buru nya, ia menabrak tubuh Nyonya Erna yang berdiri di depan pintu kamar.


"Rose...!" panggilnya saat melihat Rose berbaring di ranjang rumah sakit.


Michael mendekati ranjang, ia berlutut di depan Rose yang masih tertidur. Kedua tangan Michael mengenggam tangan Rose, dia mengecup dan membenamkan keningnya di sana.


"Syukurlah kamu baik baik saja Rose. Kamu tidak tau betapa hancurnya hati ku saat mendengar kabar itu!" ucap Michael sambil memejamkan matanya.


Nyonya Erna tidak ingin mengganggu kedua muda mudi itu, dia menutup pintu kemudian duduk di kursi panjang yang ada di luar kamar.


Michael terus berlutut di sana hingga malam pun datang. Pemuda itu belum makan dan minum apapun sejak pagi hari. Dia terlihat sangat kacau dengan pakaian dan rambut yang berantakan setelah berlari sejauh 2 km.


"Tok Tok Tok!"


Nyonya Erna mengetuk pintu kamar sebelum beliau masuk ke kamar Rose. Saat itu Paman Teddy baru saja menelepon karena hendak memastikan keadaan Rose dan istrinya di rumah sakit.


Michael masih diam tak bergerak, dia masih berlutut di depan ranjang sambil menggenggam telapak tangan Rose. Melihat hal itu, Nyonya Erna sangat yakin jika Michael adalah pria yang baik dan tulus terhadap Rose.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2