Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Part 10: Tawaran Aldo


__ADS_3

Mereka berjalan keluar kantor dan akan menuju halte busway. Raisa melihat di trotoar ada tukang otak-otak ikan kesukaannya.


" Lin, beli otak-otak dulu ya. Perutku lapar." kata Raisa ya menunjukan jarinya ke arah tukang otak-otak.


" Iya sama, " jawab Lina.


Saat akan berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba ada motor yang berhenti mendadak.


" Ah, " reflek Lina dan Raisa pun berteriak, karena hampir saja mereka tertabrak.


" Mas naik motor gak bisa pelan? Ini masih area kantor. " omel Lina pada orang yang masih duduk di motornya.


Laki-laki itu pun membuka helmnya, " Raisa." lirihnya saat melihat Raisa di hadapannya.


" Kamu.." ucap Raisa yang langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Dia sangat terkejut kalau laki-laki yang di hadapannya adalah Aldo.


" Siapa Sa?" tanya Lina yang menyenggol lengan Raisa.


Lina belum mengenal Aldo, walaupun Lina juga tinggal daerah tempat rumah Faisal.


" Oh itu..." jawab Raisa gugup yang melirik ke arah Aldo. Raisa memberi kode dengan menolehkan kepalanya berulang-ulang ke arah kanan pada Aldo untuk segera pergi.


Aldo pun mengerti, dan dia langsung memakai lagi helmnya dan pergi meninggalkan Raisa.


" Ih sombong banget, bukannya minta maaf." kata Lina dengan mencebikkan bibirnya.


" Udah Lin, gak usah di perpanjang. Ayo kita beli otak-otak." kata Raisa yang menarik tangan Lina.


Dari kejauhan Aldo memperhatikan Raisa yang berjalan menghampiri tukang otak-otak.


" Kau bekerja di sana? " batinnya sambil menatap Raisa.


Mereka naik busway, dan berdiri dengan berdesakan. Karena memang jadwal jam pulang kantor berbarengan dengan karyawan lain.


****


" Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Faisal yang sudah pulang.


" Hari ini aku hanya membersihkan gudang." kata Raisa.


" Tidak capek kan?" kata Faisal khawatir.


" Tidak, hanya membersihkan debu pakai kemoceng." kata Raisa.


" Apakah banyak pegawai pria di sana?" tanya Faisal yang cemas dengan kecemburuannya.


" Lumayan, " jawab Raisa yang sudah duduk di tempat tidur.


" Apakah mereka menggodamu?" tanya Faisal yang penasaran.


" Seperti nya tidak, karena aku belum mengenal mereka." kata Raisa dengan jawaban yang polos.


" Apa?" tanya Faisal.


" Kenapa kau jadi curiga seperti itu padaku?" kata Raisa yang mulai kesal pada Faisal karena terlalu banyak bertanya, di tambah curiga.

__ADS_1


" Tidak, hanya saja aku takut kalau kau tergoda oleh laki-laki lain." ujar Faisal yang duduk di hadapan Raisa.


" Jadi kau tidak percaya pada ku?" kesal Raisa yang terus saja di curigai.


" Tidak, ya sudah sebaiknya kita tidur." ajak Faisal.


Lalu mereka beranjak tidur dan menikmati mimpi indah.


****


Pagi menjelang, Raisa harus bangun lebih awal karena harus sampai di kantor jam tujuh pagi.


Sedangkan Faisal baru pulang dari mengantar koran pada pukul delapan pagi.


Raisa memutuskan untuk diantar oleh Faisal hanya sampai halte busway. Karena perjalanan mereka tak searah.


Setelah melakukan kewajiban sebagai seorang muslim, dan menyiapkan sarapan untuk suaminya, mereka pun berangkat bersama.


Raisa tidak akan lagi mendengar cuitan yang tidak jelas dari iparnya.


Aldo terlihat di belakang Raisa yang sedang di bonceng oleh Faisal. Dia melajukan motornya dengan perlahan, mengikuti Raisa.


Raisa pun sampai di trotoar tempat pemberhentian untuk halte busway. Dia pun mencium tangan suaminya yang ingin mengantar koran.


Selepas kepergian Faisal, saat Raisa ingin berbalik menuju arah halte tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.


" Raisa.." terdengar jelas di telinga Raisa.


Seperti nya dia mengenali suara itu, namun bukan suara suaminya yang memanggil. Kemudian dia menoleh ke arah belakang.


" Aldo, panggil aku Aldo jangan kamu terus." kata Aldo.


" Ada urusan apa kamu memanggil ku?" ketus Raisa.


" Karena aku mengenalmu, ya wajar saja aku panggil." goda Aldo.


" Aku tidak punya waktu untuk berbincang, nanti bisa terlambat masuk kantor." kata Raisa dengan nada angkuh.


" Oh jadi pegawai kantor sekarang?" tanya Aldo.


Raisa menggaruk-garuk kepalanya, dalam hatinya terus bertanya kenapa pemuda di hadapannya selalu mengganggunya.


" Bukan urusanmu." Lalu Raisa berbalik, namun tangan nya di cegah oleh Aldo.


" Aku antar." kata Aldo menawarkan tumpangan.


" Tidak perlu, aku bisa naik busway. Dan jangan pernah mengganggu ku lagi." kecam Raisa yang ingin melepaskan tangan Aldo.


Namun Aldo memegang dengan erat, " Kita satu arah, dan akan lebih cepat jika aku bonceng dengan motor." kata Aldo yang memberikan helm capung berwarna coklat tua.


"Benar juga ya, aku akan lebih cepat sampai. Dan tidak usah lelah berdiri untuk dapat tempat duduk di busway." batin Raisa yang melirik ke arah helm yang di berikan oleh Aldo.


" Bagaimana?" rayu Aldo.


" Baiklah, aku terima. Tapi besok jangan lagi-lagi menguntit ku." gerutu Raisa.

__ADS_1


Kemudian Raisa memakai helm yang di berikan oleh Aldo. Saat akan mengancingkan nya dia begitu sulit, karena ukurannya terlalu sempit.


" Aduh susah banget, " kata Raisa.


Lalu Aldo berbalik menghadap Raisa, dan mengendurkan tali helmnya lalu mengancingkan nya, " Cantik..." batin Aldo saat menatap wajah Raisa yang sedang mendongakkan kepalanya.


" Jangan menatapku seperti itu." kata Raisa yang merasa kalau Aldo sedang menatapnya.


" Kalau aku tidak melihat mu, bagaimana aku akan mengancingkan helm ini." kata Aldo mencari alasan.


" Whatever.." ketus Raisa sambil memutar kedua bola matanya.


Lalu Aldo berbalik dan menghidupkan mesin motor, dan melajukannya.


Aldo dengan sengaja mempercepat laju motor nya, agar Raisa memeluk nya dari belakang.


" Hey, apa kau tidak bisa pelan-pelan bawa motor nya?" teriak Raisa di telinga Aldo.


Aldo tidak memperdulikan teriakan Raisa, dia tetap mempertahankan kecepatan motor nya.


Dengan reflek akhirnya Raisa memeluk tubuh Aldo dengan erat.


Selang beberapa menit mereka sampai di halaman kantor.


" Huft, cukup kali ini saja aku di bonceng oleh mu." ucap Raisa mendengus sebal dan langsung turun dari motor Aldo.


" Raisa.." panggil Aldo.


" Ada apalagi?" kesal Raisa yang membalikkan badannya.


" Helmku."


Raisa pun menghampiri Aldo, dan mendongakkan kepalanya.


Aldo membukakan kancing helm, dan mengambil nya dari kepala Raisa.


Terlihat raut kekesalan pada wajah Raisa, dan membuat Aldo semakin gemas padanya.


Dan Aldo menyunggingkan senyumnya melepaskan kepergian Raisa menuju kantor.


Raisa begitu kesal karena di kerjai oleh pemuda tanggung yang selalu menguntit nya.


" Kamu kenapa Sa?" tanya Lina yang sudah tiba lebih dahulu.


Sebenarnya Raisa yang seharusnya sampai terlebih dahulu. Hanya saja Aldo mengajaknya memutari pusat kota, agar lebih lama bersama Raisa.


" Enggak apa-apa." kata Raisa yang menutupi kekesalan nya.


" Ya sudah, kamu disuruh membersihkan ruang lantai 17." kata Lina.


" Ruangan siapa?" tanya Raisa.


" Sepertinya ruangan CEO, dan kamu harus berhati-hati ya membersihkan nya." pesan Lina.


" Oke." jawab Raisa.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya.


__ADS_2