Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 70


__ADS_3

Raisa berjalan menyusuri lorong sekolah, dan mengikuti petunjuk dari satpam.


Sesampainya di sekolah, dia berhenti di depan pintu dan tangan nya mengetuk pintu kantor.


" Tok, tok, tok..." Raisa menunggu Jawaban dari dalam kantor.


" Silakan masuk!" jawaban yang terdengar dari dalam kantor.


Raisa membuka pintu kantor, " Permisi.." sapa Raisa sambil membuka kenop pintu.


" Iya silahkan ma-" ucapan seseorang yang menyambut kedatangan Raisa terhenti, " Raisa." lirihnya sambil memandang Raisa yang berdiri di hadapannya.


" Reni..." sapa Raisa, yang melihat mantan adik iparnya. Raisa sangat malas sebenarnya, jika harus bertemu dengan keluarga Faisal.


" Ada perlu apa, kau kesini?" tanya Reni dengan wajah juteknya.


" Aku mau-" kata Raisa yang menghentikan ucapannya.


" Maaf tidak jadi." kata Raisa yang membalikkan badannya.


Namun saat dia membalikkan badan, ada


seseorang yang ingin masuk ke dalam kantor.


" Anda?" sapa seorang wanita yang berdiri di hadapannya.


" Yuni, kamu?" sapa Raisa, pada wanita yang seperti nya seumuran dengan nya.


" Raisa..." balik wanita itu menyapa Raisa.


" Ya ampun, uda lama kita gak ketemu. Kamu makin cantik aja." pujinya.


" Kamu bisa aja!" ucap Raisa tersipu malu, sambil memeluknya.


" Reni, tolong kamu buatkan teh untuk temanku." perintah Yuni pada Reni yang merupakan bawahannya.


Yuni adalah teman Raisa semasa SMP, mereka sempat akrab. Namun karena Yuni harus ikut dinas ayahnya keluar kota, maka Yuni dan Raisa berpisah.


" Kita ke kantor ku, ya!" ajak Yuni sambil menggandeng tangan Raisa.


" Eh tunggu dulu, ini anakku Alesha." kata Raisa memperkenalkan Alesha pada Yuni.


" Ih cantik banget, " puji Yuni sambil mencubit pipi Alesha.


Kemudian mereka langsung menuju kantornya Yuni.


" Silakan duduk, Sa!" kata Yuni yang mempersilakan Raisa duduk.


" Terima kasih." kata Raisa yang kemudian sudah duduk di sofa, " Kamu pemilik sekolah ini?" tanya Raisa sambil menatap seluruh area ruangan kantor.


" Iya, aku yang merintis sekolah ini sejak meninggalnya ibuku. Dia yang mendorong ku untuk membangun sekolah TK di kampung ini." kata Yuni dengan wajah sedih.


" Ibumu sudah meninggal?" tanya Raisa.

__ADS_1


" Iya, saat ayahku masih dinas di luar kota. Ibuku sudah sakit-sakitan, dan akhirnya aku dan ibuku kembali ke kampung ini sejak lima tahun lalu." ucap Yuni mengenang masa lalunya.


" Oh maaf, aku tidak tahu kalau kau sudah balik lagi ke sini. " kata Raisa.


" Iya, aku juga tahu kisah kamu dari Lina." kata Yuni yang memang sekampung dengan Lina.


" Aku tahu, Re-" ucapannya terhenti, saat Reni datang membawakan teh pesanannya.


" Permisi bu, ini tehnya." kata Reni sambil memandang sinis ke arah Raisa.


" Iya taruh saja di meja." perintah Yuni.


Dan Reni pun pergi, meninggalkan ruangan kantor kepala sekolah.


" Diminum dulu, Sa!" kata Yuni yang mempersilakan Raisa untuk minum.


" Terima kasih, " balas Raisa yang langsung mengambil secangkir teh hangat di meja.


" Maaf tadi kepotong, aku tahu kamu dan Reni itu mantan ipar." kata Yuni sambil berbisik.


" Iya, " jawab Raisa.


" Kamu ingin tahu, kenapa aku mempekerjakan dia di sini?" tanya Yuni yang menyuruh Raisa untuk menebak.


" Enggak." jawab Raisa.


" Iya karena aku ingin dia menjadi pesuruhku. Ha, ha, ha.." ucap Yuni sambil tertawa kekeh.


" Iya aku sebel aja, kenapa sahabat aku di perlakukan seperti itu olehnya." kata Yuni dengan tersenyum puas.


" Aku sudah melupakan masa lalu ku, Yun!" ucap Raisa ya menjelaskan.


" Iya, aku tahu kau sangat polos dan berhati lembut. Makanya hidup kamu di sema-menakan oleh orang." tutur Yuni.


" Iya sudah, tidak usah bahas hal itu." kata Raisa.


" Baiklah, ada maksud apa kamu datang ke sekolah ku?" tanya Yuni.


" Aku mau menyekolahkan anakku, dan aku lihat sekolah ini sepertinya bagus." puji Raisa.


" Iya, sekolah ku sudah terakreditasi A. Dan masuk dalam daftar sekolah terbaik di kota. " kata Yuni.


" Oh, " jawab Raisa, sebenarnya dia ragu karena di pertemuan awal dia harus bertemu dengan Reni.


" Apa kamu tertarik untuk menyekolahkan anakmu di sini?" tanya Yuni penuh harap.


" Aku tanya suamiku dulu ya!" kata Raisa.


" Ayolah Sa, kamu sekolah kan anakmu di sini biar kita bisa ketemu setiap hari." pinta Yuni memohon.


Raisa merasa tak enak hati dengan permintaan sahabat nya.


" Baiklah, aku akan membawa berkas-berkas nya besok untuk pendaftaran." ucap Raisa menyetujui permintaan sahabat nya.

__ADS_1


" Nah gitu dong, ayo aku tunjukkan sekolah ku." ajak Yuni yang langsung bangkit dari tempat duduknya.


Raisa di bawa oleh Yuni menuju ruang kelas, ada Paud, dan juga Play ground serta TK A dan B.


" Anakmu usia berapa tahun, Sa?" tanya Yuni.


" Enam tahun sekarang." jawab Raisa.


" Oh berarti kamu masuk TK B, Ya!" kata Yuni memberi saran.


" Kemarin di Perancis aku menyekolahkan khusus tari balet." kata Raisa.


" Apa Sa? Kamu tinggal di Perancis?" kaget Yuni mendengar penuturan Raisa.


" Iya, baru dua minggu aku tinggal di sini." kata Raisa sambil tersipu malu.


" Ya ampun, kamu berapa lama tinggal di sana?" tanya Yuni.


" Kisaran 3 tahun, dan aku pun mengajarkan bidang studi kesenian khususnya tari balet." ujar Raisa.


" Wah, ternyata kamu seorang guru juga?" kagum Yuni dengan kesederhanaan Raisa.


" Iya dan baru kemarin, anakku menang kompetisi menari balet internasional di Perancis." kata Raisa sambil mengikuti langkah Yuni.


" Wah kebanggaan buat sekolah ku, " kata Yuni yang merasa bangga dengan kedatangan sahabat nya


" Baiklah, besok aku akan membawa berkas-berkas nya " kata Raisa.


" Sebaiknya anakmu di perkenalkan dulu, dengan teman-teman nya " kata Yuni.


" Ale, ikut bu guru ya! Mama mau ke tempat Bi Zainab." kata Raisa sambil berjongkok di hadapan Alesha.


" Iya, ma!" jawab Alesha sambil menganggukkan kepalanya


" Ayo, Alesha kita masuk." kata Yuni yang menuntun tangan Alesha.


Kemudian Raisa meninggalkan Alesha yang sudah masuk ke dalam kelas. Kini dia berjalan menyusuri lorong kelas. Saat akan melewati kantor, dia berpapasan dengan Reni.


Raisa memandang acuh Reni, dan dia pun begitu sinis melihat penampilan Raisa yang begitu modis.


" Awas kau ya! Karena kamu Kak Aldo tidak respon padaku." geram Reni sambil mengepalkan kedua tangannya.


Raisa menghampiri Bi Zainab dan Udin, mereka seperti nya lelah karena menunggu nya.


" Maaf ya, Bi. Rupanya pemilik sekolah ini adalah sahabat ku." kata Raisa sambil membungkukkan badannya.


" Oh iya Non, kalau non merasa cocok sebaiknya Alesha di sekolahkan di sini saja." kata Bi Zainab memberi saran.


" Iya, sekarang dia sedang di ajari oleh temanku di kelas TK B." kata Raisa.


" Kita makan dulu ya Bi, mang Udin." kata Raisa yang mengajak mereka makan.


Silakan like dan berikan komentar mu.

__ADS_1


__ADS_2