
" Den, sebaiknya jaga kesehatan. Bibi sedih kalau aden sakit." ucap Bi Salma yang duduk di sebelah Aldo.
" Aku kecewa dengan keputusan kakek, Bi." sedih Aldo dengan keputusan sang kakek.
" Mau gimana lagi den, toh mungkin pilihan kakek yang terbaik." kata Bibi.
Aldo pun menghabiskan makanannya, lalu bibi membawa piring kotor ke dapur.
Aldo kembali duduk di pinggiran jendela, memandangi ke arah luar yang kini sedang musim salju.
****
Dua minggu sudah Raisa bekerja di sekolah, dan sorenya dia mengajar les di rumah pak Arifin.
Menjelang pagi tiba-tiba kepalanya terasa pusing, dan perutnya terasa mual.
Saat akan bangun dari tempat tidur, ada rasa tak enak di tenggorokan nya. Kemudian terasa dorongan dari perutnya, yang tiba-tiba ingin di keluarkan.
" Huek,, huek..." Raisa muntah, namun dengan cepat dia berlari menuju kamar mandi.
Faisal panik saat mendengar Raisa muntah-muntah. Segera dia bergegas menuju kamar mandi, dan memijat tengkuk leher Raisa.
" Kamu kenapa, Sa?" tanya Faisal.
" Mungkin aku masuk angin." sahut Raisa.
Kembali terdengar Raisa yang memuntahkan lagi, semua isi perutnya.
" Kamu sudah makan belum?" tanya Faisal yang masih memijat.
" Belum." jawab Raisa, " Tuh gak ada makanan, tapi mulut ku rasanya sangat pahit." kata Raisa yang badannya mulai lemas.
" Sudah enakkan belum?" tanya Faisal.
" Sudah." jawab Raisa yang sudah tidak muntah lagi.
" Ayo ke kamar." ajak Faisal yang menuntun tangan Raisa.
Mereka sudah masuk ke dalam kamar, dan Faisal membalur minyak kayu putih di leher Raisa.
" Raisa, hamil mungkin Sal." teriak Bu Leha dari kamar nya
" Hamil? Deg..." tiba-tiba jantung Faisal berdegup cepat.
Dalam hatinya dia bertanya, Raisa tidak mungkin hamil, karena aku lemah syahwat. Dan tak mungkin punya anak. Dan sampai saat ini Raisa tidak pernah protes dengan hubungan ranjang nya. Atau mungkin pikiran Raisa yang masih polos. Itu adalah pikiran yang terus menghantui Faisal
" Atau mungkin ini keajaiban Tuhan?" pikir Faisal.
" Sa, kamu kuat bekerja?" tanya Faisal.
" Ini hanya masuk angin, aku pasti kuat." tutur Raisa yang sudah merebahkan tubuhnya.
" Tapi Sa, wajahmu pucat sekali." ucap Faisal yang memandangi wajah Raisa.
" Mungkin hanya lelah, karena aku terlalu giat bekerja." kata Raisa, " Kamu mandi duluan sana, nanti kalau sudah enakan gantian aku mandi." ucap Raisa yang membaringkan tubuhnya.
__ADS_1
Faisal pun pergi ke kamar mandi, dia masih penasaran dengan perkataan sang ibu.
Kalau sampai sore keadaan Raisa tidak juga membaik, dia akan mengecek ke dokter.
Selang setengah jam, Raisa sudah rapi mengenakan baju seragam nya.
Faisal bersiap untuk mengantarkan Raisa, menuju sekolah. Karena dia takut terjadi apa-apa pada istrinya. Sehingga langganan koran nya, menjadi agak kesiangan.
" Sa, kalau masih muntah nanti kita ke dokter ya! " pesan Faisal.
" Iya." jawab Raisa sambil mencium punggung tangan Faisal.
Kemudian Raisa masuk ke dalam sekolah, dan menuju meja kerjanya.
" Sa, kok wajahmu pucat banget?" tanya Niken yang duduk bersebelahan dengan Raisa.
" Oh aku hanya kecapekan." jawab Raisa lemas.
" Kalau kamu gak kuat, sebaiknya ijin pulang aja Sa." saran Niken.
" Aku kuat kok." jawab Raisa seraya memijat kepalanya.
" Sa, aku masuk kelas dulu ya." ijin Niken yang sudah memakai kaus, rok kain dan selendang.
Pekan ini materi yang di ajarkan Niken, akan mengikuti kompetisi lomba seni tari tingkat nasional. Jadi Niken harus bekerja ekstra, agar murid-muridnya paham dan hafal semua gerakannya.
Raisa menguatkan dirinya, dia menuju kelasnya. Namun saat akan berganti seragam, kepalanya terasa berputar.
" Bruk..."
Tubuhnya ambruk seketika di lantai, dan para siswa yang usianya 12 tahun ke atas langsung menolong nya.
Mereka terus memanggil nama Raisa, mencoba menyadarkan nya. Kemudian salah seorang guru yang melihatnya, langsung membawanya ke rumah sakit.
Faisal pun langsung menghampiri Raisa ke rumah sakit. Karena di hubungi oleh Niken yang merupakan teman Raisa.
Faisal berjalan menuju ruangan IGD, melihat istrinya yang tertidur dan terlihat pucat.
" Sa, kamu gak apa-apa?" tanya Faisal.
" Aku enggak apa-apa, hanya mual saja." tutur Raisa.
Lalu datanglah seorang dokter yang menghampiri mereka.
" Maaf apakah anda kerabat ibu Raisa?" tanya dokter laki-laki di belakang Faisal.
" Iya, saya suaminya." jawab Faisal.
" Bisa kita bicara sebentar, " ucap sang dokter.
" Iya bisa, " jawab Faisal yang berdiri dari duduknya.
" Sa, aku ke ruangan dokter dulu ya." ijin Faisal pada Raisa.
" Iya, " jawab Raisa.
__ADS_1
Kemudian Faisal mengikuti dokter menuju ruangannya.
" Silakan duduk pak." kata dokter yang sudah berada di bangkunya.
" Iya dok, ada apa?" tanya Faisal.
" Istri anda sedang hamil." kata dokter yang bernama Fahri.
" Hamil?" sontak Faisal terkejut mendengar penuturan sang dokter.
" Iya, dan kenapa wajah anda begitu terkejut? Bukankah ini kabar gembira untuk pasangan suami istri?" tanya Fahri yang melihat keanehan di raut wajah Faisal.
" Iya, saya bahagia. Hanya kaget saja." elak Faisal yang tidak menyangka Raisa akan hamil.
Apakah kehamilan Raisa merupakan mukjizat dari Tuhan?
Itulah pertanyaan yang harus segera mendapatkan jawaban dari dokter.
Tapi untuk saat ini, Faisal tidak ingin merusak kebahagiaannya. Dia yakin kehamilan Raisa adalah anugerah dari Tuhan. Hal kejantanan akan dia tanyakan nanti, kalau suasana sudah kondusif.
" Terima kasih dok, saya harus segera kembali pada istri saya untuk memberitahu hal ini." ucap Faisal yang pamit.
" Silakan..." kata Fahri.
Kemudian Faisal segera berlari kecil, menuju ruangan Raisa.
" Sa, kamu sudah enakan?" tanya Faisal.
" Sudah, tadi perawat sudah memberikan obat mual." jawab Raisa.
" Sa, kamu hamil." ucap Faisal dengan raut wajah bahagia.
" Hamil?" ucapnya dengan wajah bersedih.
" Kamu kenapa?" tanya Faisal yang melihat raut ketidak sukaan pada wajah Raisa.
" Bagaimana dengan kuliahku, dan pekerjaan ku?" gumam Raisa seraya menundukkan kepalanya.
" Rejeki itu Tuhan yang atur, Sa." ucap Faisal.
" Kamu masih bisa kuliah, dan aku akan mengantarmu setiap pagi." tuturnya.
" Baiklah, " jawab Raisa tersenyum.
Selang beberapa jam, Raisa sudah di perbolehkan pulang. Karena dia tidak harus menginap, karena hanya mengalami keletihan pasca kehamilan.
" Sa, kamu mau makan apa?" tanya Faisal yang melambatkan laju motor nya.
" Aku sedang tidak mau makan apa-apa, hanya ingin tidur." sahut Raisa dari arah bangku belakang motor.
" Iya sudah, kita langsung pulang. Tapi kita beli susu hamil dulu ya." ujar Faisal yang memarkir motornya di minimarket.
Faisal begitu bahagia, dan dia membelikan susu serta cemilan untuk Raisa.
Dia yakin, jika rejekinya akan terus bertambah dengan kehadiran sang jabang bayi.
__ADS_1
-
Silakan Like dan berikan komentar mu.