
Raisa pun masuk ke dalam ruangan CEO dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Sa, masuklah." kata Aldo yang membukakan pintu.
Raisa pun masuk ke dalam, dia mencari alat yang tadi tertinggal. Dan itu menurut penuturan Aldo di telpon, karena seingatnya semua barang tidak ada yang tertinggal.
" Dimana barang nya?" tanya Raisa dengan wajah yang serius.
" Di kamar mandi, ada lap yang tertinggal." ucap Aldo.
Raisa pun masuk ke dalam toilet yang tadi dia bersihkan. Aldo mengunci pintu ruangannya, dan menuangkan air sirop ke dalam gelas.
" Kayaknya serbet ini uda ku taruh di loker deh." ucap Raisa yang membawa serbet berwarna putih di tangan nya.
" Ya mungkin serbetnya jalan sendiri barangkali." kata Aldo sambil mengangkat kedua bahunya.
" Ya sudah kau minum saja dulu, aku sudah buatkan sirop khusus untuk mu." kata Aldo seraya mengangkat gelas dan memberikan untuk Raisa, " Minumlah agar tenggorokan mu segar." kata Aldo dengan seringai senyuman liciknya.
Raisa menerima gelas yang di berikan oleh Aldo, lalu meminum nya sampai habis tak tersisa.
" Nih gelasnya." Raisa mengulurkan tangannya ingin memberikan gelas yang di pegang nya kepada Aldo," Eits, biar aku cuci dulu. Nanti kau akan menelpon lagi agar aku mencuci gelas ini." kata Raisa yang menarik kembali tangannya.
Lalu Raisa berjalan menuju wastafel, dan mencuci gelas yang sudah kosong.
" Di taruh dimana?" tanya Raisa.
" Tuh taruh saja di dalam lemari." kata Aldo yang menunjukkan lemari di sebelah pintu kamar mandi.
Raisa berjalan menuju lemari dan menaruh gelas dengan perlahan. Dia takut membuat cacat di gelas yang seperti kristal.
" Ya sudah aku mau pulang dulu, sudah sore." kata Raisa yang berjalan menuju pintu.
Saat akan membuka pintu, dia bingung kenapa tidak bisa dibuka.
" Do, ini kok macet." kata Raisa yang terus berusaha membuka handle pintu.
" Coba aku cek, jangan-jangan pintu nya rusak." ucap Aldo yang menakuti Raisa.
Aldo menghampiri Raisa dan berdiri di sebelah, memutar knop pintu agar terbuka. Padahal tadi Aldo telah mengunci nya.
Raisa merasakan ada keanehan di dalam tubuhnya. Merasa hawa panas mengaliri setiap aliran darah nya. Dia terus mengusap-usap tengkuk lehernya. Gelisah ya, Raisa merasakan kegelisahan di tubuhnya.
Dia mengipaskan kedua tangan ke dadanya, padahal dia merasakan AC dengan suhu yang begitu dingin.
__ADS_1
" Kau kenapa Sa?" tanya Aldo yang pura-pura tidak tahu, padahal dia yang menaruh obat di dalam minuman Raisa.
" Enggak tahu, kok rasanya panas ya." kata Raisa yang terlihat mondar-mandir di depan Aldo.
Lalu Aldo berbalik menyandarkan tubuhnya di daun pintu.
Dia terus mengamati gerak-gerik Raisa, ingin tahu tentang efek obat yang dia taruh di dalam minuman Raisa.
Raisa mendudukkan dirinya di sofa, melepaskan satu kancing kemeja di bagian atas.
" Aldo, kau jangan menatapku seperti itu. Sebaiknya kau cari bantuan sana." pinta Raisa dengan tubuh yang mulai gelisah.
" Kamu kenapa Sa?" tanya Aldo yang mendekati Raisa, berjalan perlahan menghampirinya yang duduk di sofa.
" Aldo, kamu jangan dekat-dekat." ucap Raisa yang menggeser tubuhnya ke samping.
" Tapi Sa, kenapa kening mu berkeringat?" tanya Aldo seraya mengusap kening Raisa.
" Aldo aku mohon, jangan dekati aku. Akh..." suara Raisa mulai mendesah, karena dia merasakan gairah yang tiba-tiba muncul di dalam tubuh nya.
Melihat Raisa yang sedang kepanasan karena gairah yang mulai memuncak. Aldo langsung menggendong Raisa, dan membawanya ke tempat tidur yang terdapat di ruangan khusus.
" Aldo, lepaskan aku." ucap Raisa memberontak memukul-mukul dada bidang Aldo.
" Do jangan kau lakukan itu." cegah Raisa yang di dekati Aldo, dan Raisa memundurkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur.
Raisa ingin menolak setiap sentuhan yang Aldo berikan. Sesekali mencoba menghindari sentuhan Aldo, namun tubuhnya menerima dengan pasrah.
Raisa merasakan kegelian yang begitu hebat, belum pernah dia rasakan saat bersama dengan suaminya.
" Aldo, akh...." ******* itu membuat Aldo semakin bergairah.
Obat perangsang yang di beri Aldo di dalam minuman Raisa, membuatnya memiliki Raisa seutuhnya.
" Ah.... sakit Do." teriak Raisa yang masih merasakan sakit di bagian kewanitaan nya.
" Darah..." batin Aldo yang masih melihat bercak darah di sprei yang berwarna putih, " Apakah Raisa masih...?" benaknya bertanya tanpa rasa bersalah telah meniduri istri orang.
***
Pukul delapan malam, ponsel Raisa berbunyi. " Kring....kring..."
Raisa pun tersadar, dan bangun dari tidurnya. Matanya mulai membuka perlahan, merasakan sakit di tubuh nya hingga di bagian kewanitaannya.
__ADS_1
Saat menatap ada keanehan di langit-langit atas, dia langsung duduk.
" Dimana aku." ucap nya, dan terkejut saat tubuhnya hanya tertutup selimut tebal berwarna putih.
Kepalanya menoleh ke samping, ada seseorang yang tertidur sangat pulas.
" Aldo..." teriak Raisa, dia mengingat lagi kejadian yang tadi dia alami. Bersama Aldo dia telah melakukan hubungan terlarang.
Raisa menangis sekencang-kencangnya, tak memperdulikan panggilan telepon yang sejak tadi berbunyi.
Aldo pun bangun, " Bukankah tadi kau sangat menikmatinya?" ucap Aldo dengan santai.
" Apa yang kau lakukan padaku? Aldo, jelaskan kepada ku kenapa aku bisa seperti ini?" teriaknya sambil memukul-mukul Aldo.
Aldo langsung memeluk Raisa, " Aku mencintaimu, Raisa."
" Sadar Do, aku sudah bersuami. Dan kenapa kau lakukan ini padaku?" teriak Raisa sambil memukul-mukul dada Aldo. Deru nafasnya tidak beraturan karena emosi yang meningkat.
" Maafkan aku Sa, aku sungguh khilaf." jawab Aldo yang melihat Raisa menjauhinya.
Raisa langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu dia memakai baju, dan pergi meninggalkan Aldo yang diam terpaku.
Sepanjang jalan Raisa terus mengeluarkan air mata. Dia terus mengusap pipinya yang sudah basah, karena bulir air yang keluar tak henti.
Apa yang harus dia katakan pada suaminya, kalau dia sudah melakukan hubungan terlarang.
Dia marah dan sangat membenci Aldo saat ini.
Sesampainya di rumah, Raisa kembali mandi membersihkan tubuhnya yang sudah kotor dan hina.
" Sa, matamu kenapa?" tanya Faisal yang melihat mata Raisa kelihatan merah seperti habis menangis.
" A-ku, gak apa-apa." jawab Raisa yang langsung membalikkan badannya.
Karena waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, maka mereka tertidur tanpa ada bahan pembicaraan.
Raisa terus menangis, dia tidak bisa tidur karena merasa berdosa pada suaminya.
Dia telah berbohong, dan membiarkan tubuhnya di sentuh oleh laki-laki lain.
Setelah pukul dua pagi, mata Raisa baru terpejam dan dia langsung tertidur pulas.
-
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.