
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Aldo dan Raisa pamit kepada keluarga Raisa.
" Widya, Rina tolong jaga ayah dan ibu." pesan Raisa pada kedua adiknya.
" Iya, Kak " jawab Widya yang baru saja pulang dari tempat nya bekerja.
Mereka bersalaman dan berpelukan, mengucapkan salam perpisahan.
Menjelang malam Aldo melajukan mobilnya, meninggalkan rumah orang tua Raisa.
Sepanjang perjalanan Raisa hanya terdiam, sepertinya dia sedang melamun.
" Sayang, kamu melamun?" tanya Aldo seraya menggenggam tangan Raisa.
" Aku hanya sedang bersedih." tutur Raisa, dia mengingat dengan perkataan Rina. Seorang laki-laki tidak akan peka, jika wanita tidak mengungkapkan perasaannya.
" Sedih soal apa?" tanya Aldo.
" Karena harus pergi jauh dari orang tuaku." jawab Raisa termenung.
" Maaf, bukan aku egois. Hanya saja, aku tidak sanggup jauh dari kamu." kata Aldo, sambil mengusap pipi Raisa.
" Ale seperti nya sangat lelah." kata Raisa sambil melirik ke arah belakang.
" Iya, dan aku juga lelah dengan sikapmu yang selalu tebar pesona." keluh Raisa sambil menyandarkan kepalanya di kaca jendela.
" Tebar pesona?" Aldo bingung dengan maksud pembicaraan Raisa.
" Oke, maafkan aku. Apa kau marah soal tetangga mu yang menyapaku?" tanya Aldo mencari duduk persoalannya.
" Sudah lupakan." kata Raisa sambil memejamkan kedua matanya.
Aldo hanya menggelengkan kepalanya, melihat istrinya cemburu.
Karena sebelumnya, Raisa terlihat acuh padanya. Tapi dia merasa senang, karena kini Raisa benar-benar mencintainya.
" Aku akan selalu menjaga perasaan mu." tutur Aldo seraya mengusap pipi Raisa.
Cukup jauh jarak antara rumah orang tua Raisa, dengan rumah Aldo. Membutuhkan waktu dua jam, agar sampai di rumah.
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam, Aldo telah sampai di depan pintu gerbang.
Dia pun turun dari mobilnya, dan berjalan menuju pintu gerbang. Biasanya para orang kaya selalu membunyikan klakson, saat akan memasuki pintu gerbang. Namun hal itu berbeda dengan Aldo. Dia sangat menghargai karyawan nya, dan juga para tetangga yang tinggal bersebelahan dengan rumah nya.
" Tok, tok, tok.. pak Rahman..." panggil Aldo.
Sontak Rahman langsung bangun dari tidur nya. Kesadaran belum pulih, hingga harus menunggu beberapa detik agar kedua matanya terbuka sempurna.
" Eh, den Aldo." ucapnya seraya membuka kunci gembok.
__ADS_1
Kemudian Aldo langsung masuk ke dalam mobilnya, setelah di buka pintu gerbang oleh Rahman.
" Terima kasih ya, Pak!" ucap Aldo yang langsung masuk ke dalam halaman rumah nya.
Mobil sudah terparkir, Aldo membangunkan Raisa. Dia mencium bibir Raisa dengan lembut.
Saat merasakan keanehan di bibirnya, Raisa langsung terbangun.
" Mmmm,, mppp..." Raisa hampir kehabisan nafas, karena Aldo terlalu bergairah saat mencium bibir Raisa.
" Akhirnya bangun juga." kata Aldo yang telah memundurkan badannya.
" Ish, kamu jahil banget sih!" kesal Raisa yang langsung mengusap bibirnya.
" Aku lihat kau terlalu lelap, jadi aku tak tega membangunkanmu." kata Aldo beralasan.
" Cih, itu hanya alasan saja." Raisa langsung mengambil tasnya, lalu membuka pintu nya.
Aldo hanya tersenyum manja, melihat istrinya sedang merajuk.
Kemudian dia keluar dan membuka pintu belakang. Dia harus membawa Alesha yang sudah tertidur lelap.
Aldo langsung memasuki rumah nya, sambil menggendong Alesha dan membawanya ke kamar.
Setelah merebahkan di kamar, Aldo membukakan sepatunya. Lalu mencium kening Alesha, sambil mengucapkan, " Selamat malam, peri kecilku."
Kemudian dia langsung beranjak menuju kamarnya. Dia melihat Raisa sudah tertidur pulas di atas kasur.
Aldo langsung merebahkan tubuhnya di sebelah istri tercinta.
" I love you .." Aldo mencium kening Raisa, lalu memeluk nya.
****
Pagi pun tiba, Raisa terbangun lebih awal. Dia langsung menuju dapur, untuk membantu Bi Zainab memasak.
" Bi, mau masak apa?" tanya Raisa yang sudah berdiri di belakang Bi Zainab.
" Den Aldo, cuma mau di masakin ayam goreng dan sop ayam." kata Bi Zainab sambil mengambil mengambil sayuran di kulkas.
" Iya sudah, biar aku yang memotong sayuran nya." ucap Raisa yang langsung duduk di kursi makan.
Jarak antara dapur dan meja makan tidak terlalu jauh.
" Mama..." panggil Alesha yang sudah terbangun dari tidurnya.
" Iya, sayang!" jawab Raisa yang menoleh ke arah Alesha.
" Ma, aku mau minum susu." pinta Alesha yang mendekati Raisa.
__ADS_1
Lalu Raisa menduduki Alesha di kursi makan, " Kamu duduk dulu, ya!" kata Raisa.
Kemudian dia menuju rak kitchen set, untuk mengambil susu formula milik Alesha.
Mengambil gelas kecil, lalu menaruh bubuk susu dan menambahkan dengan sedikit air panas. Kemudian Raisa mengaduknya, lalu di tambah air dingin. Agar Alesha tidak kepanasan, dan terlalu lama meminumnya.
" Ini, sayang." kata Raisa yang langsung memberikan segelas susu kepada Alesha.
" Terima kasih, mama." kata Alesha yang kini mampu berkomunikasi dua arah dengan mamanya.
" Sama-sama, sayang ." kata Raisa yang mencubit kecil pipi Alesha yang cubby.
" Kalian sudah bangun?" tanya Aldo yang datang menghampiri Raisa di ruang makan.
" Kenapa kamu belum juga mandi? " sungut Raisa melihat suaminya masih mengenakan kaos dan celana pendek.
" Aku nyariin kamu gak ada, eh taunya di sini." gumam Aldo beralasan. Dia langsung duduk di hadapan Alesha.
" Wih enak banget, anak papa uda minum susu." kata Aldo sambil menangkupkan dagunya di tangan nya.
" Papa, mau?" tanya Alesha sambil menyodorkan segelas susu.
" Enggak sayang, papa mau susu mama aja!" goda Aldo seraya melirik ke arah Raisa.
Raisa berdecak kesal, lagi-lagi suaminya menggoda nya tanpa kenal tempat.
" Sudah ku peringatkan, jangan berbicara hal seperti itu di depan Ale." tegas Raisa seraya menatap tajam ke arah Aldo.
" Ups! Papa mandi dulu ya..." Aldo langsung menutup mulutnya, lalu bergegas menuju kamar.
Bi Zainab hanya tertawa melihat pertengkaran kecil, antara tuan dan nyonya nya.
" Non, kayaknya bibi akan kesepian lagi. Karena semenjak bibi tinggal di sini, tak ada pertengkaran ataupun gurauan dari den Aldo." kata Bi Zainab dengan wajah yang murung.
" Maafkan aku, Bi. Aldo yang meminta kami tinggal bersama nya di Perancis." kata Raisa dengan wajah sendu sambil memeluk Bi Zainab.
" Iya Non, sebagai istri memang harus mengabdi pada suami." nasihat Bi Zainab.
Mereka mulai menata hidangan yang telah masak. Sepanci sayur sop daging, dan ayam goreng tidak lupa sambel goreng kesukaan Raisa.
Aldo kurang suka dengan pedas, sehingga Bi Zainab tidak pernah membuat sambal.
" Wah, baunya harum sekali." puji Aldo yang sudah rapi mengenakan baju kerjanya.
" Jangan lebay, hanya sayur sop dan ayam goreng." sungut Raisa sambil menyendok nasi untuk Aldo.
Mereka memulai sarapan pagi bersama-sama.
-
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu ya guys