Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 30: Melahirkan


__ADS_3

" Maaf, aku naik ojek yang lain saja." canggung Raisa pada Faisal.


Entah apa yang berada di benak Raisa, apakah harus membenci atau malu padanya. Tuhan menghadirkan keadaan yang sulit untuk nya.


" Sa, maafkan aku." ucap Faisal yang menarik tangan Raisa untuk naik ke motor nya.


Raisa pun menurut, dan dia naik ke belakang motor Faisal.


Faisal terlihat sangat kurus, kucel, dan tak terurus. Seperti nya keluarga nya hanya menginginkan uang dari Faisal. Dan sejak pengakuannya pada Raisa, seperti nya Faisal enggan menikah lagi.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, tak ada tegur sapa. Sampai lah di titik pengantaran, lalu Faisal membuka pembicaraan.


" Yang mana rumahmu?" tanya Faisal.


" Di depan yang kontrakan pintu lima." kata Raisa yang menunjukkan tangan nya ke arah depan.


Faisal memberhentikan motor nya, lalu memarkir di depan rumah Raisa.


Raisa pun turun, lalu membuka kunci rumah.


" Biar aku bantu." kata Faisal seraya membawa dua bungkus kantong plastik berisi pelengkapan bayi.


Raisa sudah masuk ke dalam rumah, dan Faisal menaruh plastik di dekat sofa.


" Sebaiknya kamu lekas pergi, karena nanti suamiku akan pulang." kata Raisa berbohong.


" Oh kau sudah menikah?" tanya Faisal pada Raisa. Tapi sepertinya tidak ada foto pengantin yang terpajang di dinding.


" I-ya..." jawab Raisa gugup.


" Oh, selamat ya." kata Faisal.


Tiba-tiba perut Raisa terasa meringis, sangat sakit seperti mulas.


" Aduh..." pekik Raisa sambil meringis memegang perutnya


Faisal pun berbalik mendengar suara Raisa yang meringis kesaktian.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Faisal yang mencoba mendekati Raisa.


" Aku hanya sakit perut " jawab Raisa sambil menggigit bibir bawahnya, dia merasakan sakit yang teramat hebat di bagian perutnya.


" Seperti nya perutmu sangat sakit, aku antar ke rumah sakit. Barangkali kamu mau melahirkan." kata Faisal.


Raisa tidak berpikir lagi, dia merasa buntu lalu menurut dengan perkataan Faisal.


" Bisa kau bantu pilihkan untukku baju bayi?" pinta Raisa.


Dengan gerak cepat Faisal merapikan perlengkapan bayi yang akan di bawa. Tak lupa membawa perlengkapan Raisa.

__ADS_1


" Sudah aku bawa, ayo kita jalan." ajak Faisal yang menuntun tangan Raisa.


Saat menuju pintu keluar, ada Arifin yang datang membawakan makanan.


" Kamu..." geram Arifin melihat Faisal


" Pak Arifin, Raisa mau melahirkan. Aku ingin membawanya ke rumah sakit." panik Faisal.


" Naik ke mobilku." kata Arifin yang langsung membawa Raisa.


Lalu Faisal mengikuti Arifin menuju mobilnya, namun Faisal memutuskan untuk naik motornya.


" Aduh sakit..." terdengar suara Raisa yang terus meringis kesakitan.


" Sabar ya, sebenar lagi kita akan sampai.* kata Arifin menenangkan.


Kemudian mereka sampai di UGD rumah sakit. Arifin meminta tolong perawat untuk membawa Raisa.


Raisa di taruh di atas brankar, lalu di bawa ke ruang persalinan.


Faisal telah sampai dan mengikuti Raisa menuju ruang persalinan. Tak lupa dia membawa kantong plastik berisi perlengkapan melahirkan.


" Suami bu Raisa." panggil perawat pada Arifin dan Faisal yang sedang menunggu Raisa.


Keduanya saling menatap, di pikiran Faisal adalah bahwa Arifin adalah suaminya.


" Suaminya tidak ada sus, sebaiknya kami menunggu di luar." jawab Arifin.


" Sebaiknya kau pergi dari sini, karena Raisa tidak membutuhkan mu." bentak Arifin seraya menatap tajam ke arah Faisal.


" Tapi pak, apakah Raisa hidup sendiri selama ini?" tanya Faisal


" Kau telah menelantarkan nya, dia gadis yang baik. Seharusnya kau mengerti kenapa dia bisa hamil, tapi kau malah mengusirnya." geram Arifin.


" Maafkan aku, saat itu aku tersulut emosi. Karena dia sudah membohongi ku." ucap Faisal membela diri.


" Pengecut, justru kau yang lebih dulu berbohong padanya. Seandainya dia bukan gadis lugu, mungkin akan meninggalkan mu disaat kalian berhubungan di malam pertama." cela Arifin


Faisal menyesal, seharusnya dulu dia tak mengusir Raisa. Seharusnya dia menerima anak yang di kandung Raisa. Kebohongan demi kebaikan nya untuk bersama Raisa lebih baik. Daripada saat ini dia hidup menderita, dengan kesendiriannya.


Raisa yang selalu menerima kelemahan dan kekurangannya. Yang selalu sabar dalam menghadapi ulah kakaknya. Faisal merasa sangat menyesal mengusir Raisa.


" Maafkan aku, aku sungguh menyesal." tangisnya di depan Arifin.


" Jangan kau menangis di depan Raisa, itu hanya akan menambah penderitaan nya. Sebaiknya kau pergi dari kehidupan nya, jangan pernah kembali." gertak Arifin yang begitu membenci Faisal.


Faisal pun pergi dengan wajah lesu, dan tertunduk menyesali semua yang telah terjadi.


Tiga jam sudah berlalu, akhirnya suara tangis bayi menggema di ruang persalinan.

__ADS_1


" Maaf pak, apakah suaminya ada?" tanya perawat pada Arifin.


" Dia di tinggalkan oleh suaminya. Dan sekarang saya walinya." ucap Arifin.


" Silakan melihat keadaan bu Raisa dan anaknya." kata perawat yang sudah membaa Raisa menuju kamar VIP.


" Terima kasih Sus, " kata Arifin dengan senyum yang sudah berkerut di kedua matanya.


Arifin pun masuk ke dalam kamar inap Raisa, dan dia melakukan panggilan video call pada Beby dan sang istri yang berada di Perancis.


Mereka menyambut kelahiran dengan tawa riang. Sangat bahagia, padahal Raisa bukanlah keluarga nya. Namun mereka menganggap Raisa kini sebagai keluarga nya.


" Boleh aku beri nama?" tanya Arifin.


" Boleh pak, saya tidak ahli memberi nama bayi." kata Raisa yang melihat Arifin menggendong bayinya.


" Alesha putri Dananjaya." ucap Arifin yang sengaja menyelipkan namanya, sedangkan Alesha adalah nama dari pacarnya yang merupakan anak dari Wisnu.


" Nama yang bagus, aku suka pak." kata Raisa menyetujui.


****


Sementara di saat Raisa merasakan sakit perut yang hebat, Aldo juga merasakan.


Rasa mules dan ingin buang air dia rasakan. Berkali-kali mencoba mendudukkan nya di toilet, namun tak juga buang air besar.


Sampai-sampai semua chef di panggil, dan di interogasi soal makanan yang di makan Aldo.


Semua bingung, karena mereka masak seperti biasa.


Bi Salma yang panik melihat Aldo terus meringis kesakitan. Akhirnya dia memutuskan untuk memanggil Alexander sang dokter pribadi.


Namun hasilnya juga nihil, rasa sakit yang begitu hebat tak bisa dia tahan.


Hingga detik-detik terakhir Raisa melahirkan, akhirnya hilang sakit yang di rasa oleh Aldo.


Butuh waktu empat jam Aldo meringis kesakitan. Sampai jungkir balik, karena tak tahan dengan rasa mules yang mendera.


" Bi, perutku sudah tidak sakit." ujar Aldo yang memegang perutnya.


" Loh Den, tadi sakit perutnya kayak gimana?" tanya Bi Salma.


" Mules, sakit." kata Aldo yang kini mengelus perutnya.


" Tapi den?" ucapan Bi Salma dipotong oleh Aldo.


" Ah sudahlah bi, yang penting sekarang aku sudah sembuh." kata Aldo dengan raut wajah yang ceria.


Tak ada lagi wajahnya yang pucat pasi, kini terlihat segar. Namun tubuhnya masih terlihat sangat kurus karena jarang makan. Sekali nya makan, pasti akan di muntahkan lagi.

__ADS_1


-


Silakan like dan berikan komentar mu.


__ADS_2