
" Sa, aku ingin bertanya satu hal padamu?" tanya Faisal ragu.
" Soal apa?" tanya Raisa yang tertidur di sebelah di sebelah Faisal.
" Apakah selama ini kamu puas dengan ...." ragu Faisal untuk bertanya
" Dengan apa?" balik Raisa bertanya, dia sungguh bingung dengan pertanyaan Faisal yang bertele-tele.
" Dengan kejantanan ku?" tukas Faisal.
" Maksud mu?" tanya Raisa.
" Sebenarnya, aku memiliki masalah soal kejantanan ku. Dan itu yang...." kalimat nya terhenti, dia sangat takut jika Raisa akan kecewa.
" Maksud mu apa sih? Aku gak paham." jawab Raisa yang langsung duduk dan menatap Faisal.
" Aku di vonis penyakit lemah syahwat, Sa. Dan besar kemungkinan tidak akan mempunyai anak." jawab Faisal dengan wajah tertunduk.
" Apa?" Raisa sungguh terkejut dengan pernyataan Faisal. Dia langsung menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur.
" Kamu marah Sa?" tanya Faisal dengan nada pasrah, " Tapi aku yakin anak yang kamu kandung adalah keajaiban Tuhan." ujar Faisal.
Raisa pun terdiam, dia berpikir soal kandungan yang ada di rahimnya.
" Sa, kamu marah ya?" tanya Faisal yang melihat Raisa seraya memegang kedua bahu nya.
Raisa mencoba menelan salivanya, berusaha jujur seperti yang dikatakan oleh Faisal.
" A-ku..." ragu Raisa.
" Apakah aku juga boleh jujur padamu?" ucap Raisa seraya memejamkan kedua matanya.
" Boleh Sa, kamu ingin jujur soal apa? Tentang kekecewaan mu, kamu mau marah? Silahkan aku akan terimakasih, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku." ucap Faisal penuh penekanan.
" Bu-, bukan soal itu." jawab Raisa terbata-bata.
" Soal apa Sa, katakan?" desak Faisal yang kini menjadi penasaran.
" Aku pernah di perkosa oleh bosku, sebulan yang lalu. " ucapannya dengan perasaan yang nyeri, dan harus mengingat lagi kejadian yang membuatnya ternoda.
" Apa? Apa maksudmu?" tanya Faisal.
" Maafkan aku, aku sudah tak jujur padamu. " tangis Raisa pecah saat dia menyatakan kejujurannya.
Faisal langsung menyandarkan tubuhnya di dinding. Seketika hatinya yang kini hancur berkeping-keping.
Tubuhnya menjadi panas, dirinya kini yang tersulut emosi.
" Siapa yang melakukannya?" geram Faisal dengan menajamkan pandangan nya.
Dia menggoyangkan bahu Raisa, " Siapa yang melakukannya?" desak Faisal.
" Maafkan aku, aku sudah sangat membencinya. Aku tidak ingin mengingatnya lagi." ucap Raisa dengan isak tangis.
__ADS_1
" Jadi anak itu adalah anak orang lain, bukan keajaiban Tuhan untuk ku?" ucap Faisal emosi yang mendorong tubuh Raisa.
" Akh..." pekik Raisa yang kesakitan karena kepalanya terbentur dinding.
" Maafkan aku, aku tidak mengatakan padamu. Aku hanya ingin melindungi pernikahan kita." teriaknya.
" Untuk apa? Kau hanya ingin menertawakan ku dengan penyakit ku?" bentak Faisal.
" Tidak, jujur aku tidak tahu kalau punyamu itu tidak seperti..." kata Raisa terhenti saat menyinggung kepemilikan Faisal.
" Tidak seperti dia yang sudah meniduri mu?" bentaknya, " Sebaiknya kamu mintalah tanggung jawab kepada nya. Dan hari ini kamu aku talak." ucap Faisal tanpa ragu.
Rasa cintanya yang tadinya menggebu-gebu seketika berubah menjadi luntur. Setelah tahu anak yang ada di rahim Raisa bukanlah benih dari dia. Seharusnya dia menyadari dari awal, kalau dirinya tidak bisa menghamili Raisa. Jadi dia tidak boleh marah pada Raisa, namun dia kecewa Raisa tidak jujur kepadanya.
" Maafkan aku, aku mohon." pinta Raisa seraya memohon pada Faisal.
" Sal, ada apa Sal?" tanya Bu Leha yang mendengar pertengkaran anaknya.
" Enggak apa-apa Bu, sebaiknya kalian jangan ikut campur urusan ku." teriak Faisal.
" Tapi ibu dengar soal anak yang di kandung Raisa bukanlah anakmu." teriak Bu Leha memanasi.
" Sudah bu, aku bilang jangan campuri urusan ku." balas Faisal yang telah membuka pintu kamarnya.
" Sebaiknya kau pergi, cari ayah dari anak itu." ucap Faisal yang mengusir Raisa.
Raisa hanya tertunduk, dia tidak tahu apakah dirinya bersalah atau tidak. Dia hanya korban dari ***** bejat Aldo, dan kebohongan Faisal.
Raisa berjalan gontai menuju pintu keluar, langkah nya terasa berat. Karena saat ini dia sedang mengandung, dan tak tahu harus pergi kemana.
Pulang ke rumah hanya akan membuat malu dirinya dan keluarganya.
Sesuai perkataan Faisal, Raisa menuju rumah Aldo. Dia akan meminta pertanggungjawaban, agar anaknya memiliki seorang ayah.
Dengan membawa tas yang berisi bajunya, kini Raisa sudah sampai di depan rumah Aldo.
Dengan langkah ragu, dia mengetuk pintu gerbang rumah Aldo.
" Permisi, " sapa Raisa pada satpam yang berjaga.
" Iya ada apa ya Neng?" tanya satpam dengan tulisan di dadanya bernama Rohman.
" Pak, Aldonya ada?" tanya Raisa dengan suara isak tangisnya.
" Oh Den Aldo pergi ke Perancis neng." jawab Rohman.
" Apa? Pergi ke Perancis?" tanyanya lagi memastikan.
" Iya, neng. Emang ada perlu apa?" tanya Raisa sambil mengusap air matanya.
Karena hari sudah gelap, maka tetesan air mata yang mengalir di pipinya tidak terlihat.
" Enggak pak, terima kasih." jawab Raisa lemas.
__ADS_1
Rohman melihat keanehan pada sikap Raisa yang membawa tas pada malam hari.
" Neng, mau kemana malam-malam begini?" panggil Rohman.
Raisa tak menghiraukan panggilan Rohman, kakinya terus berjalan. Dia tak tahu arah dan tujuan, hingga tubuhnya lelah terjatuh di aspal jalanan. " Brukk..."
Tubuhnya sudah terbaring di tepi jalanan yang sepi.
Tiba-tiba ada mobil yang melintas berhenti di depannya.
Sang sopir keluar untuk melihat orang yang terbaring di jalanan.
" Tuan, seperti nya orang ini masih hidup." teriak sang sopir.
Lalu sang majikan keluar, dan menghampiri sang sopir.
" Raisa.." panggil pria paruh baya yang merupakan Arifin.
" Tuan mengenalnya?" tanya supir.
" Iya, dia guru tari anakku." jawabnya.
Kemudian supir dan sang majikan membawa Raisa ke dalam mobilnya.
" Tuan apakah tahu rumahnya?" tanya sopir.
" Tidak, aku tidak tahu. Sebaiknya kita bawa pulang dulu, dan setelah dia sadar baru kita antarkan pulang." perintah Arifin.
" Baik Tuan." jawab sopir yang langsung melajukan mobilnya.
Selang setengah jam, Raisa sudah sampai di rumah Arifin.
Dia di bawa menuju kamar tamu yang berada di sofa.
Arifin mencari ponsel Raisa, dia akan menghubungi suaminya. Tapi tak juga di temukan ponselnya, apakah Raisa di jambret oleh perampok? Itulah yang menjadi pertanyaan Arifin.
" Sebaiknya kita biarkan dia istirahat." kata Arifin yang meninggalkan Raisa di kamar.
****
Aldo masih mengalami morning sick, setiap pagi dia harus mengalami mual dan muntah.
" Den, wajahnya sangat pucat. Sebenarnya Aden sakit apa?" tanya Bi Salma yang membawakan segelas susu.
" Enggak tahu Bi, setiap mencium bau makanan aku langsung mau muntah." ujar Aldo.
" Tapi dokter bilang den Aldo tidak ada penyakit lambung." kata Bi Salma.
" Aku juga gak tahu Bi, " jawab Aldo lemas.
-
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1