
Pagi pun tiba, acara gladi resik kembali di adakan. Untuk memastikan setiap peserta akan hafal dengan tata letak panggung.
" Bu Raisa?" panggil salah seorang wanita yang menghampiri Raisa.
" Iya, ada apa?" tanya Raisa.
" Ada pemberitahuan mendadak dari pimpinan penyelenggara, untuk memberitahu anda kalau nanti di akhir acara, anda diharapkan bisa tampil dengan anak anda " pinta wanita yang mengaku sebagai panitia penuh harap.
" Tapi saya gak bawa baju balet!" ucap Raisa ragu.
" Kami akan mencarikan ukuran yang sesuai di badan anda, mari ikut kami." kata wanita dengan setelan jas hitam dan rok pendek selutut.
" Baiklah, aku akan menitipkan anakku dulu." ucap Raisa yang langsung menghampiri Aldo.
" Aldo, aku ada undangan mendadak. Panitia memintaku untuk tampil nanti malam, bisakah kau menjaga Ale sebentar?" tanya Raisa.
" Baiklah, aku akan menjaganya." ucap Aldo yang langsung berdiri dan menghampiri Alesha sedang latihan bersama Julia.
Raisa langsung berjalan menuju panita, yang sudah menunggu nya.
" Mari ikut kami." ucapnya seraya mempersilakan Raisa berjalan terlebih dahulu.
" Terima kasih." balas Raisa yang kemudian berjalan lebih dulu.
" Silakan naik mobil yang di depan ya bu ."
Saat Raisa ingin masuk ke dalam mobil, datang lah rombongan keluarga Arifin.
" Pah, itu Raisa mau kemana?" tanya Merlin yang melihat Raisa naik ke dalam mobil berwarna hitam.
" Coba kau hubungi dia, kalau kita sudah sampai." kata Arifin yang sudah berhenti di depan lobi hotel.
Merlin langsung menghubungi Raisa melalui sambungan telepon seluler nya.
" *Berdering..."
Raisa*
Raisa yang baru saja duduk langsung mendengar ponselnya berbunyi.
Kemudian dia mengambil ponsel di dalam saku kemeja nya.
Namun alangkah terkejutnya saat yang masuk ke dalam adalah Fay.
Kebetulan Raisa sudah menekan tombol hijau, pertanda kalau ponsel nya sudah tersambung.
" Fay, kau..." ucap Raisa yang langsung di bekap mulutnya dengan saputangan yang di balur obat bius.
" Lepaskan...." berontak Raisa namun tenaga nya tak cukup kuat untuk melepaskan pelukan Fay yang begitu kencang.
Lalu di seberang telepon, Merlin mendengar jawaban Raisa.
" Pah, di dalam mobil itu Fay. Dan Raisa berteriak katanya lepaskan." panik Merlin saat melihat mobil yang ditumpangi Raisa berjalan.
" Kau turunlah dan bilang Aldo, untuk mengikuti mobilku yang terpasang GPS." kata Arifin yang menyuruh istrinya untuk turun.
Merlin dan anak-anak nya langsung turun dari mobil, dan menghubungi Aldo.
Sedangkan Arifin langsung mengejar mobil yang menculik Raisa.
__ADS_1
Merlin menghubungkan Aldo, " *Aldo, kamu dimana?"
" Aku di ballroom mah, memang ada apa?"
" Raisa di culik, dan papamu sedang mengejarnya."
" Apa, di culik?"
" Iya, mama akan ke sana untuk menjaga Ale*."
Kemudian Merlin dan anak-anak nya langsung menuju ballroom hotel.
" Mah, di sini." panggil Aldo.
Kemudian Merlin menghampiri Aldo yang sedang menjaga Alesha.
" Kau ikuti GPS yang ada di handphone mama." kata Merlin yang memberikan ponselnya.
Dengan langkah cepat Aldo menuju parkiran mobil. Dia langsung menghubungi polisi terdekat, untuk melaporkan penculikan.
" Kurang ajar, siapa yang menculik Raisa?" gumam Aldo.
Kemudian dia langsung melajukan mobilnya, mengikuti arah GPS di ponsel milik Merlin.
Aldo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ponsel Aldo berbunyi, dan tertera nama Arifin di layarnya.
Dengan sigap Aldo langsung menjawabnya.
" Iya, pah?"
" Kurang lebih satu kilometer dari papa."
" Baiklah, papa sudah berada di belakang mereka. Sepertinya mereka menuju perbatasan Perancis menuju Belgia."
" Apa? siapa yang menculik Raisa?"
" Fay, Merlin mendengar nama itu dari suara Raisa yang sempat menjawab telepon nya."
" Fay, mau apa dia?"
" Hal itu kau pikirkan nanti. Sebaiknya kau percepat lajumu. Apakah kau sudah menghubungi polisi?"
" Sudah, dan kini aku akan melaporkan untuk menutup perbatasan Perancis."
" Baiklah, sampai ketemu nanti."
" Iya pah*!"
Aldo langsung menghubungi kepolisian, untuk menutup jalur perbatasan Perancis menuju Belgia.
" Sepertinya mereka menuju kota Lille, apa Fay akan mengajak ke rumah nya?" ucap Arifin sambil menghubungi Aldo melalui sambungan telepon seluler nya.
" Mungkin pah, kita ikuti saja. Dan aku juga sudah menghubungi anak buahku untuk datang ke rumah Johnson."
" Sepertinya mereka menuju apartemen, bukan rumah Johnson." ucap Arifin yang sedang mengamati mobil Fay.
" Dimana pah?" tanya Aldo.
__ADS_1
" Mereka masuk ke dalam apartemen Moderne." Arifin memelankan laju mobilnya agar tidak terlihat oleh Fay.
" Baik pah, aku akan menyuruh anak buahku untuk meluncur ke sana." ucap Aldo.
Kemudian mereka memutuskan sambungan telepon. Arifin memarkirkan mobilnya agak jauh dari mobil Fay.
Dengan jalan mengendap-endap, Arifin mengikuti Fay yang menggendong Raisa.
Sementara di ballroom hotel telah nampak kehadiran Calantha.
" Merlin, kau sudah sampai?" tanya Calantha yang sudah berdiri di hadapan Merlin.
" Sudah, " jawab Merlin yang sedikit geram melihat Calantha. Dalam hatinya ingin bertanya tentang anaknya yang telah membawa Raisa, namun dia urungkan dan sebaiknya saat dia menanyakan pasti akan langsung Merlin jawab.
" Raisa dimana?" tanya Calantha sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
" Raisa telah di culik oleh anakmu." ucap Merlin dengan nada suara kesal.
" Apa? Kau jangan bercanda Merlin." Balas Calantha menjawab perkataan Merlin yang di pikir hanya sebuah gurauan.
" Dengar Calantha, sebaiknya kau tanyakan putramu. Apa yang dilakukan nya saat ini tehadap Raisa?' geram Merlin yang langsung menggendong Alesha, dan membawanya pergi dari hadapan Calantha.
" Apa yang di lakukan oleh Fay?" geram Calantha sambil mengepalkan kedua tangannya.
Setengah berlari dia langsung menuju lobby hotel, dan memanggil sang supir pribadi.
" Pak, kita pulang." perintah Calantha yang sudah duduk di dalam mobil bagian bangku belakang.
Calantha mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya. Segera dia menghubungi nomor telepon Fay.
Fay tidak mendengarkan ponsel yang berada di dalam saku celananya.
Fay sedang sibuk menggendong Raisa, dan kini dia masuk ke dalam lift.
Arifin terus mengikuti Fay, dia melihat pintu lift yang akan berhenti.
" Nomor dua puluh lima, aku akan menunggu Aldo." gumam Arifin.
Fay lalu menekan tombol kode untuk membuka pintu.
Kemudian dia meletakkan Raisa di atas tempat tidur.
Selang beberapa menit, Raisa tersadar karena pengaruh obat biusnya telah hilang.
Matanya mulai mengerjap-ngerjap, seluruh pandangannya terasa kabur.
" Dimana aku?" lirihnya sambil memijat pelipisnya.
" Kenapa aku bisa ada di sini?" gumamnya saat melihat dirinya berada di dalam ruangan dengan dinding berwarna putih, dan dekorasi kamar yang tertata rapi hanya ada lemari dan tempat tidur.
Kemudian Raisa pun terbangun dari tidurnya, dan melihat ke arah jendela kamar.
" Ah, aku dimana? Fay, iya dia yang membawaku tadi!?" ucapnya lalu dia berlari menuju pintu, mencoba membukanya.
" Fay, buka pintunya." teriak Raisa sambil menggedor-gedor pintu.
-
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1