Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 90


__ADS_3

Raisa telah tertidur di kamarnya, sementara Aldo membersihkan dirinya di kamar mandi.


Usai mandi dan mengenakan baju santai, Aldo menghampiri Arifin di kamar Alesha.


" Pa, bisa ke ruang kerjaku?" Tanya Aldo yang melihat Arifin sedang membacakan dongen untuk cucu dan anaknya.


" Kakek mau ke ruang kerja papa dulu, kamu sama ka Beby. " kata Arifin yang menutup buku ceritanya.


" Iya, kakek." jawab Alesha.


" Beby temani Ale, papa keluar sebentar." kata Arifin.


" Baik, pah." jawab Beby menganggukkan kepalanya.


Arifin berjalan keluar kamar, menuju ruangan kerja Aldo.


" Apa Raisa sudah tidur?" tanya Arifin yang sudah masuk ke ruang kerja.


Sudah ada Celine dan dua bodyguard kesayangan Aldo, yaitu Fredy dan Marcel.


" Celine, bagaimana pendapatmu?" tanya Aldo.


" Menurut saya, selama nyonya di rumah masih bisa kami atasi." jawab Celine.


" Iya, hanya itu masalahnya. Raisa bilang kalau dia merasa bosan di rumah." kata Aldo yang merasa frustasi.


" Sebaiknya kita hentikan, kegiatan Sarah." kata Arifin.


" Bagaimana caranya? " tanya Aldo.


" Sarah sempat berbicara tentang, menjadi bagian dari rumah ini." kata Celine melapor.


" Sarah, berkata seperti itu?" Tanya Aldo terkejut mendengar penuturan Celine.


" Iya, dia berkata akan tinggal di tempat ini." Ujar Celine.


" Motifnya adalah menjadi pelakor." Tebak Arifin sambil menjentikkan jarinya.


" Saya rasa, seperti itu." Kata Celine membenarkan.


" Langkah kita selanjutnya apa, Pah?" Tanya Aldo berharap ada jalan keluar dari permasalahannya.


" Kita cek kamera cctv di hotelmu, besok." Kata Arifin


" Baik, Pah." Jawab Aldo yang percaya pada papanya.


" Nyonya tugas saya, dia akan aman." Kata Celine yang tidak ingin membuat tuannya cemas menghadapi


" Aku berharap padamu, Celine." Kata Aldo penuh harap pada wanita paruh baya di hadapannya.


" Fredy dan Marcel akan terus berjaga di depan pintu." Kata Celine seraya melihat ke arah dua bodyguard kesayangannya.


" Siap." Jawab keduanya serempak.


" Terima kasih atas bantuannya." Kata Aldo.


Kemudian Arifin pamit untuk pulang ke rumahnya. Dia akan membahas tentang Sarah, yang merupakan salah satu karyawan tempatnya bekerja.

__ADS_1


Sesudah pamit pada Alesha dan Beby, Arifin di antar Aldo sampai mobilnya.


" Terima kasih, pah. Kau telah membantuku." Tutur Aldo.


" Itu sudah kewajibanku sebagai ayahmu. Karena kau adalah buah hati dari wanita kesayanganku." Kata Arifin yang masih mengingat Alesha.


Arifin melajukan mobilnya, pergi meninggalkan rumah Aldo.


Kemudian Aldo berjalan menuju kamar anaknya, ingin melihat apakah sang anak dan adiknya sudah tertidur.


" Beby, kau belum tidur? " tanya Aldo sambil menghampiri Beby.


" Masih banyak tugas, Kak." Jawab Beby.


" Maafkan kakak, yang telah menyuruhmu untuk menjaga Alesha." Kata Aldo seraya mengusap kepala Beby.


" Aku senang, Kak. Soalnya di rumah aku juga tidak punya teman, sehabis pulang sekolah. Kalau di sini aku bisa berangkat dan bermain bersama adek Ale." Kata Beby yang tak pernah lupa dengan panggilan kesayangannya terhadap Alesha.


" Baiklah, kamu jangan terlalu malam tidurnya. Selesai belajar cepat tidur, aku tidak ingin di marahi papa karena membiarkan mu selalu begadang." Kata Aldo.


" Siap." Jawab Beby.


" Kakak ke kamar dulu, ya!" Kata Aldo.


" Iya, kak." Jawab Beby.


Aldo pun meninggalkan kamar anaknya, dan menuju kamarnya.


Dia melihat Raisa yang sudah tertidur pulas, dia merasa tak tega jika harus membohongi istri tercinta.


Namun apalah daya, baginya Raisa adalah segalanya. Dia tidak rela jika Raisa menderita lagi, karena ulah Sarah.


Pagi pun tiba, Aldo telah rapi mengenakan jas untuk berkerja.


" Mas, jangan lupa bawa handphonenya." Pesan Raisa seraya memberikan ponsel milik Aldo.


" Oh, iya. Aku benar-benar lupa kemarin." Kata Aldo sambil menerima ponselnya.


" Jangan lupa minum susu, dan vitamin." Pesan Aldo.


" Iya." Jawab Raisa sambil mengerucutkan bibirnya.


" Jangan cemberut gitu, dong! Jadi gak cantik." Kata Aldo sambil mencubit hidung Raisa.


" Aku tahu, kalau ibu hamil pasti mempunyai perasaan sensitif. Percaya padaku, aku tidak akan membuatmu bersedih atau membuatmu menangis." Kata Aldo seraya memegang lengan Raisa dan menatap wajahnya lekat.


Raisa pun tersenyum, dia juga bingung dengan perasaannya. Kadang suka bersedih kadang bahagia. Tak biasanya dia menjadi manja, dan tidak bisa jauh dari suaminya.


" Sayang, aku berangkat dulu. Doakan selalu suamimu, agar aku selalu pergi dan pulang selamat. Serta membawakan rejeki yang banyak, untuk anak-anak kita." Ucap Aldo sambil mencium kening Raisa.


" Amin." Jawabnya.


Kemudian Aldo berjalan sambil menuntun tangan Raisa. Mereka bergabung bersama Alesha dan Beby , yang sedari tadi sudah menunggu untuk sarapan.


" Pah, kok lama amat di dalamnya?" Tanya Alesha dengan nada bicara yang sudah lancar.


" Papa, lagi berdoa sama mama. Biar mama selalu bahagia bersama papa dan kamu juga adik kamu." Kata Aldo yang lagi-lagi bahasanya tidak di pahami oleh Alesha.

__ADS_1


" Mas, kamu kebiasaan kalau bicara sama Alesha selalu seperti itu." Ucap Raisa sambil mengerutkan keningnya.


" Kak Beby gak di doain, Pah?" Tanya Alesha.


" Ale, sebaiknya kamu habiskan makanannya. Kita uda kesiangan." Tegur Beby .


" Iya, kak." jawab Alesha.


Kemudian mereka menghabiskan sarapan yang di buat oleh Celine.


Beby dan Alesha telah berangkat dengan Marcel, sedangkan Fredy bertugas menjaga Raisa di rumah.


Aldo juga telah berangkat menuju kantornya. Di perjalanan, dia mendapatkan panggilan dari asistennya Berry.


" Halo, Tuan." panggil Berry.


" Halo Berry, ada apa?" tanyanya.


" Ada seorang wanita ingin menemui anda, Tuan!"


" Siapa?" tanya Aldo.


" Namanya Sarah, dan sikapnya sungguh sangat tidak menyenangkan." kata Berry.


"Biarkan saja, aku akan pergi ke hotel terlebih dahulu." kata Aldo yang telah membuat janji dengan Arifin.


" Bauk, Tuan." jawab Berry mengerti.


Kemudian Aldo melajukan mobilnya ke arag hotel Alesha. Dia ingin mencari bukti, tentang dirinya yang dijebak oleh Sarah.


Selang beberapa menit kemudian, Aldo telah memarkirkan mobilnya di basemen. Dengan cepat dia melangkahkan kakinya menuju ruang cctv.


" Pah , maaf aku baru datang." kata Aldo sambil memeluk Arifin


" Iya , aku harap Raisa tidak merajuk lagi." kata Arifin cemas.


" Entahlah, sikapnya sering berubah-ubah. Kadang curiga, marah dan suka tersenyum sendiri. " Kata Aldo.


" Ya wajar saja, mungkin bawaan bayi. Dulu kau kan tidak menemaninya saat mengandung Alesha." ujar Arifin.


" Iya, aku harap hanya bawaan bayi. " kata Aldo.


" Tuan, sudah siap layarnya." ucap seorang karyawan yang bertugas di ruang cctv.


" Baik Tedy, kau putar pada hari minggu jam tujuh malam." perintah Aldo.


" Baik Tuan, " kata Tedy.


Tedy memutar rekaman saat jam tujuh malam, sepertinya masih acara pembukaan.


" Itu masih lama, seingatku setelah acara seminar selesai. Itu jam berapa?" kata Aldo yang mengingat lagi kejadian minggu lalu.


" Jam sepuluh." jawab Arifin.


" Iya, coba kau putara pada jam sepuluh." kata Aldo.


Tedy melakukan tugasnya, dia memutar kembali rekaman pada jam sepuluh.

__ADS_1


-


Silakan like , vote dan jangan lupa berikan poin hadiah untuk karyaku.


__ADS_2