Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 19: Semakin membenci Aldo


__ADS_3

Raisa kembali ke kantor untuk melakukan tugasnya sebagai cleaning servis. Sesampainya di pantry, dia langsung membuka jaketnya. Menyeduh teh manis hangat, sambil menunggu waktu masuk kantor.


" Sa, kamu kenapa melamun? Tuh airnya sudah mendidih." kata Lina seraya menepuk bahu Raisa.


Sontak Raisa terkejut, " Eh, iya aku lupa." segera Raisa mengangkat teko kecil yang terbuat dari stainless. Menuangkannya ke dalam gelas, setelah itu mengaduknya.


" Kamu lagi ada masalah sama Faisal?" tanya Lina penasaran, karena tak biasanya Raisa melamun.


" Enggak Lin, cuma tadi--" ucapan Raisa terhenti, dia berpikir mencari alasan.


" Tadi kenapa?" tanya Lina kembali, karena ucapan Raisa yang begitu membuat nya penasaran.


" Tadi di kampus ku ada info loker, dan aku ingin melamar." jawab Raisa dengan senyum pias.


" Loker apa?" tanya Lina.


" Asisten guru tari." jawab Raisa.


" Wah pas banget, kamu kan suka menari." ucap Lina menyemangati Raisa, karena memang Lina sudah tahu kalau Raisa gemar menari.


Saat sekolah dulu, Raisa sering mengikuti pentas seni tari di ekskul tari. Dan dia sering mendapatkan juara satu.


" Iya, tapi bagaimana kerjaanku ya?" tanya Raisa.


" Kalau gajinya lumayan, kamu pindah aja." saran Lina.


" Iya udah, nanti aku menghubungkan penyelenggaranya. Terima kasih ya Lin." kata Raisa yang memeluk Lina.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, seluruh pegawai berkemas merapikan bawaannya. Tanda pulang pun berbunyi, setelah rapi Raisa dan Lina berjalan menuju lift.


Saat pintu lift terbuka, dia melihat ada sosok Aldo di hadapannya.


Lina sudah masuk ke dalam lift, namun Raisa hanya berdiri mematung dan tak melangkah.


" Sa, ayo masuk." ajak Lina.


Raisa menolak ajakan Lina, " Lin, barangku masih ada yang tertinggal kau tunggu di bawah." ucap Raisa yang langsung berbalik menuju pantry.


Tanpa dia sadari, ternyata ada seseorang yang mengikuti di belakangnya.


Raisa pun masuk ke dalam pantry, mencoba mengatur nafasnya karena benci melihat Aldo.


Perasaan sudah mulai tenang, dan saat ingin berbalik tiba-tiba Aldo berdiri di belakangnya.


" Bugh.." Raisa menabrak tubuh Aldo.

__ADS_1


" Kau..." geram Raisa, " Menjauh dariku.." bentak Raisa yang mendorong tubuh Aldo, lalu mencoba melangkahkan kaki untuk meninggalkan nya.


Namun tangan Aldo mencegah kepergian Raisa, dia menarik lengannya lalu memeluknya.


" Apa mau mu? Aku mohon jauhi aku, jangan pernah dekati aku lagi ." lirih Raisa seraya mengeluarkan bulir air mata.


" Aku mencintaimu Raisa, dan bayangan mu selalu hadir di mataku. Bagaimana aku harus menjauhimu?" tanya Aldo yang semakin mengeratkan pelukannya.


" Lepaskan, jangan ganggu aku." kata Raisa yang mendorong tubuh Aldo.


Namun lagi-lagi kekuatan nya tak sebanding dengan Raisa.


Aldo menggendong tubuh Raisa menuju tangga darurat. Dan membawanya ke ruangannya, saat itu kantor sudah tidak ada lagi pegawai.


" Lepaskan aku..." teriak Raisa yang memukul punggung Aldo, karena dia di gendong seperti Aldo mengangkat karung beras. di pundaknya.


" Lepaskan aku .." teriak Raisa.


Namun Aldo tidak memperdulikan nya, dia tetap membawa Raisa menuju ruangannya.


Raisa di hempaskan ke atas kasur tempat mereka kemarin melakukan penyatuan.


" Akh..." pekiknya, karena Aldo dengan kasar melempar Raisa ke atas kasur king'size yang berada di dalam ruangan CEO.


* Aku mohon Aldo, jangan lakukan itu padaku. Aku sudah menikah dan bersuami." pinta Raisa seraya menyatukan kedua tangannya, memohon kepada Aldo agar jangan menyentuh nya.


Tubuh Raisa di buat kelelahan oleh permainan Aldo. Dia begitu beringas dan buas saat mencumbu Raisa. Dan tidak memperdulikan status Raisa yang telah bersuami. Seperti tubuh Raisa sudah menjadi candu baginya.


Raisa tergolek lemas tak berdaya, dia tertidur pulas di atas kasur besar nan empuk.


Aldo melihat banyak panggilan masuk dari Lina. Kemudian dia mengirimkan pesan, kalau Raisa ada urusan dan Lina disuruh pulang duluan. Handphone milik Raisa memang tidak di beri sandi, maka Aldo dengan mudah membukanya.


Aldo memandangi wajah Raisa yang begitu cantik. Tertidur dengan tubuh polos dan berselimut tebal.


Baju yang di pakai Raisa sudah koyak, dan tali pengait branya sudah putus karena Aldo memaksa untuk membuka dari tubuh Raisa.


" Sa, entahlah kenapa aku ingin selalu menikmati tubuh mu." ucap Aldo seraya mengelus pipi Raisa.


Selang beberapa jam, Raisa mulai tersadar. Matanya masih terpejam, namun dia merasakan kenyamanan di kasur yang empuk dan suhu ruangan yang dingin.


Tubuhnya terus menggeliat, dan merasakan tempat ternyaman yang pernah dia tiduri. Saat membayangkan kamar Faisal, tidak mungkin karena tidak ada AC.


Mata Raisa terbuka perlahan, seperti mimpi dia berada di kamar yang indah dan luas.


Saat merasakan tubuhnya dingin, dia mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya. Sungguh terkejut bukan main, tubuhnya polos tak memakai pakaian yang semestinya.

__ADS_1


Dia langsung bangun dan duduk, mengingat lagi kejadian yang baru saja terjadi.


Raisa menangis saat melihat pakaiannya sudah berhamburan di bawah tempat tidur.


" Apa yang telah aku lakukan?" lirihnya sambil terisak-isak.


Kemudian Aldo masuk dengan membawa makanan di tangannya.


" Kau sudah bangun?" tanyanya dengan nada santai tanpa merasa bersalah.


Raisa begitu geram dan benci melihat Aldo.


" Kau jahat, bajingan...." teriaknya sambil memukul-mukul kasur.


Aldo mencoba mendekati Raisa, namun dia di lempari bantal.


" Jangan mendekat, atau aku lapor polis kalau kau telah memperkosaku." teriak Raisa, dan dia bangun dari tempat tidur lalu mengambil pakaiannya.


Raisa menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu berpakaian.


Kemeja yang sobek, dan pengait bra yang sudah putus semakin membuat nya kesal dan marah.


Dengan cepat dia hanya menggunakan kemeja dan melapisi dengan jaketnya. Sedangkan bra dan ****** ***** nya di masukkan dalam tas.


Aldo mencegah kepergian Raisa, " Aku akan mengantarmu pulang." ucap Aldo yang memegang tangan Raisa.


" Tidak perlu, dan aku tidak sudi lagi melihat mu." marah Raisa, lalu menghempaskan tangan Aldo.


Dengan tubuh lemah nya dia berjalan meninggalkan kantor.


Raisa terus menangis sesenggukan di tepi jalan. Membayangkan tubuhnya kotor dan berdosa. Apa yang harus dia katakan pada suaminya? Apakah dia harus terus menutupi aksi bejad yang telah Aldo lakukan?


Sudah hampir jam sepuluh malam, Raisa masih duduk di pinggir jalan. Ponselnya tertinggal di ruangan CEO.


Membayangkan nasib buruk yang telah menimpa nya.


Setelah merasa tenang, Raisa pulang dengan naik ojek. Karena pukul sepuluh, busway sudah tidak beroperasi.


Sesampainya di rumah dia melihat lampu rumah sudah padam.


Mengetuk pintu dan mengucap salam, dan ternyata yang membuka adalah Reni.


Faisal belum pulang, dengan segera Raisa membersihkan diri dan mengganti bajunya.


Baju yang telah koyak dia masukkan ke kantung plastik dan akan dibuangnya.

__ADS_1


-


Silakan like dan berikan komentar mu.


__ADS_2