Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 63


__ADS_3

Alesha bermain dengan Widya dan Rani. Sepertinya alesha sudah bersikap selayaknya anak berusia 5 tahun.


" Tante, Ale mau main boneka itu dong." rajuk Ale ada kedua tantenya.


" Ale mau main boneka yang mana?" tanya Rani.


" Yang warna pink tante." ucapan Alesha.


Kemudian Rani mengambil boneka hello Kitty yang berwarna pink.


" Ale mau tidur di kamar tante, atau di kamar mama?" tanya Widya. Karena jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul 10 malam.


" Ale mau sama Mama." kata Alesha.


Kemudian Rani menggendongnya ke kamar Raisa.


" Kak, Ale udah ngantuk." Kata Rani yang sudah masuk ke dalam kamar Raisa.


" Ya sudah sini, taruh tempat tidur." ucap Raisa yang menyuruh adiknya, untuk menidurkan Alesha di atas tempat tidur.


" Kak aku mau nanya?" Kata Rani yang mulai mendekati Raisa.


" Mau nanya apa?" balik Raisa bertanya.


" Boleh aku duduk?" Rani bertanya pada Raisa.


" Ya sudah duduk." kata Raisa.


Rani pun duduk di sebelah Raisa, dan mulai membicarakan hal serius.


" Kak waktu kakak ke sini Rani nggak ada ya, Rani mau bertanya sesuatu sama kakak." Kata Rani yang sedikit ragu.


" Ya udah nanya apa?" ucap Raisa yang penasaran dengan maksud Rani.


" Kak apa benar kakak selingkuh?" tanya Rani.


" Siapa yang bilang?" Raisa terkejut mendengar pertanyaan Rani.


" Setelah kehilangan kak Raisa, keluarga Faisal datang ke rumah." Kata Rani.


" Lalu?"


" Mereka bilang kalau kakak selingkuh dan hamil." ucap Rani bersedih, " Sejak saat itu keluarga kita menjadi gunjingan banyak orang. Jualan sayur Ibu pun jarang ada yang membeli, sehingga kehidupan kami begitu miskin dan kekurangan. Dan membuat ibu jatuh sakit. bapak pun tidak lagi diterima bekerja, dia hanya menjadi kuli serabutan." tutur Rani.


" Saat Kakak kembali pun, ada tetangga juga masih membicarakan kami. Mereka mengatakan kau telah menjadi simpanan para pejabat, sehingga membuat hidup kami menjadi mewah." ucapan Rani bersedih.


" Rani yang lalu biarlah berlalu, tak usah mendengarkan tetangga. Yang penting sekarang hidup kita sudah bahagia, dan ibu juga sudah sembuh." kata Raisa menenangkan.


"Tapi Rani sedih, kakak difitnah kayak gitu sama orang-orang." Kata Rani dengan wajah yang kesal.

__ADS_1


" Tak apa Rani, nanti juga Tuhan akan membalas perbuatan mereka." ucap Raisa.


" Boleh Kakak ceritakan tentang Aldo?" tanya Rani yang penasaran dengan sosok calon kakak iparnya.


" Sebenarnya Aldo adalah ayah dari Alesha, dia yang telah memperkosa Kakak, saat Kakak masih menjadi istri Faisal. Kakak sangat marah sama dia karena saat kakak di usir oleh Faisal dari rumahnya, dia tidak ada saat kakak akan minta pertanggungjawabannya." ungkapan Raisa dengan wajah sedih.


" Tapi sebenarnya Aldo pun mencari keberadaan Kakak, semua dihalangi oleh kakeknya." kata Raisa.


" Dan beruntungnya Kakak menemukan tempat persinggahan, yang merupakan ayah dari Aldo." kata Raisa.


" Mereka keluarga yang baik yang telah merawat kakak." Tutur Raisa.


" Lalu bagaimana dengan Faisal Ka? Padahal dulu dia cinta sekali sama kakak." ujar Rani.


" Entahlah kakak bertemu dia setelah kakak ingin melahirkan, dan setelah itu kakak tidak bertemu lagi." kata Raisa.


Raisa tidak menceritakan, bahwa Faisal mempunyai penyakit kelamin.


Malam sudah larut, Rani pun kembali ke kamarnya. Raisa pun meneteskan air matanya, setelah menceritakan kembali kejadian masa lalunya kepada adiknya.


Betapa menyedihkan hidupnya kala itu, dirinya yang begitu polos dan harus menerima penderitaan yang bertubi-tubi.


Tetapi dia bersyukur, mungkin itu cara Tuhan untuk menguatkan dirinya. Membuat dirinya menjadi lebih dewasa, dan menghadirkan orang yang sayang terhadapnya.


***


" Rani, Widya kalian akan berangkat kerja?" tanya Raisa.


" Iya Kak." jawab Widya.


" Ale, Tante tinggal dulu ya!" Kata Rani yang mencium pipi Alesha.


" Iya tante." kata alesha yang langsung mencium punggung tangan Rani.


Kedua tantenya pun kini berangkat kerja, menggunakan sepeda motor.


" Raisa kamu mau makan apa?" tanya ibu yang sudah berada di dapur.


" Raisa kangen sama masakan ibu." kata Raisa yang langsung memeluk ibunya.


" Maafin Raisa ya Bu, kalian melewati hari-hari yang sangat berat saat Raisa tidak ada." ucap Raisa yang langsung memeluk ibunya dari belakang.


" Ya nggak papa Raisa Ibu ikhlas, dan sekarang ibu sangat bahagia kamu sudah berkumpul lagi sama kami." kata ibu Raisa.


" Raisa apakah kita harus mengundang tetangga-tetangga kita, ke acara pernikahan mu?" tanya Ibunya Raisa.


" Terserah Ibu saja." kata Raisa.


Kemudian mereka memasak bersama, dan Alesha pun sering bertanya kepada neneknya, tentang sayuran-sayuran yang berada di hadapannya.

__ADS_1


Karena dia tidak pernah menemui sayuran itu sebelumnya. Biasanya dia hanya makan roti dan sup.


" Aku kangen deh sayur asem sama sambel terasi buatan ibu. Tempe goreng sama ikan bulu ayam ya Bu ada nggak? " tanya Raisa yang masih mengingat makanan kesukaannya.


" Ibu tahu kesukaan kamu Raisa makanya tadi Ibu langsung belanja." kata ibu Raisa.


" Terima kasih ya bu." kata Raisa.


Alesha pun pergi menghampiri sang kakek. mereka main di ruang tamu, menonton TV dan bercanda.


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu, " Bu Jamilah.." terdengar suara perempuan memanggil nama ibu Raisa.


" Bu, siapa sih?" tanya Raisa yang menghentikan aktivitas memasaknya.


" Oh, itu Bu Cokro. Dia si tukang gosip." kata Ibu Raisa.


" Ada perlu apa dia ke sini?" tanya Raisa.


" Enggak tahu coba Ibu lihat ke depan ya!" kemudian ibu Raisa langsung berjalan, menuju pintu depan.


" Ada apa ya Bu Cokro?" tanya Jamilah, Ibu Raisa.


" Memangnya ada Raisa ya di dalam?" tanya Bu Cokro sambil melongok kepalanya ke kanan dan ke kiri.


" Iya, memang situ ada urusan apa sama Raisa?" jawab Jamilah ketus.


" Oh aku mau lihat aja, katanya dia abis dari luar negeri." tuturnya.


Kemudian Raisa keluar dari arah dapur, dan menghampiri ibunya.


" Eh kamu Raisa? Widih cantik bener kamu!" tatapan mengejek dari kedua mata Bu Cokro seraya melihat kearah Raisa.


" Ada apa ya Bu?" tanya Raisa dengan wajah yang sinis.


" Raisa coba sih Wulan itu diajak ke luar negeri, biar bisa cantik kayak kamu." kata Bu Cokro dengan tidak tahu malu menawarkan putrinya.


" Maksud ibu apa ya?" tanya Raisa yang bingung dengan perkataan Bu Cokro.


" Lah bukannya kamu simpanan pejabat? Sampai bisa tinggal di luar negeri. " cibir Bu Cokro.


" Maaf ya bu, ibu nggak usah gosip di rumah kami." bentak Raisa.


" Ih sombongnya mentang-mentang yang tinggal di luar negeri, jadi nggak sopan gitu sama orang tua." sindir Bu Cokro.


" Dasar tukang gosip, kalau nggak tahu kehidupan kami jangan suka ngegosip Bu. Sebaiknya Ibu pulang aja, daripada nanti saya pukul pake teflon." geram Raisa yang langsung mengangkat teflon di tangannya.


-


silakan like dan berikan vote serta komentarmu ya guys, kalau suka sama ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2