Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 96


__ADS_3

" Sebelumnya telah aku ingatkan, agar nyonya Raisa harus melakukan operasi sesar. Kenapa dia kekeh untuk normal?" Tanya Rebecca yang merupakan dokter kandungan Raisa.


" Dia sangat takut, jika harus melakukan operasi." Jawab Aldo.


" Pendarahan nya banyak, dan kami tidak punya pilihan lain. Jika memang istrimu selamat, mungkin takdir Tuhan. Tapi jika tidak, aku mohon kau harus mengikhlaskan." Kata Rebecca dengan wajah bersedih.


" A-pa, apa maksudmu?" Pekik Aldo, dia tidak menyangka akan di berikan pilihan sesulit ini.


" Kami bisa menyelamatkan bayinya, tapi besar kemungkinannya sang ibu akan berada di ambang mautnya. Dan kesempatan itu hanya 30%." Kata Rebecca.


" Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, saat itu sudah menyuruh nya untuk melakukan operasi. Tapi dia tidak menurutiku." Kata Rebecca.


" Apa tidak ada cara lain?" Tanya Aldo.


" Maaf, usai operasi kami tidak menjamin akan kesadaran nya. Karena pendarahan hebat saat ini. Jadi tolong tandatangani surat pernyataan operasi. Karena kami harus melakukan nya sesuai ijin keluarga pasien." Kata Rebecca.


Aldo bersedih, cepat lambat mungkin dia akan kehilangan Raisa. Tapi tidak untuk saat ini, dia berharap banyak membesarkan anak-anaknya berdua.


Aldo sungguh bahagia, saat Raisa telah membuka hati untuk nya. Memaafkan semua kesalahan terbesar nya. Dan pengorbanan nya selama ini, belum lah cukup untuk sang istri yang telah menderita.


Aldo menangis, di hadapan dokter cantik, dia tak kuasa menahan air matanya.


Berharap Tuhan memberikan keajaiban untuk nya, agar istrinya bisa selamat.


" Baiklah, aku pasrahkan pada Tuhan. Jika memang operasi jalan terbaik, aku hanya berdoa untuk istri ku agar dia selamat." Ucap Aldo dengan mata yang sudah sembab.


Aldo dengan terpaksa menandatangani surat melakukan operasi.


Rebecca segera memanggil dokter bedah, dan menyuruhnya untuk segera datang me UGD.


" Berdoalah, agar istri dan anakmu selamat." Kata Rebecca sambil menepuk pundak Aldo.


Aldo keluar dari ruangan dokter Rebecca, dengan langkah gontai.


Semangat hidupnya hilang, saat dia menandatangani surat perjanjian operasi.


" Kau, kenapa?" Tanya Arifin yang melihat gurat kesedihan di wajah Aldo.


" Dokter menjelaskan tentang nyawa Raisa setelah operasi. Dan aku harus mengikhlaskan nya." Kata Aldo sambil memeluk Arifin.


Aldo menangis, dia benar-benar bersedih saat menyambut kelahiran anaknya.


" Kita berdoa, semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk Raisa." Kata Arifin yang memeluk putranya dengan erat.


Aldo tidak ingin, anaknya kehilangan sosok ibu saat baru dilahirkan.


Aldo masih terus berharap, dokter bisa menyelamatkan nyawa istri nya.


Selang dua jam kemudian, lampu ruang emergency berhenti. Menandakan pasca operasi telah selesai. Keluarga sangat berharap ada kabar baik, setelah dokter keluar dari ruangan UGD.

__ADS_1


" Anak anda selamat, dan jenis kelaminnya laki-laki." Kata Rebecca.


" Istri ku? Bagaimana keadaannya?" Tanya Aldo penuh kecemasan.


" Maaf, kami masih melakukan observasi. Denyut jantung nya lemah, dan masih kami awasi. Karena dia terlalu banyak mengeluarkan darah." Kata Rebecca menjelaskan.


" Dokter, dokter..." Panggil perawat yang begitu panik menghampiri Rebecca.


Kemudian dia membisikkan sesuatu ketelinganya. Wajah nya tiba-tiba panik, menggambarkan ada sesuatu yang terjadi.


" Ada apa? Bagaimana keadaan istri ku?" Kata Aldo yang menarik tangan perawat.


" Maaf, Tuan. Sebaiknya anda berdoa, agar kami bisa menyelamatkan nyawa istri anda." Kata Rebecca yang melepaskan tangan Aldo dari sang perawat.


Mereka berdua telah masuk ruang operasi, lampu kembali menyala.


Aldo menuju ruangan bayi, dia melihat bayi mungil nya sedang tertidur pulas.


" Rido Junior Putra." Aldo menyebutkan nama anaknya, yang berarti Raisa dan Aldo.


Dia melamun, membayangkan betapa indahnya hidup dengan keluarga kecilnya.


Aldo, Raisa, Alesha dan Rido menambah daftar nama di kartu keluarga nya.


Rebecca kembali memanggil Aldo, kini Aldo harus masuk ke ruangan operasi.


" Anak anda ukuran nya lebih besar, dari usia kehamilan. Maka kontraksi otot rahim Nyonya Raisa gagal karena kelelahan otot rahim. Kami sudah melakukan berbagai cara, untuk menghentikan pendarahan. Namun tak juga berhenti. Dan jalan terakhir adalah, operasi pengangkatan rahim sebagai pilihan terakhir. Apakah anda bersedia melakukan operasi itu?" Tanya Rebecca, yang memberikan pilihan terakhir pada Aldo.


" Tak apa tak memiliki rahim, asalkan Raisa bisa selamat." Kata Aldo pasrah.


" Baiklah, anda tanda tangan dulu untuk prosedur operasi nya." Kata Rebecca yang menyuruh perawat memberikan selembar kertas, berupa perjanjian operasi.


Aldo menanda tangani surat persetujuan operasi pengangkatan rahim.


Kemudian dia keluar dari ruang operasi, dan masih menunggu lagi.


" Aku harap, kau bisa menolong istri ku." Harap Aldo.


" Kami akan usahakan, dan anda bantu kami dengan doa." Ucap Rebecca


Selang tiga jam kemudian, Rebecca keluar bersama dengan dokter bedah yang mengoperasi Raisa.


" Bagaimana keadaan istri ku?" Tanya Aldo dengan wajah cemas


" Kami belum tahu hasilnya, jadi harus menunggu setengah jam untuk melihat tekanan jantung nya kembali normal." Kata dokter laki-laki yang merupakan dokter bedah.


" Baiklah, aku akan tetap menunggu." Kata Aldo.


Rebecca dan dokter laki-laki itu pun pergi meninggalkan Aldo.

__ADS_1


" Kau harus sabar, Tuhan pasti memberikan kesempatan untuk Raisa merawat anaknya." Kata Merlin sambil memeluk Aldo.


" Iya, Mah!" Lirih Aldo dengan mata yang sudah sembab.


" Papa..." Panggil Alesha, yang baru saja datang dengan Beby dan Marcel.


" Nak, " sahut Aldo memeluk erat Alesha.


" Adek aku mana?" Tanya Alesha.


" Lagi bobok." Jawab Aldo.


" Mama?" Tanya Alesha


" Mama..." Aldo semakin memeluk putrinya erat, dia tak kuasa memberitahu Alesha tentang kondisi Raisa.


" Kita sedang menunggu mama, Ale doakan biar mama keluar dari ruangan itu." Kata Katie yang memberikan jawaban untuk pertanyaan Alesha.


" Kita lihat adek, yuk!" Kata Beby


" Papa, aku mau lihat adek ." Alesha melepaskan pelukannya


Alesha dan Beby juga Katie, berjalan menuju ruang perawatan bayi.


Setengah jam kemudian, dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Dokter memasuki ruang UGD, ingin denyut jantung Raisa.


Brankar berisi Raisa dan peralatan medis yang menempel di tubuh nya, dibawa ke ruang ICU. Karena Raisa mengalami koma, padahal denyut jantung nya sudah kembali normal.


Di balik kaca ruang ICU, Aldo melihat sang istri tercinta sedang terbaring dengan alat infus ditangan dan selang oksigen di mulutnya.


" Wanitaku, aku harap kau kuat. Lihat anakmu Rido, telah lahir dengan selamat." Kata Aldo dengan berurai air mata.


" Aldo, kau belum makan dari pagi. Sebaiknya isi perut mu, agar bisa menjaga istri mu." Kata Arifin sambil membawa kotak makan, yang di buatkan oleh Merlin.


" Aku tidak ***** " kata Aldo seraya menyingkirkan kotak makan yang di sodorkan oleh Arifin.


" Tapi Aldo, kau juga harus kuat dan isi perutmu. Jika Raisa sadar, melihat wajah mu pucat. Dia akan sangat sedih sekali." Bujuk Arifin.


Kemudian Aldo langsung menerima bekal makan yang di kirim oleh mamanya.


Alesha pulang bersama keluarga Arifin, sedangkan Fredy yang bertugas menjaga tuannya. Celine dan Marcel pulang, untuk mengganti tugas nya besok pagi.


Aldo duduk di emperan ruangan ICU, dia tidak ingin melewatkan kesadaran sang istri.


Nasi, tempe goreng dan sambal terasi mengingatkan nya pada masakan Raisa.


Walaupun sang istri selalu susah payah mencarikan terasi, tetap di hidangkan untuk suami tercinta.

__ADS_1


" Apa kau sudah kenyang?" Tanya Arifin yang melihat nasi di kotak makan sudah bersih tak tersisa.


" Sudah." Jawab Aldo yang memang sangat kelaparan.


__ADS_2