Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 84


__ADS_3

Sarah mengeluarkan roti croissant coklat dan di berikan pada Aldo..


" Di pantry hanya ada roti croissant, dan waffle. " Kata Sarah yang menunjukkan satu bungkus roti croissant dan satu bungkus waffle.


" Roti saja." pilih Aldo menunjukkan ke arah roti.


Kemudian Sarah memberikan sebungkus roti croissant pada Aldo, " Terima kasih." jawab Aldo.


" Eits, tunggu dulu. Boleh minta nomor handphone mu?" kata Sarah yang menahan roti di tangan nya.


" Untuk apa?" tanya Aldo, " Kau jangan macam-macam, nanti aku akan laporkan ke atasan mu." ancam Aldo.


" Ternyata, kau masih suka mengancam." tutur Sarah seraya menyerahkan roti croissant dengan pasrah.


Aldo langsung merampas roti, di tangan Sarah. Lalu berjalan menghampiri Raisa, yang telah menunggu nya sedari tadi.


" Sayang, " panggil Aldo yang melihat Raisa sudah tertidur lelap.


" Ini semua karena Sarah, kalau saja dia tidak lama memberikan roti ini padaku!" gumam Aldo seraya menggenggam roti di tangan nya.


Dari sudut lorong, Sarah hanya tersenyum puas melihat Aldo yang kesal karena istrinya tertidur.


Suara operator pun berbunyi, seluruh penumpang mulai membuka kedua matanya.


" Sudah pagi." kata Raisa yang telah terbangun, akibat cahaya matahari yang bersinar dari kaca jendela.


" Sayang, kamu lapar?" tanya Aldo seraya menyodorkan roti yang semalam dia minta pada Sarah.


" Iya, aku sangat lapar. Semalam aku ketiduran, karena menunggu kedatanganmu yang terlalu lama." kata Raisa yang langsung mengambil roti di tangan Aldo.


" Maafkan aku, Sayang." sesal Aldo, dia tidak ingin membicarakan soal Sarah yang telah menghambat nya.


" Mama, bagi Ale dong!" kata Ale yang melihat Raisa memakan roti.


" Ini, Sayang!" ucap Raisa yang membelah roti nya menjadi dua.


" Terima kasih, Mama." kata Ale yang mencoba mencium pipi Raisa.


Karena tidak sampai, akhirnya Raisa menunduk kan kepalanya.


" Mmm...muach!" suara Alesha yang terdengar mencium pipi Raisa.

__ADS_1


" Papa kok gak di cium?" iri Aldo yang langsung menepuk-nepuk pipi nya pelan.


Kemudian Alesha menoleh ke arah Aldo, segera dia mencium nya juga.


Semua penumpang bersiap untuk turun, karena pesawat akan landing.


Pramugari memberikan aba-aba, saat pesawat akan mendarat.


Penumpang berpegangan, dan mempererat seat belt nya


" Para penumpang yang terhormat, saat mendarat sudah dekat. Namun hati ini terasa pekat, mendengar jawaban yang menolak begitu cepat. Sudah lama jiwa meronta-ronta, inginkan dia tapi harus sadar dia bukan lagi siapa-siapa," ucap pramugari tersebut.


"Silahkan tetap duduk, jangan lupa jaga jarak dengan dia karena sadar dia sudah milik orang. Kencangkan sabuk pengaman dan harus tetap menerima kenyataan bahwa dia tak lagi memilih anda. Tegakan sandaran kursi agar kuat melihat dia bersama yang lainnya. Melipat hati yang telah pupus akibat dia tak lagi menoleh, memilih melupakan anda. Buka penutup jendela tapi jangan buka folder kenangan. Semua perangkat elektronik dimatikan, termasuk rasa yang masih tersimpan," tambahnya.


Semua mata tertuju pada alat pengeras suara di sisi pesawat.


Sepertinya Aldo mengenal suara pramugari, yang memberikan aba-aba.


" Sarah, sudah gila kau rupanya?" geram Aldi penuh keyakinan.


Dia tidak ingin istrinya tahu, tentang masa lalunya bersama Sarah.


Pesawat akhirnya mendarat dengan sempurna, mereka bersyukur telah sampai dengan selamat.


" Terima kasih telah menggunakan jasa pelayanan pesawat kami, semoga anda puas." ucapnya sambil menundukkan kepalanya lalu tersenyum.


Raisa berjalan terlebih dahulu, di susul Aldo yang menggendong Alesha.


" Terima kasih, Raisa. Semoga kita bertemu lagi." ucap Sarah yang menghentikan langkah Raisa.


Terlihat Aldo menatap terkejut, dengan mata yang melotot.


" Raisa, ayo." kata Aldo yang mendorong pelan tubuh Raisa agar segera keluar dari pesawat.


" Terima kasih ya, Mbak!" ujar Raisa sambil menoleh ke arah belakang.


Sarah hanya memiringkan senyum nya, dia puas karena sudah bertemu kekasih lama nya.


" Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Raisa yang bingung melihat sikap Aldo.


" Sudah, jalan saja. Kita harus segera ke dokter untuk memeriksa keadaan kamu, Sayang!" kata Aldo mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


***


Selesai mengerjakan tugasnya, Sarah langsung menuju hotel. Dia akan tinggal di Perancis, selama dua minggu. Sore hari akan mengadakan briefing, dengan para senior nya.


" Revaldo Junior Putra, " gumam Sarah mengingat lagi nama Aldo. Dia ingin mengetahui latar belakang Aldo, setelah putus dengan nya.


Sarah mencoba mencari nama Aldo di Facebook, maupun Instagram. Namun tak juga ditemukan, karena Aldo tidak pernah memiliki akun itu sebelumnya.


Kemudian Sarah mengetikkan nama Aldo, di mesin pencarian mbah. Terlihat jelas nama Revaldo Junior Putra, adalah pewaris tunggal perusahaan Wisnutama.


Sungguh mencengangkan baginya, Aldo yang memang tampan namun penampilan nya culun sewaktu SMA saat di kenalnya. Ternyata dia adalah anak orang kaya. Sungguh bodoh Sarah yang dulu melepaskan motor matic keluaran pertama, dan mengejar motor ninja milik Satria.


Aldo tak pernah berpenampilan, layaknya anak orang kaya. Rumahnya juga tidak terlihat kaya, hanya rumah dua tingkat dengan halaman yang cukup untuk lima mobil saja.


Namun lagi-lagi, Sarah terkecoh dengan penampilan Satria. Dia hanyalah seorang anak pemilik bengkel motor. Motor yang sering di pakai Satria, telah di tebus oleh pemiliknya. Dan setelah tahu Satria hanya menggunakan angkutan umum saat ke sekolah, Sarah langsung memutuskannya secara sepihak.


Namun Satria tak gentar, dia terus mengejar Sarah sampai kelulusan sekolah.


Tidak bagi Aldo, saat Sarah memutuskan nya secara sepihak. Aldo langsung melupakannya, dan trauma untuk mencintai seorang gadis.


Dia sangat menyukai Sarah kala itu, karena Sarah adalah siswa populer di sekolah.


" Coba aja aku tahu, kalau dulu Aldo anak orang kaya!" sesal Sarah seraya meremas kedua tangannya.


Kemudian dia tak habis akal, di carinya alamat kantor Aldo. Dia rela jika harus menjadi istri kedua.


" Nah, ketemu!" ucap Sarah kegirangan saat tahu alamat kantor milik Aldo.


Begitu sangat terkejut dirinya, mendapati nama perusahaan milik Aldo.


Ada sepuluh anak cabang, dan perusahaan yang Aldo kelola. Separuh berada di Indonesia, sisanya tersebar di negara Perancis, Italia dan Jerman.


Sarah hanya menggelengkan kepalanya, melihat kekayaan milik Aldo.


Namun yang dia herankan, kenapa menaiki pesawat ekonomi bukan milik pribadi?


Mungkin Aldo bukanlah tipe laki-laki yang boros, atau memamerkan kekayaannya.


Dan Sarah kembali tertarik kepadanya, " Aku akan ke kantor mu, Aldo!" seringai licik terulas di sudut bibirnya yang tipis.


Kemudian dia menutup laptopnya, dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu memikirkan rencana selanjutnya.

__ADS_1


-


Silakan like dan komentar ya!


__ADS_2