
Setelah menyelesaikan makannya, Faisal merapikan dirinya untuk bekerja. Dia akan mengambil orderan yang baru saja masuk, di aplikasi handphone nya.
" Sa, aku jalan dulu ya." Faisal pamit dan langsung mengenakan jaket ojek online.
Raisa pun tersenyum, lalu mencium punggung tangan suaminya.
Faisal sudah melajukan kendaraannya, menuju arah titik penjemputan.
Raisa kini membersihkan sisa makanan, yang ada di ruang tamu. Membawa piring kotor ke arah dapur.
Terlebih dahulu, Raisa menyapu dan mengepel lantai bagian kamar dan ruang tamu.
Saat akan membersihkan kamar bu Leha, dia berpikir untuk tidak melakukan nya. Karena masih ada beberapa orang di dalamnya, tak mungkin Raisa membersihkan nya.
Kemudian dia lanjutkan lagi, membersihkan halaman depan. Menyapu bagian latar rumah, yang terdapat ranting pohon dan daun kering.
" Nah gitu dong, jangan kerjaannya tidur mulu tiap pagi." Terdengar suara Maria yang menyindir Raisa, dia sudah keluar dari rumah bu Leha.
Raisa tidak mengacuhkan perkataan kakak iparnya, seberapa banyak kata-kata yang terlontar dari mulutnya, tak akan mengubah hati Faisal untuk pindah dari rumah itu.
Dia langsung masuk ke arah dapur, berniat akan mencuci piring sisa makannya bersama Faisal.
Di lihat begitu banyak piring di wastafel, padahal tadi mereka makan hanya ada dua piring.
Seraya menghembuskan nafas beratnya, dia mencoba bersabar dengan ujian yang kini di hadapinya.
Mau tidak mau Raisa harus mencuci semua piring yang ada di wastafel.
Usai mencuci piring, dia langsung menuju kamarnya. Sebelum menuju kamar, dia melihat ruang tamu yang kini telah kotor lagi dengan sisa makanan ringan yang di sebar oleh anak-anak Maria. Dan mereka sedang bermain lalu menumpahkan semua mainan di ruang tamu.
Dengan mata malas, Raisa langsung masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk.
Raisa menangis, membayangkan kisah hidupnya setelah menikah. Menyesal memang tidak pernah di awal, selalu saja hadirnya belakangan.
Matanya mulai mengeluarkan bulir-bulir cairan kesedihan. Membayangkan nasibnya yang malah tambah menderita.
Raisa berpikir akan melamar pekerjaan, dia akan berbicara pada Faisal. Karena merasa jenuh tinggal di rumah itu dan lelah melihat rumah yang selalu berantakan.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, karena terlarut dalam lamunan yang membuat dia tertidur. Kini Raisa terbangun dari mimpi nya, hendak melaksanakan ibadah solat zuhur.
Dia menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Niatnya saat selesai solat, dia akan makan siang.
Karena perutnya sudah sangat lapar, akhirnya dia membuka tudung saji yang berada di meja makan.
Tak ada lauk ataupun sayur, dibukanya magic com dan bersih tak ada sisa nasi.
Sungguh amat malang bagi Raisa, berharap bangun tidur perutnya akan kenyang. Kini sirna sudah, dia harus menahan lapar lagi sampai Faisal pulang.
Karena sudah tak sanggup menahan lapar, Raisa memutuskan membeli mie instan di warung Pak Kodir. Karena masih ada sisa uang belanja tadi pagi.
__ADS_1
Dia memakai baju yang sopan untuk keluar rumah, karena sekarang dia sudah menjadi istri orang.
" Kak, mau kemana?" tanya Reni yang terlihat keluar dari kamar bu Leha.
" Ke warung." Raisa menjawab dengan nada malas
" Boleh, aku ikut?" pinta Reni.
Raisa pun mengangguk, dia merasa kini mempunyai teman untuk di ajak jalan keluar rumah.
Mereka jalan bersama, menuju warung pak Kodir.
" Kakak mau beli apa?" tanya Reni.
" Mie, karena uang sisa belanja tadi hanya cukup untuk membeli mie instan, " kata Raisa yang sedikit kesal dengan perilaku keluarga Faisal. Entah apa Reni juga ikut menghabiskan semua makanan atau tidak. Yang pasti saat ini dia sungguh kesal dan marah.
" Memang kak Faisal ngasih berapa kak? Eh maaf ya, bukan aku mau ikut campur," kata Reni yang merasa tidak enak hati pada Raisa
" Lima puluh ribu, dan sudah ku belanja kan yang tadi pagi kamu ikut makan juga," tutur Raisa. " Tadi pas aku ke dapur semuanya habis tak tersisa," ujar Raisa malas.
" Oh itu, anak kak Maria yang menghabiskan. Mereka memang doyan makan, Kak," jawab Reni.
" Memang mamanya gak masak?" ucap Raisa dengan nada ketus.
" Masak Kak, cuma dia lebih sering makan di rumah ibu. Kalau di rumah nya sering dilarang, untuk di habiskan, " kata Reni.
" Eh Kak, ada Aldo." Reni berbisik di sebelah Raisa, lalu dia membetulkan rambutnya.
" Aldo, siapa?" Raisa bertanya pada Reni.
" Itu, yang mau buka gerbang hitam," tunjuk Reni ke arah Aldo, dan Aldo belum melihat keberadaan mereka.
" Oh, " jawab Raisa lalu mereka berjalan melewati rumah Aldo.
Saat Aldo berbalik badan, dia melihat Raisa dengan seorang gadis. Tapi yang dia perhatikan hanyalah Raisa.
" Raisa mau ke mana ya? Ah, aku tunggu di sini saja, sambil pura-pura mencuci motor." Aldo membuka jaketnya, dan membuka gerbang lebar-lebar. Memastikan jika nanti Raisa lewat di depan rumahnya, dia akan langsung menyapanya.
Mereka selesai berbelanja di warung pak Kodir, dan berbalik arah pulang.
" Kak, hanya beli dua bungkus mie?" tanya Reni.
" Iya, uang nya hanya cukup membeli ini," kata Raisa yang membawa bungkusan plastik hitam.
" Hey, " sapa Aldo pada dua wanita yang lewat di hadapannya. Dia memang sengaja mencuci motor di depan gerbang, hanya karena ingin melihat Raisa.
" Hey, " sapa Reni sambil tersenyum.
Padahal tujuan Aldo bukanlah menyapa Reni. Aldo adalah kakak kelas Reni yang sudah lulus. Sudah sejak lama Reni mengidolakannya.
__ADS_1
" Kak Aldo, lagi nyuci motor?" Reni mencoba menyapa Aldi sambil bergelayut di lengan Raisa.
" Hey Cantik, kamu beli apa?" Aldo melirik ke arah Raisa, tanpa menjawab pertanyaan Reni.
Reni terlihat kesal, karena dia yang menyapa Aldo, malah Aldo bertanya pada Raisa.
" Be ...," ucapan Raisa terpotong, saat Reni memperkenalkan nya sebagai kakak ipar.
" Eh Kak Aldo, kenalin Kak Raisa. Dia kakak iparku." Reni melirik sebal ke arah Raisa sambil memperkenalkan nya pada Aldo.
" Kakak ipar?" Aldo bingung dengan perkataan Reni
" Dia, istri kak Faisal." Reni menjelaskan pada Aldo yang terlihat terkejut.
" Sudah yuk Ren, perutku sudah lapar." Raisa langsung menarik lengan Reni.
Aldo pun tertunduk lesu, saat dia tahu kalau Raisa sudah menikah.
' Faisal, teman kak Anjas? ' batin Aldo yang menatap kepergian Raisa dan Reni. Anjas adalah kakak angkat dari Aldo yang kini menetap di Perancis. " Suaminya, hanya kerja sebagai tukang ojek?" Aldo mengetahui pekerjaan Faisal.
Reni begitu kesal dengan Raisa, dia berjalan mendahului Raisa.
Raisa bingung dengan sikap Reni yang berubah. Padahal tadi dia begitu baik, tapi kenapa sekarang menjauhinya.
" Ah sudahlah, untuk apa memikirkan orang. Saat ini aku sedang lapar, soal Reni masa bodoh."
Raisa di tinggal oleh Reni yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Tiba-tiba dari arah belakang ada Aldo, yang sedang mengendarai motor nya.
" Sa, kok jalan sendiri?" Aldo menyapa Raisa, dengan menjalankan motor nya pelan
" Oh, Reni jalan duluan," jawab Raisa.
" Ini untuk mu, " kata Aldo sambil memberikan bungkusan plastik berwarna putih.
" Apa ini?" Raisa mengambil bungkusan dari Aldo.
" Aku harap kita bisa berteman, " ucap Aldo lalu pergi meninggalkan Raisa.
" Eh tunggu, ini buat aku atau Reni?" Raisa berteriak.
" Untukmu ...." sahut Aldo yang sekilas menoleh ke arah belakang.
Raisa mengerutkan alisnya, kenapa pemuda itu begitu baik padanya.
🌱🌱🌱
Silakan beri tanda like dan komentar cerita ku ya.
__ADS_1