Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 25 : Keraguan Faisal


__ADS_3

Sebelumnya author minta maaf kepada para pembaca, yang tidak menjelaskan perihal hubungan ranjang Raisa dan Faisal. Karena saat author menyetor cerita 17+, tidak lolos seleksi karena terlalu vulgar.


Jadi untuk para reader nikmati saja membaca di setiap babnya sampai author menamatkan cerita nya. Terima kasih untuk kalian yang selalu setia mengikuti karya author. Maaf jika dalam cerita kurang penghayatan, dan banyak typo.


*****


Mereka sudah sampai di warung bakso, dan Faisal memesankan untuk Raisa.


" Ini Sa, bakso pakai bihun putih." kata Faisal yang sangat tahu kesukaan Raisa.


Mereka makan dengan lahapnya, karena memang sudah waktunya jam makan siang.


Selesai makan bakso, Raisa memesan es teler yang merupakan menu andalan di warung bakso.


Sembari menunggu es teler, Faisal membuka pembicaraan.


" Sa, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." jawabnya dengan mimik wajah serius.


" Ada apa? " tanya Raisa.


Butuh waktu beberapa menit, untuk Faisal menceritakan perihal penyakit nya.


Karena dia sangat takut dengan jawaban dari Raisa.


" Kok kamu malah melamun?" ucap Raisa yang menepuk tangan Faisal.


" Eh, aku ingin membicarakan hal penting padamu." ulangnya lagi.


" Hal penting apa?" tanya Raisa.


" Soal, soal...." ucap Faisal ragu, dia masih belum siap mendapat jawaban dari Raisa.


" Soal apa?" desak Raisa.


Lalu sang pelayan datang membawakan es teler pesan Raisa.


" Sebaiknya kita makan es dulu." kilah Faisal yang mengalihkan pembicaraan.


Sampai es teler habis pun, Faisal belum juga berkata-kata.


" Tunggu, kau tadi mau bicara soal apa?" tanya Raisa yang penasaran.


" Aku..."

__ADS_1


Raisa melihat jam di dinding, terlihat sudah pukul empat sore.


" Sal, aku harus ke rumah pak Arifin." kata Raisa yang langsung menarik lengan Faisal.


Faisal mengurungkan lagi niatnya untuk memberitahu soal kesehatan nya pada Raisa. Kemudian dia melajukan motornya ke rumah Arifin.


Sesampainya di sana, Raisa langsung di sambut hangat oleh Arifin yang sudah menunggu di ruang tamu.


" Bu gulu, kok lama datang nya?" tanya Beby Dananjaya yang merupakan murid Raisa yang masih berusia lima tahun. Dan putri kedua dari Arifin Dananjaya.


" Bu guru tadi makan bakso dulu sayang, diajak sama suami ibu." jawab Raisa seraya menunjuk tangan nya ke arah Faisal.


Kemudian Beby mengajak Raisa menuju ruangan tempat mereka latihan.


" Silakan duduk, " kata Arifin yang mempersilahkan Faisal untuk duduk.


" Baik pak." jawab Faisal di sambut senyum.


Lalu mereka berdua berbincang masalah pekerjaan, karena baru kali ini mereka duduk bersama.


" Saya dulunya adalah pegawai di salah satu perusahaan IT Wisnutama." papar Arifin.


" Hanya saja berhenti karena suatu hal, dan itu membuat saya menjadi pengangguran selama beberapa tahun. Hingga saya bertemu dengan istri saya yang hanya seorang pramugari." lanjut Arifin.


" Hidup kami sungguh bahagia, dan saya mulai merintis usaha sendiri. Sampai saat ini dengan modal gaji istri tiga bulan, bisa membangun bisnis yang dulu pernah saya geluti." kata Arifin.


Faisal hanya mengangguk dan kurang paham, karena dulu dia hanya lulusan SMA.


" Kami sangat membutuhkan tenaga IT, kalau kamu berminat silakan melamar." ucap Arifin menawarkan pada Faisal.


" Maaf, saya kurang paham dengan teknologi. Karena saya hanya lulusan SMA.


" Dan sepertinya perusahaan Wisnutama pernah saya dengar." ucap Faisal mengingat lagi, " Oh iya, istri saya pernah bekerja di sana. Dia menawarkan beasiswa untuk kuliah." kata Faisal.


" Beasiswa kuliah? Kok saya baru dengar ya?" bingung Arifin dengan pemberitahuan dari Faisal soal beasiswa di perusahaan Wisnutama. Karena setahu dia tidak pernah ada beasiswa selama dia bekerja dia sana kala itu.


" Iya, saya juga gak tahu persisnya. Hanya saja istri saya memang ingin kuliah dan melanjutkan cita-cita nya. Dan saya mendukung semua yang dia inginkan." ucap Faisal.


Selang satu jam, Raisa telah selesai mengajar tari balet pada Beby. Dan dia pamit kepada Arifin untuk pulang.


Istri Arifin saat ini sedang bertugas di Perancis, dia bekerja di salah satu maskapai internasional. Dan kini dia sedang di tugaskan ke Perancis selama tiga bulan. Kini sang istri menjabat sebagai direksi, dan harus bertanggung jawab mengurusi segala macam tentang penyediaan maskapai.


Walaupun mereka berdua sibuk, tak pernah merasakan hubungan yang hambar. Karena setiap hari mereka selalu berkomunikasi lewat video call. Dan Beby sang anak bungsu tak luput dari kasih sayang mereka.

__ADS_1


Arifin selalu ingat pesan kedua orang tua, kalau kasih sayang kedua orang tua tak tergantikan oleh banyak nya harta.


Jadi sebisa mungkin mereka bergantian mengasuh anak-anak nya. Mereka mempunyai dua anak, yang pertama bernama Katie Dananjaya yang kini ikut sang bunda sekolah di Perancis.


" Pah, Beby seneng deh di ajalin sama bu gulu Isa." kata Beby dengan nada bicara yang masih cadel.


" Iya, papa juga senang. Dan kamu jangan terlalu manja, karena dia sedang hamil." pesan Arifin pada Beby.


" Iya, pah. Nanti adiknya buat Beby ya?" rajuk Beby pada Arifin.


" Ish gak boleh, itukan anaknya bu guru." ujar Arifin yang langsung mengajak anaknya masuk ke dalam rumah.


Waktu menunjukkan pukul enam sore, Faisal mengajak Raisa langsung pulang ke rumah tanpa mampir lagi.


" Aku mandi dulu ya." kata Raisa yang sudah mengambil handuk dan menuju kamar mandi.


Faisal terlihat cemas dan gugup, dia bingung harus memulai pembicaraan darimana. Kalau dia bertanya pada Raisa soal anaknya yang di kandung, apakah Raisa akan marah?. Atau mungkin menceritakannya tentang riwayat penyakit nya.


Faisal terlihat mondar-mandir di ruang tamu.


" Kak, kok dari tadi mondar-mandir aja?" tanya Reni yang sedang menonton televisi.


Faisal tidak menyadari adanya Reni di ruang tamu. Karena dia begitu panik, dan takut.


Faisal terlihat sangat frustasi, tapi kenyataan harus dia sampaikan pada istrinya.


Dia tidak ingin hidup penuh kebohongan, kemudian Faisal langsung masuk ke dalam kamar.


" Ish diajak ngobrol malah kabur aja." desis Reni.


Raisa telah selesai membersihkan dirinya, dia pun masuk ke dalam kamar.


" Kamu kenapa? kok mukanya tegang gitu?" tanya Raisa yang bingung melihat wajah suaminya.


" Oh, aku...."


" Ayo cepat katakan, bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Raisa yang menggoda Faisal dengan badannya yang masih tertutup handuk.


Faisal gugup, tak biasanya Raisa menggodanya. Tapi sekeras mungkin Faisal mencoba memancing hasrat. Tak juga membuat tegang kepemilikannya. Hal itu yang sangat Faisal takutkan jika Raisa sudah menyadari hal itu.


Karena sejujurnya kepolosan Raisa, yang memang belum pernah melihat kejantanan seorang pria.


Dan kepolosan Raisa yang membuat Faisal beruntung memiliki nya.

__ADS_1


-


Silakan like dan berikan komentar mu ya.


__ADS_2