Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 28: Pertolongan Arifin


__ADS_3

Raisa memang gadis yang polos, semua yang dia lakukan sesuai keinginannya. Pikirannya memang amat pendek, karena dia tidak kuat menanggung beban derita sendirian.


Keesokan paginya Raisa baru tersadar, dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


Berharap dia sudah meninggalkan dunia, yang penuh kekejaman pada dirinya. Dia berpikir bahwa dirinya sudah berada di neraka, karena orang bunuh diri pasti rohnya tidak akan di terima.


Tetapi kenapa suhu udaranya sangat dingin, juga kenapa ruangan nya berwarna putih semua. Dan pergelangan tangan nya terasa sakit, di keduanya terlihat perban dan jarum infus.


Apakah neraka senyaman ini, berada di kasur empuk dan selimut yang tebal. Oh pantas saja orang pada bunuh diri kalau tertimpa masalah, batin Raisa.


" Kau sudah bangun?" suara serak laki-laki terdengar dari sebelah nya.


Apakah itu malaikat maut, atau malaikat penanya dalam kubur? Oh tapi ini bukan kuburan, seperti di dalam ruangan. Raisa masih menebak-nebak keberadaan nya.


Tiba-tiba pria paruh baya yang biasa di panggil Arifin pun berdiri di sampingnya.


Oh tidak, Raisa masih di dunia. Dia masih hidup, dan terus mengaung di telinga nya. " Aku masih hidup."


" Raisa, kamu sudah sadar?" tanya Arifin yang berdiri di sebelahnya.


" Pak Arifin, apa aku ...." kalimat itu terhenti.


" Iya kamu masih hidup, aku harap kau jangan berbuat konyol lagi." tegasnya menatap lekat ke arah Raisa.


Raisa pun menangis, suaranya terdengar mengisi seluruh ruangan.


" Hah, hmmmm..." mencoba menutup wajahnya, namun kedua tangan nya tak berdaya karena yang sebelah kanan di infus, dan kiri di perban.


Air mata mulai banjir membasahi pipi mulus Raisa.


" Tenangkan dirimu, sebaiknya kau minum dulu." kata Arifin yang menyodorkan segelas air mineral pada Raisa.


Raisa pun menerima dan meminumnya, seketika tenggorokan menjadi basah dan sejuk.


" Bisa kau jelaskan pelan-pelan tentang masalah mu?" tanya Arifin yang sudah duduk di sebelah tempat tidur Raisa.


" A-ku..." ragu Raisa, namun jika dia tidak bercerita mungkin bebannya akan terus bertambah.


" Apakah bapak akan membenciku setelah mendengar ceritaku?" tanya Raisa mencoba meyakinkan Arifin.


" Alasan apa aku membencimu?" tanya balik Arifin, karena memang dia tidak tahu tentang masalah Raisa.

__ADS_1


" Suamiku mengusirku, karena anak yang aku kandung bukanlah anaknya?" ucap Raisa dengan tegar, mencoba menguatkan dirinya.


" Lalu?" Arifin tidak ingin membuat Raisa bersedih, dia hanya mencoba mendengarkan keluhan Raisa.


" Aku menghampiri orang yang menghamili ku, namun dia pergi ke Perancis." ujar Raisa.


Arifin merasa geram dengan cerita Raisa, dia tidak bisa menyalahkan siapapun atas kejadian Raisa.


" Lalu kenapa kau nekat bunuh diri?" tanya Arifin.


" Aku bingung, pasti kedua orang tuaku akan malu jika mendengar aku di usir oleh suamiku dan mengandung anak orang lain." tangis Raisa kembali pecah, memekakkan telinga yang mendengarnya.


Arifin mencoba bijak mendengar keluh kesah Raisa.


" Boleh aku bertanya?" tanya Arifin yang sedikit ragu


Raisa pun mengangguk kan kepalanya, menandakan setuju.


" Kenapa kamu bisa hamil sama orang lain, tapi bukan dengan suamimu?" tanyanya, " Tapi aku tidak mau membahas lebih, karena itu masalah mu. Dan maaf jika aku sudah ikut campur." tutur Arifin.


" Suamiku mandul, dan aku baru mengetahuinya semalam. Lalu aku diperkosa oleh laki-laki di tempat ku bekerja. " ungkap Raisa.


Arifin mengiba melihat Raisa yang terus menangis. Begitu miris nasib Raisa, setelah mengetahui kemandulan suaminya, lalu di usir saat tahu anak yang di kandung nya bukan anaknya. Bukan kemauan Raisa untuk hamil, semua karena lelaki bejat yang kurang ajar dan tidak bertanggung jawab. Arifin pun geram, lalu dia memutuskan untuk menampung Raisa di rumahnya.


" Tidak Pak, nanti apa kata orang jika aku tinggal bersama anda?" tolak Raisa.


Arifin berpikir lagi, benar juga yang di katakan Raisa.


" Ya sudah, nanti aku akan membayar sewa kontrakan untuk kau tinggali. Nanti aku akan membiayai semua kebutuhan mu." kata Arifin.


" Tidak pak, aku tidak enak. Nanti aku tidak bisa membayar semua kebaikan anda." Raisa menolak lagi permintaan Arifin.


" Huft..." Arifin menghela nafasnya berat, dia bingung harus menolong apalagi.


" Atau kau bisa mengajar anakku, selama kau mampu nanti aku akan membayarnya? Apa kau masih menolak tawaran ku?" tanya Arifin.


Raisa berpikir, jika permintaan yang terakhir Arifin harus dia turuti.


" Baiklah Pak, aku akan berusaha semampu ku agar bisa mengajarkan Beby. " kata Raisa.


" Tapi kau tidak boleh lagi bunuh diri, kau harus menjaga kandungan mu." pinta Arifin, " Dan jika butuh sesuatu langsung hubungi aku."

__ADS_1


" Baik Pak." jawab Raisa.


Lalu Raisa di datangi oleh suster untuk di periksa keadaan nya.


****


Sudah sembilan bulan kandungan Raisa, namun dia tidak pernah merasakan ngidam. Layaknya wanita normal yang tidak hamil. Dia begitu leluasa mengerjakan pekerjaannya.


Tinggal di kontrakan kecil, dan semua biaya di tanggung oleh Arifin.


Sebelumnya Arifin berdiskusi pada istrinya, dan sang istri percaya kalau Arifin adalah lelaki setia.


Setiap pagi Raisa harus mempersiapkan diri untuk bekerja di sekolah tari. Dan siangnya dia akan mengikuti kuliah. Kalau mengajar di rumah Arifin tidak setiap hari, Beby mengambil jadwal seminggu tiga kali. Namun bayarannya melebihi dari gajinya sebagai guru tari.


Entah di dalam hati Arifin, dia merasa dekat dengan anak yang di kandung Raisa.


" Bu Gulu, aku bawakan kue untuk bu gulu " kata Beby yang sudah ada di depan pintu kontrakan Raisa.


" Ya ampun Beby, kamu tuh gemesin banget sih. Perhatian banget sama ibu." ujar Raisa.


" Iya karena aku cayang sama adek yang di sini." kata Beby seraya mengelus perut Raisa yang sudah keliatan sangat menonjol.


Batinnya meringis, orang lain bisa sangat menyayangi nya. Tapi tidak dengan suami maupun si Aldo yang telah memperkosanya.


" Terima kasih ya kuenya, nanti ibu makan di sekolah. Sekarang ibu jalan kerja dulu ya." kata Raisa yang mencium pipi Beby.


Beby mengantarkan Raisa sampai gerbang kontrakan. Lalu Beby pulang bersama bibi dengan mengendarai sepeda mininya.


Setiap pagi Beby selalu mengantar sarapan untuk Raisa dengan menaiki sepeda mini.


Karena jarak antara rumahnya dan kontrakan Raisa hanya seratus meter. Dan itupun kontrakan milik Arifin, namun dia tidak mengatakan apa-apa. Takut Raisa menolak lagi dengan pertolongan nya.


****


Sembilan bulan berlalu, tubuh Aldo semakin pucat dan kurus. Tak ada yang tahu tentang penyakitnya.


Sudah banyak dokter hebat yang di datangkan oleh Wisnu. Namun tak juga menyembuhkan penyakitnya.


Padahal Aldo hanya tak ***** makan, dan sering mual serta muntah.


Mungkin itu adalah ngidamnya Raisa, dan tidak dialami oleh Raisa.

__ADS_1


-


Silakan like dan berikan komentar.


__ADS_2