
Arifin pun naik mengikuti Bianca, dalam hati nya Bianca melihat sosok Arifin persis seperti bosnya.
" Kenapa penampilan tuan ini sama seperti Aldo ya?" gumam Bianca sambil mengamati Arifin dari atas hingga ke bawah.
" Ada apa nona melihat atasan saya?" tegur Daniel yang merupakan tangan kanan Arifin.
" Oh tidak. " jawab Bianca seraya menggelengkan kepalanya.
Pintu lift pun terbuka, dan Bianca keluar terlebih dahulu kemudian di susul oleh Arifin dan Daniel.
" Tuan, ada tuan Arifin." lapor Bianca pada Aldo.
" Iya silahkan suruh masuk." titah Aldo.
Lalu Bianca memanggil Arifin dan asistennya, untuk masuk ke ruang rapat.
Arifin pun melangkahkan kakinya masuk ke ruang rapat. Dahulu dialah yang bertugas memimpin rapat direksi. Namun kini harus di urus oleh CEO nya sendiri.
" Tuan Arifin?" tanya Aldo yang menatap lekat ke arah Arifin, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Iya." jawab Arifin yang menerima uluran tangan Aldo.
" Wajahnya mirip sekali dengan tuan Arifin saat muda." batin Daniel yang melihat paras Aldo.
" Baiklah silakan duduk." ucap Aldo yang mempersilahkan tamunya untuk duduk.
" Apakah Pak Wisnu masih menjabat sebagai CEO di sini?" tanya Arifin yang kembali mengingat masa lalunya.
" Oh rupanya anda sudah sangat mengenal kakek saya." ujar Aldo sambil tersenyum.
" Iya, dialah orang yang memecatku secara tidak hormat. Dan aku akan membalasnya." batin Arifin.
" Tapi bagaimana dengan kabar Alesha?" Arifin ingin menanyakan hal itu ke Aldo, namun dia sungkan karena yang pasti Aldo adalah anaknya bersama laki-laki pilihan Wisnu.
****
*Flashback
_____________
" Berani-beraninya kau mendekati putriku, mulai hari ini kau ku pecat*." *titah Wisnu sambil melempar berkas ke wajah Arifin.
" Tapi pak, apakah suatu kesalahan jika saya mencintai putri bapak?" ucap Arifin mengiba.
" Itu kesalahan yang amat fatal, kau tahu kedudukan mu tak sebanding dengan kami. Kau hanya pegawai biasa, sedangkan anakku telah aku jodoh kan pada pemilik Albertino Group." hardik Wisnu.
" Sekarang pergilah." usir Wisnu.
Lalu Arifin pun keluar dari kantor nya dengan wajah kusut. Saat menuju lobi kantor, terlihat Alesha yang sedang menunggu nya.
__ADS_1
" Ale, kita mau kemana?" tanya Arifin yang bingung melihat Alesha menarik tangan nya.
Arifin pun dimasukkan ke dalam mobilnya, lalu mereka pergi meninggalkan kantor Wisnutama.
" Ale, ayahmu tidak setuju dengan hubungan kita." kata Arifin yang menatap Alesha.
" Aku tidak perduli, aku tidak ingin menikah dengan bajingan itu. Kau tahu kalau Johnson Albertino mempunyai banyak kekasih di luar. Namun ayahku tidak mempercayai itu. Yang dia tahu hanya soal bisnis." ungkap Alesha yang matanya masih fokus melihat jalanan.
" Tapi Ale, --" ucapan Arifin terhenti.
" Aku sangat mencintaimu, kau selalu ada di saat aku membutuhkan mu. Dan aku yakin bisa hidup bahagia bersama mu." kata Alesha yang membawa Arifin ke sebuah desa kecil.
Alesha ingin membangun rumah tangga bersama Arifin. Dia tidak memperdulikan kekuasaan ayahnya, yang pasti Alesha tidak ingin dijodohkan dengan Johnson.
Mobil mereka telah sampai di sebuah desa kecil, dan terdapat vila kecil yang tertata rapi.
Entah Alesha tahu dari mana tempat yang terpencil itu. Yang pasti kini mereka sudah bersama.
Mereka masuk ke dalam rumah, dan merapikan perabotan yang tertutup kain putih.
" Ini adalah rumah ku, aku sengaja membelinya untuk rumah tangga kita " kata Alesha sambil mendekati Arifin.
" Tapi Ale, aku hanya pegawai kecil dan kini sudah di pecat. Apa kau sanggup hidup miskin denganku?" tanya Arifin.
" Aku sangat mencintaimu, " ucap Alesha yang sudah mencium bibir Arifin.
Arifin dan Alesha menyatukan cinta mereka di rumah kecil, yang akan menjadi saksi bisu dalam pertempuran panas.
Pagi pun tiba, Alesha di kejutkan dengan suara ketukan pintu yang teramat keras. Segera dia memakai bajunya, dan membangunkan Arifin.
" Rif, coba kau lihat siapa yang datang. Setahuku tidak akan ada tamu yang ke sini." kata Alesha.
Kemudian Arifin memakai bajunya, lalu menuju pintu.
Alesha pun mengikuti Arifin di belakangnya, memastikan bahwa orang yang bertamu hanya tetangga dekat.
" Brak..."
Pintu terbuka kasar, lalu tubuh Arifin di dorong ke belakang hingga dia terjatuh.
" Sungguh hebat kau telah menyihir anakku." umpat Wisnu yang menodongkan pistol ke arah Arifin.
" Ayah, apa yang kau lakukan?" teriak Alesha sambil menghampiri Arifin yang duduk di lantai.
" Bawa dia." Titah Wisnu yang menyuruh anak buahnya mengambil Alesha.
" Tidak, aku hanya ingin hidup bersama Arifin. Bukan dengan playboy seperti Johnson." berontak Alesha yang ingin melepaskan cengkraman tangan pengawal Wisnu.
" Cepat bawa dia." Titahnya dengan nada suara yang keras.
__ADS_1
" Tidak, aku mencintai Arifin. Lepaskan aku, jangan ganggu dia ayah." teriak Alesha yang sudah masuk ke dalam mobil lalu di kunci.
" Sudah kubilang jangan dekati anakku." hardik Wisnu, yang langsung menendang Arifin.
" Tuan, jangan sakiti Alesha. Aku akan balik ke Indonesia, tapi aku mohon jangan sakiti dia." kata Arifin sambil memeluk kaki Wisnu.
" Kau sangat bodoh, mana mungkin aku menyakiti anakku sendiri. Sebagai hukumannya, aku putuskan untuk memblacklist namamu pada setiap perusahaan. Itulah akibat nya karena kau telah berhubungan dengan ku " seringai licik terulas di senyum Wisnu.
Kemudian Wisnu meninggalkan Arifin yang diam terpaku.
" Alesha, aku harap kau hidup bahagia." lirih Arifin*.
_________
" Kakek saya kini sudah pensiun, dan kini saya sebagai cucunya yang meneruskan semua usahanya." ucap Aldo.
" Oh, jadi kau anak Alesha." ucap Arifin yang sangat mengetahui kalau Wisnu hanya mempunyai satu putri tunggal.
" Bagaimana anda tahu nama mama saya?" tanya Aldo yang menatap curiga.
" Ah saya hanya mengenal saja, karena kakek mu sungguh sangat terkenal bukan?" ucap Arifin penuh penekanan.
" Bagaimana kabar mamamu?" tanya Arifin yang sangat ingin mengetahui keberadaan Alesha.
" Mamaku sudah meninggal sehari setelah melahirkan ku, dan ayahku langsung menikah lagi setelah kepergian mamaku." ucap Aldo bersedih.
" Kurang ajar kau Johnson, setelah kau renggut manisnya malah kau tinggalkan." geram Arifin dalam hatinya.
" Baiklah, kita tidak usah membicarakan masalah pribadi. Kita lanjutkan lagi soal kerjasama." kata Aldo yang membuyarkan lamunan Arifin
" Oh iya, mari kita lakukan." ujar Arifin yang langsung membuka berkasnya.
Pertemuan mereka berlangsung dua jam lamanya, karena pembahasan yang alot.
Hingga Aldo memutuskan untuk memakai jasa Arifin, untuk memegang proyeknya di Indonesia.
" Baiklah, kami permisi dulu. Sampai jumpa di Indonesia." kata Arifin yang pamit pada Aldo.
" Sama-sama, semoga kerjasama kita berjalan dengan baik."
Setelah bersalaman, kini Arifin pergi meninggalkan ruang rapat.
Dalam hati Aldo bertanya, kenapa Arifin sangat mengenal sekali tentang kakek dan ibunya.
Padahal perusahaan Arifin baru saja dia ketahui, dan bukan pemain lama. Dan bukan termasuk dalam daftar kliennya.
-
Silakan like dan berikan komentar mu.s
__ADS_1