
" Raisa.." panggil Fay yang ingin menghampiri Raisa dan Aldo
" Do, dia mencampuri minuman dengan sesuatu. Rasanya seperti saat kau memberi minum padaku." ucap Raisa terbata-bata sambil menahan efek dari obat yang di berikan oleh Fay.
" Kau tunggu di sini." kata Aldo yang melepas pelukan Raisa.
Kemudian Aldo langsung menghampiri Fay, " Bugh." satu kepalan tangan telah mendarat di wajah Fay.
" Hey apa yang kau lakukan?" teriak Fay yang meringis kesakitan.
" Kurang ajar kau, apa yang akan kau lakukan pada Raisa?" tanya Aldo yang kembali memukul Fay, namun di tangkis dengan tangan nya.
Perkelahian terjadi, sementara Raisa begitu tersiksa dengan reaksi obat itu.
" Aldo.." panggil Raisa , dengan posisi sudah duduk di aspal sambil menarik-narik kemejanya.
" Awas kau, tak akan ku lepaskan." ancam Aldo yang melepaskan cengkeramannya.
Kemudian Aldo langsung berlari menuju Raisa, dan memapahnya ke dalam mobil.
Fay hanya diam terpaku melihat Aldo membawa Raisa, tubuh nya penuh luka lebam.
Aldo dan Raisa sudah masuk ke dalam mobil. Terlihat Raisa sudah sangat gelisah, dengan menarik-narik kemejanya. Dengan wajah yang menahan keinginan hasratnya. Dia begitu tersiksa hingga menjambak rambut nya sendiri.
" Tolong aku Aldo." lirihnya sambil menatap Aldo dan menggigit bibir bawahnya.
Aldo merasa kasihan melihat Raisa yang menderita. Akhirnya dia membawa Raisa menuju rumah nya.
Jika dia membawa Raisa menuju rumah Arifin, pasti keluarga nya akan bertanya-tanya tentang sikap Raisa.
Karena tidak tahan dengan efek obat nya yang begitu keras, Raisa langsung membuka bajunya. Untung dia memakai tank top, dan terus memegang seluruh badannya.
" Raisa apa yang kau lakukan?" tanya Aldo.
" Aku tidak tahan Aldo.. ah..!" terdengar ******* nya mendarat di bibirnya yang mungil.
Kemudian dia langsung memeluk Aldo dengan erat.
" Aldo tolong aku.." ucap nya memohon.
Entah apa yang Aldo pikirkan, dia bingung harus berbuat apa untuk menghilangkan efek samping dari obat perangsang yang di berikan oleh Fay.
Raisa mencoba mengetukkan kepala nya ke jendela mobil. Dia merasa sudah tidak kuat, karena seluruh badannya terasa panas. Panas karena ingin melakukan sesuatu, yang bisa melampiaskan hasratnya.
" Aku tidak kuat Al,,"
" Raisa, apa yang kau lakukan? Sabarlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah ku." kata Aldo yang menarik tubuh Raisa lalu memeluk nya erat.
__ADS_1
Dia mencoba menghentikan Raisa menyakiti dirinya sendiri.
" Peluk aku." ucap Aldo.
Lalu Raisa mengeratkan pelukannya, agar dia bisa menahan gejolak nya.
" Aku tidak ingin seperti dulu, aku gak kuat." ucap Raisa sambil menangis.
" Aku akan membantu mu." kata Aldo yang sudah memarkirkan mobilnya di garasi.
Segera Aldo langsung keluar dari mobil, dan membawa Raisa dengan cara menggendong nya.
Raisa di bawa ke kamar Aldo, dan langsung ke kamar mandi. Dinyalakan nya shower, agar Raisa merasa dingin dan menghilangkan efek obat nya.
" Mandilah, aku akan menunggu di luar." perintah Aldo yang sudah menaruh Raisa di bathtub.
Namun langkah Aldo tertahan saat akan membalikkan badannya. Tangannya di tarik oleh Raisa. Dan dengan ***** yang tertahan sejak tadi, membuat Raisa menjadi agresif.
Aldo mencoba mencegah nya, namun sayang kata hati nya menolak.
Dia mengikuti permainan Raisa yang sudah menarik nya masuk ke dalam bathtub.
Selang satu jam, akhirnya Raisa terlihat lemas tak berdaya. Karena obat yang di berikan oleh Fay, dosis nya sangat tinggi.
Melihat Raisa sudah kepayahan, Aldo langsung mengangkat tubuh Raisa yang sudah polos tanpa bahan melekat di tubuhnya.
Aldo berjanji akan segera menikahi nya, dan tak akan membiarkan siapapun menganggu Raisa.
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam, Aldo telah menghubungi Arifin kalau Raisa berada di rumah nya.
Dia berada di ruang kerjanya, ingin melakukan sesuatu rencana untuk Johnson termasuk Fay.
Di dalam kamar, Raisa mulai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Terasa pusing dan badannya sakit semua.
Dia terkejut dengan pemandangan yang berada di hadapannya. Ini bukan kamarnya, namun dia bingung dengan seisi ruangan yang begitu besar.
Baju yang dikenakan nya sangat besar, berupa kaos berwarna putih polos. Dan juga memakai celana boxer. Aldo tidak memilki baju wanita, terpaksa dia memakai kan Raisa kaosnya dan celana boxer bergambar Doraemon.
Raisa melihat ada foto dirinya bersama Alesha, di atas meja sebelah tempat tidur.
" Aldo, ini kamar nya?" ucapnya bermonolog sendiri.
Kemudian dia langsung bangun dan melihat isi kamarnya. Sangat rapi dan sungguh besar kamar yang di tinggali oleh Aldo hanya sendiri.
Raisa penasaran dengan keberadaan Aldo, dimana dia?
Lalu Raisa memutuskan untuk mencari Aldo, dia membuka pintu kamar.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Raisa melihat pemandangan di hadapannya. Bangunan yang sangat luas, dengan interior gaya Eropa seperti istana.
" Apa Aldo tinggal sendiri di tempat ini?" lirihnya dan begitu takjub.
Raisa menyusuri setiap sudut ruangan, tak nampak keberadaan Aldo.
" Rumah sebesar ini apakah hanya ada dia?" gumamnya tak melihat ada seseorang di dalam rumah.
Semua pekerja akan di harus kan tidur, dan hanya penjaga rumah yang membuka matanya. Itu juga harus berjaga-jaga di gerbang depan, yang jaraknya 500 meter dari pintu utama.
Raisa mencari dapur, tenggorokan nya sangat haus. Lalu matanya tertuju pada sebuah ruangan yang pintunya terbuka.
" Aldo pasti di sana." ucapnya, dan langsung melangkah kan kaki menuju sudut ruangan yang pintunya terbuka.
Raisa membuka pintu, dan benar saja ada Aldo yang sedang duduk di belakang meja.
" Aldo.." Panggil Raisa.
Aldo pun melihat seseorang yang memanggil namanya. Dia mengamati Raisa dengan pakaian yang di pakai nya. Walaupun kebesaran tapi meninggalkan dua titik di bagian dadanya. Aldo lupa untuk memakai kan pakaian dalam wanita untuk Raisa. Karena memang dia tidak memiliki nya.
Raisa berjalan mendekati Aldo, dia tidak sadar kalau Aldo sedang memandangi nya karena baju yang dikenakan nya.
" Kau sangat seksi Raisa." batin Aldo dengan senyum tipis nya.
" Maafkan aku." kata Aldo yang tidak henti memandang keseksian Raisa.
" Perutku lapar, apa kau tidak punya makanan?" tanya Raisa memelas.
Kemudian Aldo mengalihkan pandangannya, dia takut hasratnya terpancing lagi oleh dua titik yang menonjol di hadapannya.
Lalu Aldo berdiri, dan menuntun Raisa keluar dari ruang kerjanya.
" Duduklah di sini, kau mau makan apa?" tanya Aldo yang sudah membuka kulkas dengan ukuran besar.
" Apa kau bisa masak?" tanya Raisa, " Rumah sebesar ini apa tidak ada pelayan nya?"
" Aku memberikan kesempatan istirahat pada pekerja ku usai pukul sembilan malam." kata Aldo.
" Oh, ya sudah kau masak apa saja pasti akan aku makan." kata Raisa sambil tersenyum.
" Senyuman mu selalu membuatku bahagia." tutur Aldo seraya mengambil celemek di sebelah kulkas.
" Ih gombal " ucap Raisa sambil mengerucutkan bibirnya.
-
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1