
Lina menghampiri Raisa yang sedang duduk di sofa. Mereka pun saling berpelukan melepas kerinduan.
" Sa, kamu kemana aja sih? Aku kangen banget sama kamu." ucap Lina sambil memeluk Raisa.
" Aku juga kangen sama kamu." kata Raisa yang membalas pelukan Lina.
" Ehem.." terdengar suara Aldo berdehem
" Eh maaf pak, ini laporannya." Lina menyerahkan map berwarna merah kepada Aldo.
" Aku ngasih laporan ini dulu, ke Pak Aldo ya." kata Lina sambil tersenyum.
Usai menyerahkan map, Lina langsung pamit keluar ruangan sambil menuntun Raisa.
" Pak, Raisa boleh saya bawa ya!' ucap Lina meminta izin pada Aldo.
Aldo pun menganggukkan kepalanya menandakan setuju.
Raisa dan Lina pun keluar dari ruangan Aldo. Mereka menuju meja kerja Lina.
" Aku sekarang naik jabatan menjadi sekretaris." ucap Lina dengan wajah senyum sumringah.
" Selamat ya, kamu naik jabatan." kata Raisa.
" Aku juga nggak tahu, kenapa Pak Aldo mengangkat aku menjadi sekretaris nya." lapor Lina.
" Mungkin kinerja kamu baik, dimata Aldo." kata Raisa.
" Eh tunggu, kamu manggil pak Aldo itu dengan sebutan Aldo?" tanya Lina yang bingung dengan ucapan Raisa.
" Eh, oh!" Raisa menjadi salah tingkah.
" Sebenarnya, ah sebaiknya nanti saja aku ceritakan, nggak enak kalau kita ngobrol di kantor." kata Raisa.
" Ya udah, setengah jam lagi kan istirahat. Kita ngobrolnya di kafe aja." saran Lina.
" Oh iya ide bagus, kebetulan aku lapar." kata Raisa sambil memegang perutnya.
" Aku kerja dulu ya, kamu lihat-lihat aja ruangan kantor kita yang dulu." bisik Lina sambil terkekeh.
" Aku mau lihat-lihat kantor dulu ya!" seru Raisa, kemudian melangkahkan kakinya menuju lift.
Ruangan pertama yang ingin dikunjungi adalah pantry. Tempat pertama kali, dia menginjakkan kaki di kantor ini.
" Masih sama, dan tidak ada perubahan sama sekali." kata Raisa, yang sudah masuk ke dalam pantry.
" Maaf Mbak, ada perlu apa ya di pantry?" tanya salah satu office girl yang mungkin belum mengenal Raisa. Sepertinya usai kepergian Raisa, banyak orang baru yang bekerja di pantry.
" Kenalkan nama aku Raisa, dulu aku pernah bekerja di kantor ini. Dan tepatnya di ruangan ini, aku sering bercanda bersama temanku." sapa Raisa sambil mengulurkan tangannya.
" Aku Jenny, baru 2 bulan bekerja di sini." kata gadis yang memakai seragam berwarna biru dongker, " Nama panjangku, Jenita Rahayu." sambil tersenyum.
__ADS_1
" Hi Jenny!" sapa Raisa, kemudian mereka berbincang lama, menunggu waktu jam istirahat.
Dering telepon terdengar, dan menghentikan perbincangan mereka. Segera Raisa menjawab panggilan telepon yang masuk.
" *Halo! "
" Halo sayang, kamu sekarang ada di mana?"
" Aku di pantry, sedang ngobrol sama karyawan sini."
" Baiklah aku akan ke sana, tunggu aku ya jangan ke mana-mana!"
" Iya*."
Kemudian Raisa mematikan telepon selulernya. Lalu memasukkannya ke dalam tas. Selang beberapa menit, datanglah Aldo sudah rapi mengenakan jas nya.
" Pak Aldo." terdengar pelan ucapan dari Jenny.
" Maaf Bu Raisa." kata Jenny dengan suara yang gugup.
" Tenang Jenny, tidak usah terlalu formal terhadapku." kata Raisa sambil mengusap bahu Jenny.
Jenny merasa takut karena tadi dia telah menjelek-jelekkan atasannya, yang terlihat sangat dingin dan kaku.
Raisa hanya tertawa kecil, melihat Jenny yang tertunduk malu.
" Oh kalian sudah kenal rupanya?" tanya Aldo sambil melihat kearah Jenny.
" Jenny, Aku tinggal dulu ya! Selamat bekerja." kata Raisa.
Raisa dan Aldo pergi meninggalkan pantry. Dan diiringi dengan wajah Jenny, yang terlihat sangat takut dan berkeringat dingin.
" Huft, benar-benar mendebarkan. Apa yang dipikirkan bu Raisa ya? Kalau aku tadi sudah menjelek-jelekkan suaminya." kata Jenny sambil menghela nafas kasar, dan belum tahu tentang hubungan mereka.
" Do, Aku mau mengajak Lina makan siang boleh?" tanya Raisa yang berada di sebelah Aldo.
" Ya sudah, telepon dia saja." kata Aldo sambil menggandeng tangan Raisa.
" Tapi sepertinya ini pembicaraan wanita, sebaiknya kau tidak usah ikut." kata Raisa yang tidak ingin mengajak Aldo untuk makan siang.
" Lalu aku makan sama siapa?" Tanya Aldo.
" Kamu makan sendiri aja dulu, atau tidak kamu telepon saja papa." kata Raisa yang memberikan pilihan pada Aldo.
" Ya sudahlah, kau hampiri saja Lina." kata Aldo pasrah.
Raisa langsung melepaskan tangannya dari Aldo. Kemudian dia berjalan menuju ruangan sekertaris, untuk menemui Lina.
" Lina, apa kau sudah siap?" Panggil Raisa yang sudah berada di depan pintu.
" Eh kau Raisa, sudah aku sudah siap." lina langsung membawa tas kecilnya yang berisi handphone dan dompet.
__ADS_1
Mereka berjalan bersama, sambil menggenggam erat tangan menuju lift. Kedua sahabat itu memang tidak bisa dipisahkan, karena memang mereka berteman sejak SMP.
Raisa memesan taksi, lalu naik pertama Lina.
" Aldo mana Eh salah Pak Aldo." kata Lina yang salah mengucap.
" Aku menyuruhnya makan sendiri." ucap Raisa sambil tertawa kekeh.
" Ih kamu jahat banget, dia kan bakal jadi calon suami kamu." ucap Lina sambil mencubit lengan Raisa.
Mobil pun melaju, menuju ke arah restoran yang telah sesuai dengan aplikasi di ponsel milik sang supir taksi.
Jaraknya tidak begitu jauh, hanya saja berseberangan dengan kantor milik Aldo.
" Sudah sampai mbak!" kata supir sambil menoleh ke arah belakang.
" Terima kasih pak!" kata Raisa yang langsung membayar ongkos taksi nya.
" Mbak, ini kebanyakan." kata supir yang menerima uang pecahan seratus ribu sebanyak lima lembar.
" Buat keluarga anda di rumah." jawab Raisa sambil tersenyum.
" Terima kasih ya mbak, semoga mbak selalu sehat dan banyak rejeki juga dapat jodoh yang baik." kata supir teriring doa yang panjang.
" Amin ." kemudian Raisa turun dari mobil, di susul oleh Lina.
Mereka mencari posisi duduk yang nyaman untuk berbicara.
" Aku pesan makanan dulu, kamu cari tempat." kata Raisa.
" Iya, " jawab Lina mengangguk.
Raisa memesan makanan ala timur tengah, karena saat ini dia tertarik dengan nasi mandhi.
Selang beberapa menit, pelayan membawakan menu yang di pesan oleh Raisa.
" Nasi Mandhi kambing, dan Kabsah rice chicken. Dan segelas jus jeruk dan jus melon." kata pelayan yang sudah menaruh pesanan di atas meja.
" Silakan di nikmati." ucapnya tersenyum.
" Terima kasih." jawab Raisa dan Lina.
" Sa, gak salah kamu pesen ini?" kata Lina yang bingung dengan menu dihadapan nya.
" Lin, dulu kamu sering mentraktir aku makan di kantin. Sekarang giliran aku yang mentraktir mu." kata Raisa yang sudah mengambil secentong nasi Mandhi kambing.
" Iya tapi gak sebanyak ini." kata Lina terkejut melihat nasi yang di tata sedemikian rapi di atas nampan.
" Iya namanya makanan arab, ." kata Raisa yang sudah menyuap nasi, " Sudah makan aja, kalo gak abis bisa di bawa pulang. "kata Raisa terkekeh geli.
-
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.