
Aldo meletakkan seluruh makanan, yang berbau mangga di atas meja.
" Sepertinya, Nyonya pulang." kata Celine yang langsung berjalan menuju pintu depan.
Aldo segera menyambutnya, ingin melihat ekspresi sang istri.
" Sayang, kamu dari mana?" tanya Aldo serata berjalan mendekati istrinya.
" Aku dari mall, melihat-lihat perlengkapan bayi bersama Ale dan Beby." jawab Raisa.
" Sayang, bukannya gak boleh membeli peralatan bayi saat kandungan masih trimester pertama?" kata Aldo memperingatkan.
" Aku, hanya lihat-lihat." jawab Raisa sambil mendudukkan dirinya di sofa.
" Apa, kau lelah?" tanya Aldo yang sudah duduk di sebelah Raisa.
" Bungkusan apa ini?" tanya Raisa yang melihat begitu banyak paper bag berwarna warni.
" Asinan dan manisan mangga." jawab Aldo seraya mengambil paper bag berwarna putih.
" Asinan, siapa mesan asinan?" tanya Raisa dengan mengerutkan keningnya.
" Bukankah, kau ingin mangga muda?" tanya Aldo dengan mengangkat kedua alisnya.
" Iya, tapi bukan asinan." rengek Raisa.
" Maafkan aku, aku sudah mencoba mencari mangga muda. Namun tak juga kutemukan." papar Aldo dengan menunduk lesu.
Raisa pun tersenyum, dengan mengangkat sudut bibirnya.
" Ternyata, suamiku sangat perhatian padaku." kata Raisa sambil mencium pipi Aldo.
Nampak Aldo begitu bahagia, mendapatkan ciuman mendadak dari sang istri." Jadi, kau tak marah?" tanya Aldo sambil senyum sumringah.
" Untuk apa aku marah, hanya karena mangga muda?" ucap Raisa sambil mencubit kecil pipi Aldo.
" Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu." ucap Aldo yang langsung memeluk Raisa
Alesha dan Beby pun menghampiri mereka, dan memakan asinan dan manisan mangga bersama-sama.
" Pah, ini apa?" tanya Alesha seraya mengedipkan kedua matanya, karena lidah nya terasa asam dan pedas.
" Itu, asinan mangga muda." jawab Aldo.
" Celine, panggil Marcel dan Fredy. Ajak makan asinan dan manisan bersama-sama." perintah Aldo.
" Baik, Tuan." jawab Celine yang bergegas memanggil dua bodyguard kesayangan Aldo.
*****
Pagi hari, semua penghuni rumah terlihat bolak-balik ke toilet. Seperti nya mereka, sakit perut karena asinan mangga muda yang mereka makan kemarin.
" Marcel, apa kau sudah?" teriak Fredy dari depan pintu.
" Belum.." jawab Marcel yang masih berada dalam toilet.
Begitu juga dengan Aldo, dan Celine pun ikut bolak-balik ke kamar mandi.
Karena enaknya asinan mangga muda, mereka lupa jika asam dan pedas akan membuat mereka sakit perut.
Raisa hanya menghela nafasnya, melihat seluruh penghuni rumah bolak-balik ke kamar mandi.
Alesha dan Beby hanya makan manisan, jadi mereka tidak sakit perut
__ADS_1
" Sayang, perutku sakit." keluh Aldo.
" Kenapa, kamu begitu doyan sama asinan mangga? Bukankah, kau membawakannya untuk ku?" cicit Raisa menatap Aldo dengan malas.
" He, he, he... Enak." kata Aldo seraya tertawa sambil memegang perut nya.
" Huft, ayo kita ke rumah sakit." kata Raisa.
Semua penghuni rumah, segera memeriksakan diri ke rumah sakit.
***
Waktu terus berlalu, perut Raisa semakin membesar. Sembilan bulan sudah, umur kehamilan nya.
Aldo menjadi suami yang selalu siap siaga. Dia hanya ingin menjadi orang yang pertama, saat Raisa membutuhkan nya.
Untuk urusan perusahaan, di berikan pada Berry. Dia percaya, Berry adalah orang yang amanah.
Aldo tidak ingin mengulang masa lalu, di saat Raisa hamil dia tidak berada di sisinya.
Masalah rejeki dia percaya kan pada Tuhan, selagi dia bisa dekat dengan keluarga kecilnya.
" Ah, " lirih Raisa yang berdiri di depan cermin.
" Ada apa, Sayang?" tanya Aldo yang segera menghampiri Raisa.
" Perutku, mulas." kata Raisa sambil memegang perutnya.
" Apa itu tanda-tanda melahirkan?' tanya Aldo.
" Entahlah, tapi sepertinya iya. Aku merasakan hal yang sama, saat akan melahirkan Alesha." jawab Raisa.
" Baiklah, aku akan bilang Celine untuk menyiapkan perlengkapan bayi." panik Aldo yang langsung berlari keluar kamar.
" Celine, istriku perutnya mulas." panik Aldo yang langsung menarik tangan Celine.
" Iya, Tuan sebentar. Piringnya di taruh dulu." kata Celine yang membawa piring kotor di tangannya. Kemudian Celine menaruh piring kotor di wastafel, dan mencuci tangannya.
Segera dia menyusul Aldo, menuju kamarnya.
Raisa sedang merintih kesakitan, sambil memegang perutnya.
" Nyonya, anda sakit di bagian mana?" tanya Celine.
" Perutku bagian bawah, sangat mulas." keluh Raisa dengan wajah memerah karena menahan rasa sakit.
Terlihat air sudah mengalir di kedua kakinya.
" Tuan, sebaiknya anda bawa ke dokter. Saya akan menyiapkan baju dan perlengkapan Nyonya." saran Celine.
" Baiklah, " kata Aldo yang segera menggendong Raisa.
Aldo merasa kesulitan, karena perut Raisa yang sudah membesar.
" Sabar, Sayang." kata Aldo menenangkan istri nya.
Raisa menjambak rambut Aldo, dan menggigit lengannya.
" Aw..." pekik Aldo yang menahan gigitan Raisa di lengannya.
Aldo segera memasukkan Raisa ke dalam mobil, dan memerintahkan Marcel untuk mengendarai.
" Fredy, kau antar Celine ke rumah sakit untuk membawakan peralatan anak dan istri ku." perintah Aldo.
__ADS_1
" Baik, Tuan." kata Fredy seraya mengangguk kan kepalanya.
Marcel membawa mobil dengan kecepatan sedang, karena takut jika Raisa akan tegang.
" Sakit.." lirih Raisa seraya mencengkeram erat lengan Aldo.
" Sabar, Sayang." jawab Aldo sambil mengelus perut Raisa.
Raisa memutuskan untuk melahirkan normal, walaupun dokter menyarankan untuk lahir sesar. Raisa tidak ingin menjalani operasi sesar, karena dia takut.
Perjalanan memakan waktu dua puluh menit, mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit.
Petugas medis langsung membawa brankar, menghampiri mobil milik Aldo.
" Tolong istri, saya." harap Aldo pada para perawat.
" Anda jangan cemas, akan kami tangani." ucapnya menenangkan.
Raisa dibawa ke unit gawat darurat, untuk tindakan selanjutnya.
" Tuan, bagaimana Nyonya?" tanya Celine yang telah sampai di rumah sakit, dengan membawa perlengkapan bayi dan Raisa.
" Dia sudah di dalam." jawab Aldo.
Segera Aldo menghubungi sang ayah, dan mamanya.
" Halo, pah!" panggil Aldo melalui sambungan telepon seluler nya.
" Iya, Aldo. Ada apa?" tanya Arifin
" Raisa akan melahirkan, dan sedang di dalam UGD." kata Aldo memberitahu.
" Baiklah, papa dan mama akan segera ke sana." kata Arifin.
" Oke, aku tunggu." jawab Aldo.
Kemudian Aldo menunggu di depan UGD, dia nampak bolak-balik tidak tenang.
Selang setengah jam, Arifin dan Merlin telah tiba.
" Pah, Ma!" panggil Aldo langsung memeluk nya.
" Belum juga?" tanya Arifin.
" Belum, Raisa memutuskan untuk melahirkan normal. Padahal dokter pernah menyarankan untuk sesar." kata Aldo.
" Kita berdoa saja, semoga ibu dan bayinya sehat dan selamat." kata Merlin menenangkan.
" Kak Aldo.." panggil Katie yang baru saja datang.
" Bagaimana, Kak?" tanya Katie
" Belum, ada kabar." jawab Aldo.
Selang satu jam, dokter pun keluar dari ruang UGD.
" Bisa bicara dengan suaminya?" tanya dokter yang menangani Raisa.
" Saya, " jawab Aldo.
" Mari ikut, saya." kata dokter yang mengajak Aldo menuju ruangannya.
-
__ADS_1
Silakan like , vote dan komentar ya.