
Dua tahun sudah berlalu, kini Alesha semakin lucu dan menggemaskan. Namun ada yang lain saat Alesha berinteraksi dengan orang lain. Pandangan matanya tak fokus, serta dia tidak menyambut panggilan dari orang lain.
Ada apa dengan Ale? Tapi karena Raisa masih awam dan belum paham dengan perkembangan anak, dia hanya berpikir mungkin perilaku anak usia dua tahun.
Setiap hari Alesha hanya fokus bermain sendiri, dan nyaman dengan imajinasinya.
Alesha begitu aktif, hingga perabotan di rumah Raisa tidak pernah rapi. Ada saja ulah yang di perbuat Alesha.
Pagi itu Beby menghampiri Alesha yang sedang makan dengan Raisa. Hari minggu pagi adalah waktu nya bersantai.
" Dedek Ale, maun yuk sama Beby." ajak Beby yang kini menginjak usia delapan tahun.
Beby sudah bisa mandiri, dan mengajak Ale main di taman.
Alesha tak menghiraukan panggilan dari Beby. Dirinya masih fokus dengan mainannya. Kemudian Beby bertanya pada Raisa tentang Alesha.
" Bu Isa, dedek Ale kok kalo di panggil gak pernah nyaut?" tanya Beby yang duduk di sebelah Raisa.
" Mungkin Ale belum mengerti, kan dia baru dua tahun Beb." jawab Raisa.
Kini Beby meminta latihan tari balet, karena di sekolah nya akan ada perpisahan. Beby di tunjuk untuk mengisi acara tersebut.
Raisa mengajak Alesha dan di taruh di depan cermin. Alesha masih terlihat memutar-mutar tanpa lelah.
Saat di panggil Beby pun Alesha enggan menanggapi.
Saat Raisa menghidupkan home teather, terlihat video penari balet. Maksud hati adalah agar Beby mencontohkan gerakan. Namun terlihat Alesha sangat menikmati video nya dan membuat dia diam terpaku. Alesha berdiri melihat video menari, hingga terlihat gerakan di tangan dan kakinya.
Beby dan Raisa masih sibuk dengan latihan nya. Tanpa sadar Alesha mendekati home teather yang berada di hadapannya.
Lalu kedua tangan nya memukul dan mendorong speaker nya hingga terjatuh.
" Brak..."
Kemudian gerakan menari Beby pun terhenti, karena layar televisi yang tidak lagi menyala.
" Ale, kamu jangan nakal nak." kata Raisa yang langsung menggendong Alesha.
Lagi-lagi Alesha tidak menghiraukan perkataan Raisa. Dan dia berontak untuk turun dari gendongannya. Langkah nya kembali menuju benda yang berada di hadapannya, lalu memukul nya kembali.
" Ale.." teriak Raisa yang sama sekali tak di respon oleh Alesha.
" Bu Isa, dedek Ale masih kecil jangan di bentak seperti itu." kata Beby yang langsung menghampiri Alesha.
__ADS_1
" Maaf Beby, semua barang kamu jadi rusak." kata Raisa yang melihat home teather sudah berantakan.
" Nanti aku minta lagi sama papa, tapi dedek Ale jangan di marahin lagi ya." kat Beby sambil memeluk Alesha.
Alesha terus memberontak dari gendongan. Tak ada suara yang dia keluarkan, hanya tangan nya saja yang memukul.
Setiap hari Alesha hanya bermain sendiri, dia tidak pernah menanggapi orang di sebelah nya.
Aktif dan tidak bisa diam, dan anehnya jarang berbicara walaupun Beby sangat sabar untuk mengajaknya berbicara.
Hal yang paling di senangi oleh Alesha adalah menari. Jika Beby sudah memakai gaun balet, maka Alesha dengan riang mengikuti gerak Beby.
****
Lima tahun kemudian, tidak ada yang berkembang dari diri Alesha kecuali menari.
Berbicara tak pernah, dan sering berlarian mengitari taman. Jika di ajak bermain boneka dengan Beby, boneka nya malah di pukul-pukul tanpa alasan yang jelas.
Hingga Arifin menyarankan agar Raisa membawa Alesha ke psikolog anak.
Dan Raisa pun membawanya, ke dokter psikolog anak.
Di sana dia bertemu dengan Dokter anak yang bernama Calista Angelia. Di ruang praktek nya, dia terus mengevaluasi sikap Alesha.
" Seingat saya pada usia dua tahun, perkembangan nya sangat lamban. Dan sering bermain sendiri. " jawab Raisa sambil memainkan matanya karena berpikir.
" Apalagi kalau di panggil gak merespon." sambung Raisa.
" Hal apa yang kini dedek Ale sukai?" tanya Calista.
" Dia suka menari, namun belum teratur." kata Raisa.
" Menari apa?" tanya Calista.
" Kebetulan saya guru tari balet, dan saat mengajar Ale langsung respon dan mengikuti." jawab Raisa.
" Baiklah, kita lihat perkembangan nya satu jam kedepannya. Silakan ibu tunggu di luar." kata Calista yang langsung menghampiri Alesha.
Kemudian Raisa keluar dari ruangan dokter Calista. Karena dia meminta agar di beri ruang untuk nya mendekati Alesha.
Awalnya Alesha sangat terkejut, dan menangis histeris. Dia mencari keberadaan Raisa, dan memukuli Calista.
Raisa tidak bisa berbuat apa-apa, karena pintu di kunci dari dalam.
__ADS_1
Walaupun menangis, Alesha tidak pernah memanggil mama. Bibir nya kelu, padahal setiap hari Raisa selalu mengajari nya.
Satu jam berlalu, dan Calista telah menyelesaikan observasi nya.
" Menurut hasil observasi saya, sepertinya anak ibu mengidap autisme." kata Calista.
" Apa? Autisme? Apakah berbahaya?" tanya Raisa yang begitu panik mendengar nya.
" Iya, makanya anak ibu hanya fokus pada diri sendiri tanpa melihat orang yang berada di sekitar nya." jawab Calista.
" Apa sangat parah dok?" tanya Raisa cemas.
" Mungkin akan lama untuk penyembuhan nya, tapi kalo sering ikut terapi perlahan Alesha bisa seperti anak normal lainnya." kata Calista.
" Baiklah dok, terima kasih. Semoga dokter bisa membantu saya." kata Raisa yang sedikit tenang hatinya.
Kemudian Raisa pun pamit pulang pada dokter Calista. Dan akan bertemu pada minggu berikut nya.
Raisa di jemput oleh Yuda yang tadi memarkirkan mobilnya, di parkiran rumah sakit.
*****
Arifin dan Aldo kini kembali bertemu, mereka telah menandatangani kontrak untuk proyek nya di Perancis.
" Aldo, bagaimana keadaan kakekmu?" tanya Arifin.
" Belum ada perkembangan, masih tetap tertidur dan hanya bibirnya yang bergerak." kata Aldo.
" Kapan-kapan aku ingin menjenguk kakekmu." kata Arifin sambil mengulas senyum. Dia ingin menunjukkan pada Wisnu, kalau sekarang dia sudah sukses. Dan kini cucunya sendiri yang mengajak kerjasama dengan perusahaan nya.
" Baik, nanti akan kalau kau ingin bertemu kakek langsung hubungi aku." kata Aldo sambil berjabat tangan.
Arifin pun meninggalkan kantor Aldo, dia akan merencanakan proyek selama setahun. Dan akan pergi dua bulan lagi, saat ini dia sedang membuat rancangan untuk proyek terbesar nya.
***
Semakin hari Alesha semakin berkembang dalam hal seni tari balet. Dia begitu mengikuti irama musik balet. Sehingga sangat menjiwai, dan gerakan sangat lentur.
Beby mendaftar ajang seni balet di tingkat internasional. Namun dia harus mempunyai pasangan yang umurnya kisaran anak-anak.
" Bu Isa, aku mau mendaftar kontes balet yang menang akan di ikut sertakan dalam kontes di Perancis." lapor Beby pada Raisa.
-
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.