
" Raisa, apa kau mau tinggal bersama kami?" tanya Arifin sambil menggendong anak Raisa.
" Pak, aku tidak ingin merepotkan keluarga bapak." kata Raisa yang melihat ketulusan di mata Arifin
" Anggaplah permintaan seorang ayah." kata Arifin memohon.
Raisa terlihat tidak enak jika Arifin terus baik kepada nya. Namun karena Arifin terus memaksa nya, maka Raisa menyetujui.
****
Tiga bulan sudah Raisa tinggal bersama Arifin, namun tidak satu rumah. Raisa di buatkan rumah di samping dengan model minimalis.
Itu adalah syarat dari Raisa agar dia mau tinggal bersama Arifin.
Usai pulang sekolah Beby selalu bermain di rumah Raisa, menjaga anaknya saat Raisa sedang bekerja.
Raisa kini bekerja di salah satu sekolah bergengsi dan elit. Dia menjadi guru seni budaya, itu memang cita-citanya.
" Bu Raisa, sudah makan?" tanya Hafiz guru matematika yang penampilan masih muda, sepertinya seumuran dengan Raisa.
" Sudah pak, saya bawa bekel dari rumah." sahut Raisa sambil tersenyum.
Hafiz terkesima dengan senyuman dari Raisa, seketat hatinya menjadi terpana.
" Sungguh manis senyumnya." batin Hafiz seraya membalas senyuman dari Raisa.
Kemudian Hafiz kembali mengerjakan tugasnya, yang mengoreksi hasil belajar siswa.
Jam pelajaran di mulai, Raisa pun langsung bergegas ke kelas. Hari ini dia mengajar di kelas tiga sekolah menengah atas.
Raisa merupakan guru baru pengganti dari guru yang lama. Semua murid laki-laki begitu terpesona saat melihat kehadiran Raisa di dalam kelas.
" Shuit, shuit..." suara anak di lak-laki yang menggoda Raisa.
" Selamat pagi..." sapa Raisa dengan penampilan dengan kemeja berwarna merah muda dan celana berwarna putih. Rambut hitam di gerai dengan jepit di bagian poninya.
Penampilannya seperti seorang gadis yang baru saja lulus SMA. Hal itu di dukung oleh wajah Raisa yang imut dengan hidung mancung, dan bibir yang mungil.
" Selamat pagi ibu guru cantik." sorak Sorai para siswa menyambut gembira kedatangan Raisa.
" Bu, siapa namanya?" tanya salah seorang siswa laki-laki dengan paras tampan dengan wajah ke indoan.
" Baiklah, sebelumnya ibu mohon kalian menghormati ibu sebagai guru kalian. " kata Raisa sambil tersenyum," Jagalah sikap kalian kepada orang yang lebih tua.
" Baik bu guru cantik." sorak serentak siswa laki-laki.
__ADS_1
Para siswa perempuan hanya memandang takjub kecantikan Raisa.
" Nama ibu Raisa Ekasuci." ucap Raisa memperkenalkan dirinya, " Ibu mengajar pelajaran seni budaya." tuturnya
" Udah punya pacar belum bu?" celetuk seorang siswa laki-laki yang duduk di bangku belakang.
" Mmmm... ibu punya balita perempuan kecil yang masih berumur tiga bulan." sahut Raisa.
" Yah ....." semua siswa laki-laki yang mendengar nya sangat kecewa dan patah hati.
Mereka berpikir kalau Raisa masih jomblo, karena wajahnya yang masih sangat muda.
" Fokus belajar ya, sekarang kita lanjutkan pelajaran dari guru sebelumnya." kata Raisa, " Oh iya sebelumnya kalian ibu absen ya, " kata Raisa yang mengambil buku absen siswa.
Satu jam berlalu, dan kini beralih ke pelajaran selanjutnya. Raisa pun mengakhiri pelajaran pertama nya. Dia sungguh bahagia bisa mengajar di depan para siswa.
Kini dia kembali ke kantor, karena jadwal hari ini hanya mengajar satu jam. Setelah itu dia akan pergi ke mini market untuk membeli susu dan kebutuhan rumah tangga.
" Bu Raisa." panggil siswa laki-laki yang tadi menggodanya.
" Saya mau pulang, kamu gak belajar?" tanya Raisa.
" Ah saya malas pelajaran matematika." kata siswa yang bernama Fairuz, dan biasa dipanggil Fay.
" Nama kamu siapa?" tanya Raisa.
" Fay, sekolah itu penting untuk masa depan mu." kata Raisa yang menasehati Fay.
" Tapi bu, aku malas sama pak Hafiz. " tutur Fay.
" Malas kenapa?" tanya Raisa.
" Karena aku gak suka sama pelajaran nya, maka aku gak suka sama pak Hafiz." ujar Fay sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba menjadi gatal
" Besok kalau ada pelajaran ibu, kamu mau keluar juga?" tanya Raisa sambil bersedekap.
" Ya enggak lah bu, masa bu guru cantik masuk kelas malah aku kabur." elaknya.
" Sekarang kamu masuk, mau ibu antar ke kelas?" ancam Raisa seraya menajamkan pandangan nya.
" Enggak bu, ya udah aku masuk. Tapi besok aku bisa antar ibu pulang ya?" ucap Fay memberi syarat.
Raisa hanya menggelengkan kepalanya, melihat anak muridnya menawarkan untuk mengantarkan pulang.
" Ibu gak janji, nanti suami ibu bisa marah kalau di antar pulang sama anak kecil kayak kamu. " ucap Raisa.
__ADS_1
" Aku kan sudah besar bu, bukan anak kecil lagi " ujar Fay.
" Kalau sudah besar sekolah gak boleh bolos, sudah cepat masuk sana." usir Raisa.
Lalu Fay kembali ke kelasnya, dia akan mencoba lagi merayu Raisa.
Kemudian Raisa melanjutkan langkah kakinya menuju pintu gerbang.
Kali ini dia akan menggunakan angkutan umum, karena sedang malas naik ojek online. Cuaca siang hari sangat panas, jadi dia sedang tidak ingin panas-panasan.
*****
Kini badan Aldo kembali seperti semula, tetapi lebih sixpack. Karena dia selalu rajin berolahraga. Kini dia menjabat sebagai CEO di perusahaan perminyakan milik kakeknya.
Dua tahun lamanya dia berada di Perancis, di dalam hatinya masih memikirkan Raisa.
Dan itu membuat hatinya menjadi dingin, tak lagi menerima cinta dari siapapun. Termasuk sekertaris nya yang selalu menggodanya.
" Tuan, siang ini ada rapat dengan CEO perusahaan IT. Mereka ingin bekerjasama dengan perusahaan kita, karena kita sangat membutuhkan sistem mereka." ucap Bianca dengan gemulai sambil menunjukkan senyum manisnya. Namun senyuman itu kalah dengan milik Raisa. Sampai saat ini, Aldo masih tidak bisa melupakan senyum pujaan hatinya.
" Bi, besok bisa di ganti bajunya?" tegur Aldo yang melihat baju Bianca memperlihatkan paha mulusnya.
" Loh bukannya ini keliatan seksi, apa tuan tidak suka?" goda Bianca sambil duduk di atas meja.
" Bi, tolong jangan bertingkah seperti itu. Mau aku pecat?" ancam Aldo.
Lalu Bianca langsung berdiri, dan membetulkan roknya yang memperlihatkan paha atasnya.
" Tuan, kenapa selalu memanggil saya Bi?" tanya Bianca yang di pikir adalah panggilan untuk asisten rumah tangga.
" Bukankah namamu Bianca?" tanya Aldo dengan raut wajah mengejek.
" Ish..." kemudahan Bianca keluar dari ruangan Aldo dengan wajah tertekuk.
" Kenapa sih si Aldo itu susah banget di rayu?" kesal Bianca sambil menggerutu menuju meja kerja nya.
Kemudian Aldo mengeluhkan sekertaris kakek nya yang sangat menyebalkan.
" Kenapa kakek mempekerjakan wanita dengan pakaian seksi seperti itu." gumamnya, lalu dia bangun dari duduknya dan berjalan menuju jendela.
" Sa, kamu sekarang lagi apa?" gumam Aldo yang terus mengingat Raisa.
" Besok aku ingin pulang ke Indonesia, siapa tahu bisa ketemu Raisa. Walaupun kini dia membenciku." batinnya menatap langit biru.
-
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.