
Raisa memberi tahu suaminya kalau dia mendapatkan tawaran, untuk melanjutkan kuliahnya.
" Aku mendapat beasiswa untuk kuliah. " ucap Raisa yang sedang bersandar di tempat tidur.
" Kuliah?"
" Iya, CEO memberitahu padaku kalau aku mendapatkan beasiswa dari perusahaan untuk melanjutkan kuliah." ujar Raisa.
Faisal tampak ragu untuk menyetujui keinginan Raisa, namun istrinya sangat memohon kepadanya.
" Aku mohon, ini adalah kesempatan. Aku tidak akan melewatkan kesempatan emas ini, semua biaya perkuliahan di tanggung oleh perusahaan. Siapa tahu aku bisa naik jabatan sesudah menyelesaikan kuliah." rayu Raisa pada suaminya.
Faisal masih berpikir, ada benarnya juga pemikiran Raisa. Dia pun tidak ingin menghambat cita-cita Raisa yang ingin berkerja kantor sejak mereka pacaran.
" Baiklah, tapi aku memintamu untuk tetap hati-hati. Jangan mudah tergoda oleh para pria." pesan Faisal yang kemudian membaringkan tubuhnya. Mereka berdua pun tertidur lelap, dan bersiap untuk melakukan aktivitas keesokan paginya.
*****
" Sal, ibu minta uang untuk bayar arisan. Istrimu pasti sudah gajian." teriak Maria tanpa malu di depan kamar Faisal.
Faisal langsung menghampiri Maria yang pagi-pagi sudah teriak-teriak.
" Nanti akan kucarikan, tapi tidak dengan uang istriku. " geram Faisal.
Sedikit pun Faisal tidak akan menggunakan uang Raisa. Dia pernah mendengar tausiyah dari seorang ustadz saat mengikuti acara pengajian.
Jika penghasilan suami adalah milik istri lalu bagaimana dengan penghasilan istri? Islam pada dasarnya mengizinkan perempuan untuk bekerja dan memiliki pendapatan sendiri. Beberapa ulama menyakini bahwa gaji istri adalah milik bersama sebagaimana gaji suami. Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa gaji istri adalah milik ia sendiri.
Istri boleh menggunakan pendapatannya untuk membiayai kebutuhan keluarga namun suami tak boleh memaksa. Suami tak boleh menggunakan gaji istrinya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Hal ini juga berlaku untuk semua jenis harta yang dimiliki istri, misalnya gaji, warisan, ataupun hadiah.
Karena keluarga Faisal miliki adalah tanggung jawabnya, bukan tanggung jawab istrinya.
__ADS_1
" Ih apakah itu yang di ajarkan istri mu, untuk pelit pada mertuanya sendiri?" ketus Maria sambil menatap sinis Faisal.
Raisa sedang berada di kamar mandi, jadi dia tidak mendengar percakapan antara kakak dan adik yang sedang membahas masalah gajinya.
" Kau jangan campuri urusan rumah tangga ku, Raisa istriku dan ibuku adalah tanggung jawabku. Dan kau tidak berhak mencampuri keuangan dalam rumah tangga ku. Urusi saja hidup mu dan rumah tanggamu. " bentak Faisal yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
" Ish, udah mulai ngelawan kamu ya Sal. Eh inget, waktu kecil kamu tuh aku yang ngurusin." teriak Maria lalu masuk ke dalam kamar ibunya.
Dengan raut wajah yang kesal Faisal menghampiri Maria di kamar ibunya.
" Kau selalu saja mengungkit hal itu. Kalau saja aku tahu kau akan mengungkit-ungkit, tidak sudi aku saat kecil di urus olehmu. Lebih baik hidup di jalanan." geram Faisal.
" Sudah, pagi-pagi kalian udah ribut saja." bu Leha melerai pertikaian kedua anaknya.
" Bilang Maria untuk jangan mengusik keluarga ku. Aku selalu mencoba membujuk Raisa agar bertahan di rumah ini. Sekali lagi ku dengar dia mencampur urusan ku, aku akan pindah dari rumah ini." gertak Faisal yang langsung berjalan menuju kamarnya.
Raisa sudah rapi mengenakan baju kerja nya, dia bingung dengan suara Faisal yang marah-marah di kamar ibunya.
" Pagi-pagi kok udah marah-marah." ucap Raisa yang menyisir rambutnya yang hitam panjang.
" Ya sudah, kita sarapan." ajak Raisa yang mengambil sepiring nasi goreng di atas meja
Mereka berdua memakan sarapannya, lalu Raisa mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
" Aku ada sedikit untuk ibumu, dan nanti aku juga akan memberikan pada ibuku sama seperti yang aku berikan untuk ibumu." kata Raisa yang menyodorkan tiga lembar uang seratus ribu.
" Jangan Sa, uangnya kamu simpan saja untuk kuliah." tolak Faisal yang menahan tangan Raisa.
" Aku sudah bilang tadi malam, kalau semua biaya kuliah ku di tanggung perusahaan." kata Raisa dengan tersenyum, " Aku hanya menyisihkan uang gajiku untuk orang tua, biar berkah." kata Raisa yang memberikan uang pada Faisal dan menggenggam nya.
" Baiklah, kalau kau benar ikhlas mengharap ridho Allah." kata Faisal yang menerima uang dari Raisa.
__ADS_1
Selesai sarapan, mereka bersiap untuk berangkat kerja. Faisal hanya mengantarkan Raisa sampai halte busway. Karena arah tujuan mereka berlawanan.
Sebelum berangkat, Faisal memberikan uang dari Raisa kepada Bu Leha.
" Bu, Raisa menitipkan uang ini untuk keperluan ibu. Aku harap ibu menasehati Maria untuk jangan mengusik Raisa." pesan Faisal sebelum berangkat mengantar koran. Dan tidak ada Maria, karena dia sudah balik ke rumah nya sejak pertengkaran tadi.
Bu Leha hanya manggut-manggut, menandakan setuju. Namun di balik kericuhan tadi, tidak lepas dari pengaruh Bu Leha. Dia yang menyuruh Maria meminta uang pada Faisal, karena dia tahu jika Raisa sudah mendapatkan gaji.
Faisal dan Raisa segera bergegas berangkat menaiki motor.
Saat di perjalanan, Faisal sempat berpikir jika dia ada masalah dengan kesuburan nya. Namun Raisa tak pernah protes jika dia tidak pernah mencapai klimaks, karena selalu ejakulasi dini. Atau mungkin Raisa belum paham dengan hubungan intim, yang selama ini mereka lakukan.
Pikirnya nanti saat mempunyai uang akan memeriksa ke dokter soal kesuburan nya.
Dia cemas jika nanti ada yang bertanya soal anak pada Raisa. Namun saat ini dia tidak perlu khawatir, karena pernikahan mereka baru berlangsung beberapa bulan.
Seperti biasa, Raisa di turunkan di halte busway. Dan Raisa selalu menunggu kepergian Faisal sebelum dia masuk ke halte.
Tetapi anehnya, saat Faisal sudah lenyap dari pandangan Raisa. Selalu ada Aldo yang berhenti memanggil Raisa.
" Raisa..." panggil Aldo yang selalu menunggu kedatangan Raisa di halte busway. Agar dirinya tidak di curigai oleh Faisal, jika sering mengantar Raisa berangkat kerja.
" Aldo, kenapa tiap hari selalu kebetulan ya?" bingung Raisa dengan wajah polosnya.
" Ah itu perasaan kamu aja kali, kan rumah kita memang searah. Dan aku di sini pas kamu mau masuk ke halte." elak Aldo sambil senyum yang menunjukkan deretan giginya yang putih.
" Aku naik busway aja ya, enggak enak kalau numpang mulu sama kamu." kata Raisa yang mencoba menolak, namun Aldo belum menawarkan tumpangan nya.
" Aku kan belum nawarin kamu untuk bareng." ujar Aldo yang membuat pipi Raisa memerah karena malu.
" Eh iya, aku pikir kamu mau nawarin berangkat bareng." sambungnya," Ya udah aku duluan ya naik busway. " ucap Raisa sambil melambaikan tangan nya.
__ADS_1
-
Silakan like dan komentar ya guys kalau kamu suka sama ceritanya.