Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 16: CEO


__ADS_3

Raisa menuju ruang CEO, ini kali kedua dia disuruh membersihkan. Biasanya hanya kepala cleaning servis, yang di tugaskan untuk membersihkan.


Walaupun sudah setahun dia bekerja, namun kali ini ada perasaan yang berbeda saat memasuki ruangan CEO.


Karena baginya ruangan itu sungguh sangat privat, dan tidak boleh sembarang orang masuk ke dalamnya.


Tangannya membuka knop pintu dan memutarnya. Pintu pun terbuka, dan Raisa sudah masuk dengan alat tempur di tangan nya.


Langkah pertama dia menuju ke meja, tempat paling utama yang akan di tuju oleh CEO pastinya.


Terlihat meja yang masih bersih tanpa ada debu yang menempel. Semua peralatan masih rapi tertata di tempatnya dan masih seperti baru.


Sungguh sangat apik pemakai ruangan CEO, hingga semua alat masih tersusun rapi di tempat nya.


Tugas Raisa sangat ringan, karena tidak seperti membersihkan rumah Faisal yang begitu berantakan akibat ulah anak Maria.


Raisa mulai menyalakan vacum cleaner, membersihkan sofa dan karpet lantai.


Selanjutnya dia memasuki toilet, yang ukurannya cukup besar dari ukuran kamar nya.


" Seperti nya ruangannya gak pernah di pakai, dan hanya di bersihkan." Gumam Raisa sambil mengelap dinding toilet yang terbuat dari marmer khusus.


" Ya ampun, ruangan CEO besarnya dua kali lipat dari rumah Faisal. Tapi untungnya gak terlalu berantakan sih..." Gerutu Raisa yang terlihat sudah mengibaskan kedua tangan karena sudah selesai membersihkan toilet.


Sambil berjalan mundur memperhatikan bagian mana yang masih kotor. Saat sudah sampai di depan pintu, tiba-tiba ada yang membuka dari arah depan. Saat Raisa berbalik, kedua matanya langsung terbuka lebar saat seseorang sudah berdiri di hadapannya.


" Aldo?" Lirihnya pelan saat melihat Aldo di hadapannya menggunakan stelan jas hitam dengan rambut cepak ala angkatan dengan warna kecoklatan.


Matanya tak berkedip melihat ketampanan Aldo, karena sungguh sangat berbeda dari biasanya saat bersama nya di kampus. Dilihat nya laki-laki yang gagah dan tampan dari ujung kepala hingga kaki. Sungguh amat sempurna, dan mungkin akan menjadi incaran banyak wanita.


Sesaat dia membuyarkan lamunan tentang Aldo.


" Maaf tuan, saya baru saja membersihkan toilet." Kata Raisa sambil menundukkan kepalanya. Dia masih berpikir orang yang ada di hadapannya, apakah Aldo ataukah orang lain yang mirip Aldo. Karena wajahnya begitu kaku dan dingin.


Biasanya Aldo suka tersenyum saat bertemu dengannya. Namun kali ini orang yang berada di hadapan tidak tersenyum, dan malah terlihat jutek.


Dan laki-laki itu masih berdiri di depannya, sambil kedua tangannya bersedekah di dada.


" Saya permisi." Pamit Raisa yang hendak meninggalkan toliet.

__ADS_1


Saat melewati laki-laki yang mirip Aldo, lengannya di tahan.


" Tunggu." Ucapnya


Sontak Raisa pun terkejut, dia merasa takut akan di marahi oleh laki-laki dihadapan nya. Karena sudah masuk area privasi yaitu toilet, sebab tugasnya hanya membersihkan ruang kantor CEO.


" Ada apa tuan? Apa saya membuat kesalahan?" Tanya Raisa yang semakin menunduk kan kepalanya. Jantungnya berdetak cepat, ada rasa takut yang menghinggapi nya. Takut akan di pecat karena sudah masuk area pribadi CEO.


Laki-laki itu mendekat, dengan wajah yang jaraknya hanya beberapa centimeter dari telinga Raisa.


" Aku Aldo, apa kau tidak mengenaliku?" Bisik Aldo di telinga Raisa.


Kepala Raisa menoleh ke arah Aldo, dan bibir mereka hampir saja bertemu. Dengan cepat Raisa langsung mundur selangkah dari hadapan Aldo.


Namun sayangnya di belakangnya adalah daun pintu, sehingga tubuhnya sangat rapat dengan Aldo.


" Iya, a-ku s- u- dah tahu." Jawab Raisa terbata-bata, karena jarak bibir mereka yang begitu dekat membuat Raisa merasa risih.


Lalu Raisa melepaskan tangan Aldo dari lengannya.


" Maaf, lepaskan aku." Raisa pun keluar dari toilet, dan mengambil alat tempurnya.


Raisa menghentikan pekerjaannya, dan menoleh ke arah Aldo yang datang menghampiri nya.


" Kamu manggil aku?" Tanya Raisa dengan wajah yang masih begitu tegang.


" Iya." Jawab Aldo.


" Kamu lagi ngapain di sini? Dan kenapa pakai baju rapi seperti itu?" Tanya Raisa yang masih terlihat canggung, karena Aldo yang biasa dia temui tidak serapi laki-laki yang berada di hadapan nya.


" Aku sudah mulai kerja." Jawab Aldo


" Hah?" Ucap Raisa dengan mulut terbuka, " Kerja apa? Kok kamu bisa masuk ruang CEO?" Tanya Raisa sambil menyampirkan serbet di pundaknya.


" Aku sudah mulai bekerja sebagai CEO." Ucap Aldo dengan senyum santai.


Raisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Masih bingung dengan perkataan Aldo.


" Kamu jangan bercanda Aldo, CEO di sini sudah tua. Apakah kamu magang?" Tanya Raisa yang menatap tak percaya.

__ADS_1


" Iya kalau kamu gak percaya ya sudah, aku gak maksain." Kata Aldo.


" Aku balik dulu ya ke pantry, oh iya kalau masih ada yang kotor kamu bisa menghubungi ku. " Kata Raisa, "Jangan adukan sama CEO yang di foto itu ya." Pesan Raisa pada Aldo dengan suara berbisik.


Raisa pun keluar dari ruangan CEO, dengan membawa peralatan yang sudah tertata rapi di troli.


" Aldo, Aldo ada-ada aja deh. Tar kalo ketahuan sama Pak Wisnu bisa di pecat dia, ngaku-ngaku jadi CEO." gurauan Raisa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Raisa berjalan menuju lift, serta mendorong troli berisi peralatan tempur nya.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, semua pekerja bersiap untuk pulang.


Termasuk Raisa dan Lina yang telah mengganti seragam nya. Tiba-tiba ada pesan masuk dari ponsel milik Raisa. " Drrt, drrt..."


Raisa langsung mengambil ponsel yang di masukkan ke saku baju.


"Bisa ke kantor CEO, ada barang mu yang tertinggal di sini. Aku kena omel karena kamu menaruh barang pembersih sembarangan." pesan Aldo.


" Apa?" kaget Raisa, " Perasaan barang-barang yang aku bawa tidak ada yang tertinggal." gerutu Raisa saat membaca pesan dari Aldo.


" Kenapa Sa?" tanya Lina.


" Ini sih Aldo, katanya ada barangku yang ketinggalan. Dia jadi kena omel." jawab Raisa kesal.


" Coba kamu cek, tapi itu Aldo mana Sa?" tanya Lina yang bingung.


" Aldo si office boy khusus pengantar barang. Katanya di ruang CEO ada barangku yang tertinggal." kata Raisa, " Dia jadi kena marah."


" Iya udah, mungkin aku gak terlalu hafal nama pegawai. Sebaiknya kamu cek, daripada nanti kena pecat." kata Lina.


" Baiklah, aku ke atas dulu ya. Kamu pulang duluan aja, siapa tahu CEO itu akan panjang marahnya." ujar Raisa.


" Iya udah, kamu hati-hati ya." kata Lina, " Aku duluan ya. " pamit Lina yang langsung menggendong tasnya, dan berjalan menuju lift bersama Raisa, namun tujuan mereka berbeda.


Raisa menekan tombol lift ke arah atas, sedang kan Lina menekan tombol arah bawah.


-


Silakan berikan komentar mu dan like ya.

__ADS_1


__ADS_2