
Aldo sudah berada di kamar nya, dia merebahkan diri di kasur.
" Cukup lama aku tidak meniduri kasur ini denganmu." kata Aldo yang menggoda Raisa sambil mengedipkan satu matanya.
" Jangan mesum, sebaiknya kau istirahat." kata Raisa dengan tatapan sinis, seraya memberikan selimut pada Aldo.
" Tidurlah, kau harus banyak beristirahat." kata Raisa sembari membungkukkan badannya untuk mencium kening Aldo.
Tangan Aldo langsung memeluk pinggang Raisa. Tangan yang satu lagi meraih tengkuk Raisa untuk di cium. Cukup lama mereka menyatukan bibir masing-masing.
Ternyata banyak kerinduan, yang tersimpan di hati mereka. Walaupun mereka berada, di dalam kamar yang sama di rumah sakit.
Raisa menghentikan ciumannya, dia memandang wajah Aldo sambil mengusapnya.
" Jangan pernah tinggalkan aku." tutur Raisa seraya mencium kening Aldo.
Kemudian Raisa keluar dari kamar, dan Aldo pun tersenyum melihat kepergian Raisa.
Dia tak pernah menyangka, jika di cintai akan sebahagia hari ini. Seluruh ruangan nampak banyak bunga bertebaran, dan kupu-kupu terbang. Hingga membuat nya tersenyum sendiri.
****
Pagi ini Alesha kembali bersekolah, dia diantar oleh Raisa. Karena semenjak seminggu kemarin, Bi Zainab yang bertugas mengantarkan nya.
" Ma, ayo berangkat." ajak Alesha sambil menarik tangan Raisa.
" Iya sayang, sebentar dulu mama mau pamit sama papa." kata Raisa yang berlutut di hadapan Alesha.
Kemudian Raisa dan Alesha berjalan menuju kamar, dan pamit pada Aldo.
" Pah, Ale jalan dulu ya!" pamit Alesha sembari mencium tangan papanya.
" Iya sayang, belajar yang pintar ya!" pesan Aldo pada putri tercintanya.
Usai mencium pipi Alesha, kini Raisa pamit pada Aldo.
" Aku jalan dulu!" ucapnya.
" Iya Cantik, hati-hati ya! Inget kamu jangan lurik kanan kiri." pesan Aldo sembari berbisik.
" Ih, apaan sih!" kata Raisa sambil memanyunkan bibirnya.
Raisa dan Alesha pergi meninggalkan Aldo, yang masih terbaring di tempat tidur.
Mereka naik motor, karena jarak sekolah nya tidak begitu jauh dari rumah.
" Den, naik motor nya jangan ngebut." pesan Bi Zainab.
" Siap, Bi!" kata Deni.
__ADS_1
Deni langsung melajukan motornya, keluar menuju pintu gerbang.
Sesampainya di sekolah, terlihat Reni yang baru saja datang. Sikapmu berubah seratus delapan puluh derajat. Kenapa dia begitu baik terhadap Alesha, padahal sewaktu Raisa datang ke sekolah, Reni tidak menyukainya.
" Bu Reni..." panggil Alesha dengan suaranya yang riang
" Eh Ale, kamu baru datang?" sapa Reni.
" Iya Bu, dan papa Ale juga sudah pulang." kata Alesha.
" Oh, " kata Reni sambil tersenyum.
Raisa melihat keanehan di senyum Reni, seperti ada maksud tertentu.
" Ayo Ale, kita masuk. " ajak Reni yang langsung menuntun Alesha masuk ke dalam kelas.
" Reni, tunggu..!" panggil Raisa yang menghentikan langkah Reni.
Reni langsung menoleh ke arah Raisa, dan menghampiri nya.
" Ada apa?" tanya Reni dengan mimik wajah yang sulit di artikan. Tatapan nya begitu aneh, seperti ada rencana lain yang terselubung.
" Terima kasih.." ucap Raisa, yang menepis pikiran kotornya.
Reni langsung menatap malas ke arah Raisa, dan dia berbalik menghampiri Alesha.
Raisa terus memperhatikan gelagat Reni, yang begitu perhatian pada Alesha.
Saat Raisa sedang menunggu Alesha, dia di hampiri oleh ibu-ibu yang juga sedang menunggu anaknya sekolah.
" Anaknya sekolah di sini juga?" sapanya pada Raisa.
" Iya, " jawab Raisa sambil tersenyum.
" Kayak pernah ketemu, tapi di mana ya?" tanyanya.
" Oh iya, kamu kan mantan istri Faisal?" tebakan nya sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah Raisa.
Raisa hanya tersenyum menanggapi, karena memang itu kenyataan nya.
" Iya, memangnya ada apa ya bu?" balik dia bertanya.
" Ya enggak gimana-gimana sih! Cuma heran aja kok Faisal bisa dapetin kamu yang ayu dan cantik?" ungkapnya.
" Maaf, saya mau beli minum dulu." pamit Raisa ingin meninggalkan pembicaraan, yang baginya tidak penting.
" Oh iya, silakan." katanya.
Raisa langsung menuju warung kelontong dan itu milik pak Kodir. Dia juga lupa, kalau dulu pernah belanja di sana.
__ADS_1
" Permisi pak, mau beli minum." Kata Raisa sambil memilih minuman dingin di cooler.
" Ambil aja, Neng!" Ucapnya, " Eh si neng, mang uda balikan lagi sama Faisal?" Tanya pak Kodir yang tidak mengetahui kalau Raisa kini menjadi istrinya Aldo.
" Enggak pak, " jawab Raisa sambil tersenyum. Dia baru sadar kalau Pak Kodir pemilik warung, memang mengenalnya.
" Kesian si Faisal, di bilang mandul sama ibu-ibu sini. Gosipnya uda menyebar, mang betul neng?" Tanyanya.
" Maaf pak, saya cuma mau beli minum gak mau gosip." Kata Raisa berkilah.
Dia cukup sedih mendengar berita tentang Faisal, yang sudah menyebar ke seluruh warga.
Hanya saja semua bukan kesalahannya, itu memang ulah keluarga nya. Yang sangat membenci dirinya, tanpa tahu kekurangan anaknya.
Padahal Faisal adalah laki-laki yang bertanggung jawab, serta sayang kepadanya saat itu.
Raisa pamit pada pemilik warung, dia tidak berbicara banyak disana. Karena memang Raisa tipikal yang tidak suka bergosip.
Sesampainya di sekolah, dia langsung menghampiri kelas Alesha.
Ternyata masih belum selesai, karena ada satu siswa yang terus merengek tidak mau belajar.
Sehingga membuat kesulitan Reni untuk mengajarkan nya. Akhirnya Raisa memutuskan untuk membantu Reni, dia membujuk anak laki-laki yang sedang asyik bermain sendiri. Dia tidak menghiraukan orang di sekitarnya. Raisa jadi teringat dengan sikap Alesha beberapa bulan kemarin.
Raisa mengajaknya berbicara, dia mencoba mengajari anak yang sepertinya menderita gangguan autisme.
" Ganteng, nama kamu siapa?" Tanya Raisa yang mendekati anak laki-laki yang sedang duduk di pojokan kelas.
" Zidan." Jawabnya cepat.
Reni terkejut mendengar dia berbicara, padahal anak yang sudah hampir tiga bulan di ajarkan nya, tidak mau berbicara sama sekali.
" Zidan, ikut tante yuk kita mewarnai. Banyak pensil warna di sana." Kata Raisa yang merayunya.
Zidan pun menuruti perkataan Raisa, dia bangun dari duduknya nya
Raisa menuntun Zidan menuju meja belajar.
" Ale, bisa pinjam pensil warna?" Panggil Raisa pada putri kesayangannya.
" Ini mama." Kata Alesha seraya memberikan tas nya
Raisa dengan telaten mengajari Zidan, dia jadi teringat Alesha dulu. Dirinya yang tidak begitu paham akan ilmu psikologi, harus berhadapan dengan anak yang menderita gangguan autisme.
Zidan belajar bersama Alesha, mereka fokus mengamati Raisa yang sedang menghitung pensil warna.
" Baiklah Zidan, ini warna apa?" tanya Raisa sembari menyodorkan pensil warna berwarna merah.
Zidan nampak berpikir, pandangannya tidak fokus. Kemudian Alesha mengajarkan nya, dan memberi tahu warna pensil yang di pegang mamanya.
__ADS_1
" Ini warna merah, " kata Alesha sambil memberikan pada Zidan.
Silakan tap like ya guys.