
Minggu pagi Faisal membangunkan Raisa yang masih tertidur pulas.
" Sa, aku jalan dulu ya." pamit Faisal yang melihat istrinya masih bergelut dengan selimut.
" Hmmm..." jawab Raisa.
Liburan ini dia ingin menghabiskan waktu di tempat tidur. Tak ingin menemui siapapun, dan tak ingin mengerjakan apapun. Dia merasa malas, dan tak perduli lagi dengan omongan ipar dan mertuanya yang selalu menyindirnya.
" Drrttt..."
Suara ponselnya terdengar, dan menandakan bunyi pesan masuk.
Segera dia mengambil ponselnya yang berada di meja.
Di usapnya layar ponselnya dan membuka isi pesan WhatsApp dari Aldo.
" Sa, maafkan aku. Kalau suamimu tahu, aku siap untuk menikahimu." pesan terbaca oleh Raisa.
Raisa terlihat begitu emosi membaca pesan dari Aldo. Dia langsung menghapus nya, lalu memblokir nomor Aldo. Kedua mata nya kembali di pejamkan, tak perduli Maria yang sejak tadi berceloteh tentang masakan yang tidak tersedia pagi ini.
Biasanya Raisa selalu memasak lauk untuk Bu Leha saat akan berangkat kerja. Namun kali ini adalah hari Minggu, Raisa tidak berangkat ke kantor. Dan juga perasaan nya juga sedang tidak bersahabat.
Faisal pun pulang dari mengantarkan koran ke langganan nya. Melihat rumah yang masih berantakan karena ulah anak Maria, dia tidak mempedulikannya.
" Sa, kamu belum bangun?" tanya Faisal yang duduk di pinggiran tempat tidur.
" Aku ingin liburan, dan istirahat." ketus Raisa.
" Baiklah, aku masak dulu ya." jawab Faisal yang sudah membuka jaketnya dan menggantung nya di paku.
Raisa tak bergeming, dia masih saja membaringkan tubuhnya dan membelakangi Faisal.
Faisal keluar dari kamar, dan menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasaknya.
Pertama-tama dia mengambil beras dan mencucinya. Lalu memasukkan ke dalam magic com, setelah itu memotong tempe dan membersihkan sayur sop.
" Istri kamu kemana Sal? Baru kerja begitu aja kok udah budakin suami." Sindir Ratih yang merupakan anak tertua.
Faisal hanya terdiam tak menanggapi, dia tidak ingin terjadi keributan di pagi hari.
" Rumah juga berantakan, tapi dia enak-enak an tidur di kasur. Kayak ratu aja." sindirnya, yang mengintip ke kamar Faisal.
Tak ada yang menjawab ocehan dari Ratih, Faisal masih sibuk dengan masakan nya. Dan jangan tanya tentang perasaan Raisa, dia sudah sangat bosan dengan sindiran dan ocehan iparnya yang selalu usil.
__ADS_1
Selesai memasak, Faisal langsung membawakan makanan untuk Raisa ke kamar nya.
" Wesss,,, enak banget ya. Bangun-bangun uda makan dan disiapin sama suami." cibir Maria yang akan masuk ke dalam kamar ibunya.
" Bekas mainan anakmu tolong rapikan, ingat istri ku bukan pembantu di rumah ini." teriak Faisal yang sudah tidak tahan dengan ocehan kakaknya.
" Heh, siapa yang bilang dia pembantu?" bentak Maria dari depan pintu kamar, " Orang yang hidup di sini harus ikuti aturan sini. Jangan hidup seenaknya." emosi Maria.
Faisal pun keluar dari kamarnya, " Anakmu yang membuat rumah ini berantakan, seharusnya kamu yang merapikan bukan istriku." jawab Faisal.
" Halah orang baru aja kamu bela, aku yang sudah lama tinggal di sini. Ibu aja gak ngomel, mau rumah ini berantakan." nyolot Maria.
" Karena aku bosan setiap hari kalian menyindir istriku tentang rumah berantakan. Aku harap jangan pernah mengganggu ketenangan hidup istri ku." bentak Faisal.
Raisa terlihat merasa bersalah dengan pembela an Faisal. Dia tahu kalau suaminya itu sangat mencintai nya, namun dia khianati.
" Kalau kamu tidak suka ya pindah saja." balas Maria.
" Aku masih tidak tega meninggalkan ibu, kalau mau dari pertama menikah sudah ku tinggalkan rumah ini. Dan hidup bersama istriku tercinta." bela Faisal.
Mendengar perkataan Faisal soal pindah, Bu Leha melerai pertikaian mereka. Dia tidak ingin anak laki satu-satunya pergi meninggalkan nya.
" Sudah Maria, sebaiknya kau rapikan bekas makanan anakmu." kata Bu Leha yang berdiri di depan pintu.
" Sudah Sal, jangan kau dengar omongan Maria." kata Bu Leha.
Faisal hanya menanggapi dingin perkataan ibunya, dia tidak ingin menjadi anak durhaka karena meninggalkan ibu yang kini hanya tinggal sendiri. Dia langsung masuk ke dalam kamar nya, dan membujuk Raisa untuk menghabiskan sarapannya.
" Sa, kamu enggak apa-apa?" tanya Faisal yang mengusap bahu Raisa.
" Aku enggak apa-apa, sebaiknya kamu narik saja. Aku ingin istirahat hari ini." pinta Raisa yang masih berlindung di balik selimutnya.
" Tapi kamu harus habiskan sarapan nya." ucap Faisal yang membawakan sepiring nasi beserta lauk dan sayur.
" Iya, taruh saja di meja. Nanti aku makan." sahut Raisa.
Faisal langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai itu dia mulai menyalakan aplikasi ojek online nya.
Selepas kepergian Faisal, Raisa pun bangkit dari tidurnya.
Dia memandang dirinya sendiri di depan cermin. Menatap jijik pada tubuhnya sendiri, karena telah di sentuh oleh lelaki yang bukan muhrimnya.
Nasi yang berada di hadapannya hanya dia acak-acak tanpa di makan.
__ADS_1
Air matanya terus keluar lagi tanpa tertahan. Ingin berteriak dan mengamuk serta marah-marah.
****
Pagi ini Raisa sudah rapi mengenakan baju kerja nya. Dia tidak membawa salinan seperti biasanya.
Dan Faisal pun hanya mengantar sampai halte busway. Raisa terburu-buru melangkahkan kakinya menuju halte. Agar dia tidak berjumpa dengan Aldo.
Selesai absen dengan finger print, dia langsung menuju kampus nya. Saat akan keluar dari lobby kantor, dia melihat Aldo yang turun dari mobil mewah berwarna hitam.
Tapi dia salah mengira, ternyata Aldo tidak lagi menaiki sepeda motor yang biasa membonceng nya.
Raisa menundukkan kepalanya, dia tidak ingin melihat Aldo. Begitupun Aldo yang berjalan tanpa menatap Raisa.
Saat akan memasuki lift, Aldo berbalik melihat keberadaan Raisa yang sudah hilang dari pandangan nya.
" Maafkan aku Sa." lirih Aldo dalam hatinya.
Raisa sudah naik busway untuk menuju kampus, yang jaraknya tidak jauh dari kantor nya.
Mata kuliah yang dia ambil adalah seni tari, busway sudah sampai di depan kampus.
Raisa berjalan menyusuri lorong untuk menuju kelasnya. Saat melihat mading dia tak sengaja membaca lowongan kerja.
......Dicari......
Seorang asisten guru tari balet, yang berminat silakan hubungi Tammy 08245678910
Lowongan ini berakhir sampai akhir Minggu ini.
^^^Pengurus Mading^^^
^^^Jelita^^^
" Wah ini kesempatan untuk ku agar bisa keluar dari kantor terkutuk itu." Batin Raisa, dengan cepat tangannya mengambil ponselnya di saku bajunya. Dan mencatat nomor telepon yang tercantum di papan pengumuman.
Dia akan menghubungi nama yang tercantum di mading, saat menyelesaikan mata kuliahnya.
Kini dia langsung berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai tiga.
-
Silakan like dan berikan vote untuk karyaku.
__ADS_1