Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 39: Aldo dan Ale


__ADS_3

" Raisa?" kaget Aldo saat melihat Raisa di hadapannya.


" Kamu..." ucap Raisa yang masih memanggil Aldo dengan sebutan kamu.


" Kalian sudah saling kenal?" tanya Arifin sambil melihat ke-dua nya.


" Tidak.." jawab Raisa berbarengan dengan Aldo, " Sudah.." jawab Aldo


" Sebenarnya gimana?" tanya Arifin.


Acara pun di mulai, Raisa langsung melihat ke arah bawah balkon. Lalu Aldo pun di beri ruang untuk duduk di sebelah Raisa.


" Ish, kenapa dia ada di sebelah ku." gerutu Raisa sambil menghisap bibir bawahnya.


Sepanjang pertunjukan, mereka tak tegur sapa. Hingga muncul lah giliran Beby dan Alesha yang tampil.


" Itu anakku yang besar, dan yang kecil adalah anak Raisa." bisik Arifin di telinga Aldo.


" Anak Raisa?" tanya Aldo dalam hatinya.


Dia bingung dengan Raisa, ada hubungan apa dia dan keluarga Arifin.


Jika dia istri kedua, kenapa bisa seakrab ini dengan istri pertama. Pertanyaan itu selalu terngiang dalam benaknya.


Keluarga Arifin pun berdiri dan melihat penampilan mereka dari atas balkon. Sungguh gerakan yang membuat takjub para penonton. Kolaborasi antara Beby dan Alesha begitu terasa menunjukan tema yang di lombakan.


Saat gerak gemulai mereka berakhir, suara riuh tepuk tangan pun saling bersambut.


Ternyata mereka suka dengan feel yang di tampilkan oleh Alesha.


Hingga pertunjukan berakhir, kemudian terdengar pengumuman lomba.


Sorak sorai dan riuh tepukan tangan menggema di aula ballroom hotel. Ternyata kemenangan Beby dan Alesha membuat suasana menjadi ramai, bak suporter bola di Indonesia.


Acara pun usai, Raisa dengan tergesa-gesa, langsung berlari menuju ruang ganti peserta.


Aldo pun mengikuti Raisa dan langsung menarik lengan nya.


" Raisa, lihat aku." kata Aldo yang sudah mengunci tubuh Raisa dengan kedua tangan nya dan Raisa pun bersandar di dinding.


" Untuk apa?" kesal Raisa, dia sudah sangat membenci Aldo.


" Siapa anak itu?" tanya Aldo sambil menatap tajam kearah Raisa.


" Kau tidak perlu tahu, dan aku takkan memberitahu." tegas Raisa dengan pandangan sinis.


Saat Aldo ingin mencium bibir Raisa, tiba-tiba Arifin muncul di sebelahnya.


" Aldo, apa yang akan kau lakukan?" geram Arifin melihat Aldo ingin mencium Raisa, kemunculan dia menonjok pipi Aldo.


" Bukkk..!!"


Aldo pun terjatuh dan darah merah menetes di sudut bibirnya.

__ADS_1


" Kau tidak apa-apa?" tanya Arifin yang langsung memegang kedua lengan Raisa.


Raisa menganggukkan kepalanya, dia langsung berlindung di balik tubuh tegap Arifin.


" Maafkan aku Pak, dia wanita yang aku cari selama ini." kata Aldo yang langsung bangkit dan menghampiri Arifin juga Raisa.


" Apa maksudmu?" tanya Arifin.


" Mama...." tiba-tiba suara Alesha memanggil Raisa. Begitu nyata dan jelas, karena baru kali ini Alesha memanggil namanya.


Raisa begitu terkejut, dan tak menyangka kalau anaknya akan membuka suaranya. Keluarga Arifin pun tercengang, saat Alesha mulai mengeluarkan suaranya.


Raisa langsung berlari memeluk Alesha, " Ale sayang, kamu sudah bisa memanggil mama, Nak?" tanya Raisa sambil memandangi Alesha.


" Mama.." ucap Alesha menegaskan sambil tersenyum.


Aldo pun menghampiri mereka, dan membungkuk kan badannya.


" Hey cantik, nama kamu siapa?" tanya Aldo sambil tersenyum.


Tangan Alesha tiba-tiba mengusap darah yang menetes di bibir Aldo.


Aldo merasakan kehangatan tangan dari bocah berumur lima tahun itu. Sebuah senyuman mengukir di sudut bibirnya yang robek.


" Ale." jawab Alesha yang mulai respon dengan pertanyaan Aldo.


Raisa langsung menatap Alesha, dia sungguh tidak percaya dengan perkembangan anak nya yang sudah setingkat lebih maju.


" Raisa, tunggu.." panggil Aldo yang melihat Raisa berlari meninggalkan Aldo.


Dan langkah Aldo pun di tahan oleh Arifin, " Jangan kau mengejar nya, dia sudah cukup menderita." kata Arifin.


" Maksud anda apa pak?" bingung Aldo dengan pernyataan Arifin.


" Aku tidak bisa membahasnya di sini, kami pergi dulu." pamit Arifin sambil menepuk pundak Aldo.


Keluarga Arifin pun langsung meninggalkan Aldo.


Raisa dan anaknya sudah sampai di pelataran ballroom hotel. Mereka akan menyaksikan serah terima hadiah dari panitia.


Tak tanggung-tanggung, Beby dan Alesha menyabet gelar juara satu piala the best favorit couple balerian.


Sungguh di luar dugaan, bakat yang di miliki Alesha membawanya menuju kontes kejuaraan Eropa. Raisa sungguh bangga, dia merasa bersyukur Tuhan telah menganugerahkan anak yang istimewa padanya. Walaupun hasil dari buah perkosaan Aldo.


Semua wartawan pun menghampiri kedua anak perempuan, yang terbilang cukup muda dan berbakat.


Beby selalu menjawab semua pertanyaan wartawan, tapi tidak dengan Alesha. Dia bingung karena banyak sorot kamera dan pencahayaan yang berkedip-kedip di hadapannya.


Seketika dia takut, dan langsung memeluk Beby.


Raisa cemas dengan keadaan putrinya, segera dia menghampiri Alesha.


Raisa menjelaskan kenapa sikap Alesha seperti itu. Kemudian Raisa menjelaskan tentang penyakit yang di idap oleh Alesha.

__ADS_1


Penonton pun riuh ramai mendengar penuturan Raisa.


Semua orang salut pada Raisa, yang bisa membimbing anaknya untuk menyalurkan bakatnya.


Aldo memperhatikan Raisa di depan pintu, dalam benaknya masih bertanya-tanya tentang anak Raisa. Namun dia urungkan untuk mengetahui nya, dan dia akan mengikuti saran Arifin.


Hari menjelang sore, keluarga Arifin pun meninggalkan hotel tempat pertunjukan balet.


" Bu Isa, pria tadi kenapa terlihat begitu akrab dengan dedek Ale?" tanya Beby sambil memeluk Alesha yang sudah tertidur pulas.


" Dia..." ragu Raisa menjawab lalu di potong oleh Arifin.


" Dia itu klien papa, dan mungkin dia suka sama anak kecil." jawab Arifin sambil menoleh ke arah belakang.


Hati Raisa pun tenang setelah Arifin menjawab pertanyaan dari Beby.


Mereka pun sampai di rumah, dan Alesha di gendong Arifin menuju kamarnya.


" Terima kasih ya pak, sudah menjawab pertanyaan Beby." kata Raisa dari arah depan pintu.


Arifin sudah membaringkan Alesha di tempat tidur.


Arifin menghampiri Raisa, " Bisa kita bicara?" tanya Arifin yang langsung meninggalkan Raisa.


Kemudian Raisa langsung menutup pintu kamar Alesha. Dia mengikuti langkah Arifin menuju ruang tamu.


Merlin sedang membersihkan dirinya di kamar, begitu juga dengan anak-anak mereka.


" Iya pak, ada apa?" tanya Raisa yang berdiri di hadapan Arifin


" Duduklah." perintah Arifin.


Raisa pun duduk di sofa, berhadapan dengan Arifin.


" Apakah dia yang memperkosa mu?" tanya Arifin tanpa basa-basi.


" Degh...!!" jantung Raisa serasa mau copot, dia begitu terkejut mendengar pertanyaan dari Arifin.


" Iya pak." jawab Raisa dengan wajah tertunduk.


Terlihat Arifin memijat pelipisnya, merasa dunia begitu sempit. Kenapa harus kliennya yang merupakan musuh bebuyutan nya yang memperkosanya.


" Maafkan saya yang sudah sering merepotkan anda." kata Raisa sambil menundukkan kepalanya.


" Itu bukan salahmu, semua sudah di gariskan oleh Tuhan." ucap Arifin dengan bijak.


" Tapi aku tidak ingin dia tahu kalau Ale itu anaknya." pinta Raisa dengan tegas.


Terlihat Arifin membulatkan kedua bola matanya.


-


Silakan like dan berikan komentar mu guys..!!!

__ADS_1


__ADS_2