Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 22: Tawaran menari


__ADS_3

Raisa sudah berada di sekolah tari, dan dia akan memulai pelajaran pertama nya.


" Anak-anak perkenalkan nama ibu Raisa, nama lengkapnya adalah Raisa Ekasuci." papar Raisa pada anak muridnya.


Dia sangat gugup pada hari pertama bekerja, karena anak yang di ajarkannya adalah anak belasteran luar negeri.


Ada anak yang berkulit putih, dan hitam serta hidung yang mancung atau rambut bule.


Bahasa yang di gunakan saat ini adalah bahasa Indonesia. Untuk selanjutnya Raisa harus fasih berbahasa Inggris.


Jam menunjukkan pukul sembilan, waktu nya istirahat. Dan dia harus mengganti kelas mengajarnya. Saat pagi adalah anak usia 5-12 tahun, dan selesai istirahat mengajar anak usia remaja.


" Kamu Raisa?" tanya salah seorang guru tari yang mengajarkan tarian tradisional.


" Iya, " jawab Raisa.


" Perkenalkan namaku Niken, panjangnya Niken Widiastuti." sapanya dengan mengenalkan dirinya.


" Iya mbak Niken, salam kenal ya." tutur Raisa.


" Jangan mbak dong, umurku belum tua. Tapi sepertinya kita seumur. Panggil nama saja." ucapnya seraya mengulas senyum.


" Iya, " jawab Raisa.


" Kamu ngambil kelas apa?" tanya Niken.


" Kelas Balet ." jawab Raisa.


" Oh ya, pas banget sama badan kamu yang ramping." puji Niken.


" Kamu bisa aja, jangan terlalu memujiku. Nanti aku bisa terbang." canda Raisa seraya menepuk lengan Niken.


Tiba-tiba ada seorang pria melintas di depan mereka yang sedang bersenda gurau.


" Kalian guru di sini?" tanya pria paruh baya dengan stelan jas lengkap.


" Iya pak, " jawab Niken, " Ada apa ya pak?" tanya Niken.


" Saya mau memanggil guru privat balet untuk mengajar di rumah." kata laki-laki yang berada di hadapan mereka.


" Oh teman saya ini guru balet, pak." sambung Niken yang mengarahkan tangannya ke Raisa.


" Oh anda guru balet di sini?" tanyanya.


" Iya, pak. Perkenalkan saya Raisa." ucap Raisa memperkenalkan diri.


" Iya saya ingin meminta anda untuk mengajar di rumah. Karena anak saya suka sekali dengan tari balet." tutur sang pria dengan mengulurkan tangannya bermaksud ingin berjabat tangan.

__ADS_1


" Oh baik pak, saya akan dengan senang hati menerima tawaran bapak." ucap Raisa senang.


" Boleh saya minta nomor telepon nya, agar dengan mudah menghubungi anda." kata pria paruh baya itu yang mengeluarkan ponselnya.


" Maaf bapak siapa ya namanya, biar saya save." tanya Raisa seraya mendial nomor di ponselnya.


" Arifin Dananjaya." jawab pria paruh baya yang memakai stelan jas lengkap.


" Baik pak Arifin, nanti anda bisa langsung menghubungi saya. Dan saya akan mengajarkan anak bapak seusai pulang mengajar." ucap bahagia Raisa dengan senyum yang mengembang.


Kemudian mereka kembali berjabat tangan, lalu Arifin pamit untuk pergi meninggalkan sekolah.


" Wah Raisa, kamu beruntung banget. Baru pertama kali masuk udah ada yang manggil." kata Niken.


" Iya, aku juga gak menyangka Ken." kata Raisa yang masih memiliki senyum bahagia di raut wajahnya.


Usai mengajar anak-anak di sekolah, Raisa masih mempunyai waktu senggang untuk beristirahat. Karena sekitar jam empat sore, dia harus menuju kampusnya.


Raisa bersyukur, karena di balik kesedihan ada hikmah yang dia dapat.


****


" Sal, kok Raisa gak hamil-hamil sih?" cibir Maria yang sedang menikmati acara televisi di ruang tamu.


Faisal langsung gugup, dia bingung harus menjawab nya.


" Heh, aku tuh cuma kesian sama kamu. Istri kerja, sedangkan kamu kalau pulang ngojek gak ada yang ngelayanin." ucap Maria memanasi.


" Aku bilang jangan pernah mengusik kehidupan keluarga ku." Geram Faisal yang langsung mengambil helm dan jaket nya.


Segera dia melajukan motornya meniggalkan rumah yang seperti neraka nya saat ini


" Ish tuh anak di kasih tahu malah kabur." Gumam Maria yang jengkel dengan Faisal yang selalu melawan nya.


****


Siang ini Raisa ingin di jemput oleh Faisal, karena dia harus membeli sepatu balet di mall.


Mereka sangat jarang berjalan berdua, semenjak abis menikah Faisal tidak pernah mengajak Raisa jalan-jalan.


Faisal langsung melajukan motornya menuju sekolah tari. Di depan gerbang Raisa sudah menunggu kedatangan suaminya.


Faisal masih berpikir, apakah Raisa akan bertahan hidup dengan nya jika dirinya memiliki masalah dengan kejantanan nya.


Pasti semua orang akan menghujat nya, dan Raisa akan menceraikan nya.


Walau dia tutupi pasti akan terbongkar juga rahasianya. Tapi biar Raisa yang memutuskan, dia hanya menunggu nasib.

__ADS_1


" Kamu mau cari apa?" tanya Faisal yang menggandeng tangan Raisa.


" Sepatu balet, aku baru saja mendapatkan tawaran menjadi guru privat." kata Raisa sambil melihat toko-toko yang berjajar di hadapannya.


" Oh, " jawab Faisal, " Biarlah dia mengembangkan bakatnya, aku tak akan melarang. Asalkan dia bahagia." batin Faisal, dia sangat tahu kalau Raisa memang suka menari.


" Di sana ada tempat sepatu, kita cari di sana." ajak Raisa yang melangkahkan kakinya dengan cepat.


" Tidak ada Sa, seperti nya kita harus cari lagi." kata Faisal yang mendengar jawaban dari SPG.


" Mall sebesar ini tidak ada yang menjual sepatu balet, huft. " ucap Raisa mendengus kesal, karena kakinya sudah lelah berjalan.


" Cari di internet, siapa tahu ada di dekat sini." usul Faisal.


" Baiklah, kita makan dulu ya." ajak Raisa, mereka menuju tempat makan di lantai atas.


Tangan Raisa sibuk mencari di internet tentang toko sepatu balet dan kostum nya.


" Aku beli online aja, kayaknya capek jika harus ke ujung Jakarta." ucap Raisa yang langsung memesan di toko online.


Kemudian mereka mulai menyantap hidangan yang sudah tersaji di atas meja.


****


Aldo merasa sangat frustasi, dia mengunci diri di dalam kamarnya. Merasa patah hati, dan kecewa dengan keputusan sang kakek. Ingin rasanya Aldo mengadu, tapi sama siapa?. Ayahnya tak pernah memberitahukan soal tempat tinggal nya.


Karena yang Aldo kenal bukanlah ayah kandung, melainkan ayah sambung yang tidak ingin merawat Aldo.


Sampai saat ini, Aldo belum mengetahui siapa ayah kandungnya.


" Den, ini makanan nya. Sebaiknya anda makan sekarang, nanti bisa sakit." suara bibi Salma yang memanggil Aldo dari pintu luar.


Walaupun mereka tinggal di Perancis, namun sang bibi yang tinggal di Jakarta tetap di bawa untuk mengurus Aldo. Karena sedari kecil si bibi memang sudah mengasuh Aldo.


Aldo tidak menjawab panggilan bibi, dia masih melamun di tepian jendela kamarnya.


" Den, kalau sakit nanti bibi jadi sedih." ucap bibi Salma yang terus berusaha merayu Aldo untuk makan.


" Den kalau aden gak makan, bibi juga gak mau makan." ancam bibi Salma yang berdiri di depan pintu.


Selang beberapa menit kemudian pintu pun terbuka.


" Mana sini bi, " ketus Aldo lalu mengambil nampan yang berisi nasi dan lauk.


-


Silakan like dan komentar ya.

__ADS_1


__ADS_2