Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 73


__ADS_3

" Aldo, bangun nak!" panik Arifin melihat darah sudah membasahi baju Aldo.


Aldo terlihat tak sadarkan diri, kemeja putihnya berubah menjadi merah darah. Peluru menembus perut sebelah kirinya. Semua di luar dugaan Aldo, hingga membuatnya menjadi tak sadarkan diri.


Segera Arifin menghubungi ambulan, dan langsung menggendong Aldo menuju lantai bawah.


Semua karyawan yang melihat, langsung membantu Arifin membawa Aldo.


Selang beberapa menit, ambulan datang dan langsung membawa Aldo ke rumah sakit.


" Tahan Nak! Kamu pasti kuat." kata Arifin sambil memegang tangan Aldo.


Terlihat perawat sedang memasang oksigen di mulut Aldo. Serta membuka bajunya, untuk melihat luka. Segera Aldo di pasang infus, agar dia tidak mengalami dehidrasi.


Ambulan telah sampai di rumhiah sakit, Aldo langsung di bawa ke IGD.


" Anda tunggu di luar ya pak!" kata perawat yang membawa Aldo masuk ke dalam IGD.


" Baik Sus, " jawab Arifin, dia langsung menghubungi Raisa.


" Hallo, Raisa.."


" Iya, pah ada apa?"


" Kamu bisa datangkan ke rumah sakit Pelita Kasih?"


" Iya ada apa Pah?" tanya Raisa.


" Segera datang ke ruang IGD, sekarang." pinta Arifin tanpa menjelaskan.


" Baik, pah!" jawab Raisa.


Mereka langsung menghentikan pembicaraan nya. Arifin tidak ingin membuat Raisa cemas, dan akan menyampaikan berita tentang Aldo saat dia telah sampai.


Selang beberapa menit, Raisa pun sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju IGD, sesuai arahan dari Arifin.


" Pah, ada apa?" tanya Raisa dengan wajah cemas.


" Al- do, tertembak." kata Arifin sambil menundukkan kepalanya.


" A-pa?" kaget Raisa, seketika tubuhnya lemas dan hampir jatuh. Arifin pun menolongnya, dan mendudukkan di bangku.


" Permisi pak, pasien sudah di operasi. Dan akan di pindahkan ke ruang rawat." lapor perawat yang membuka ruangan IGD.


Kemudian perawat mendorong brankar, menuju ruang VIP.


Raisa dan Arifin mengawal Aldo, menuju ruang rawat inap. Mereka sudah sampai di ruang VIP, Aldo di pindahkan ke tempat tidur.


Raisa begitu cemas melihat keadaan Aldo, dia langsung memeluk Aldo.


" Bangun, aku mohon bangunlah!" ucap Raisa sambil terisak tangis.


Aldo masih tak sadarkan diri, karena pengaruh obat biusnya. Dia terkena tembakan di bagian perut, dan hampir mengenai organ lainnya.


" Pah, siapa yang menembak Aldo?" tanya Raisa.

__ADS_1


" Jenifer, anak Johnson." jawab Arifin.


" Alasan apa, dia menembak Aldo?" kata Raisa sambil menangis.


" Dia meminta, agar ayah dan kakaknya di bebaskan." jelas Arifin yang berdiri di belakang Raisa.


Raisa terdiam, dia sedih melihat suaminya terbaring tak sadarkan diri.


Selang beberapa jam menunggu, akhirnya Aldo tersadar.


Aldo melihat Raisa tertidur di sampingnya, dengan kepala bertumpu pada kedua tangannya.


Dia langsung mengusap puncak kepala Raisa, mengelus dengan perlahan.


" A-" suara Arifin terhenti, tatkala Aldo menutup mulutnya dengan jari telunjuknya. Menandakan kalau Arifin jangan membangunkan Raisa dengan suaranya.


Dan Arifin langsung keluar dari kamar inap, dia merasa lega karena putranya telah sadar.


Arifin memberikan isyarat pada Aldo, kalau dirinya akan pulang. Dan Aldo mengangguk kan kepalanya, menandakan setuju.


Cukup lama Aldo mengusap rambut, dan mengelus pipi Raisa. Namun belum juga terbangun, sepertinya dia sangat lelah.


Hingga datang perawat untuk memeriksa keadaan Aldo.


" Permisi.." sapa perawat seraya mengetuk pintu.


Dan Raisa kemudian terbangun, dia mengusap kedua matanya.


" Sus, " sapa Raisa.


" Baiklah, " kata Raisa yang langsung bangun dari duduknya, lalu menyingkir.


Perawat mengeluarkan stetoskop, lalu memeriksa denyut jantung Aldo. Mengecek luka, dan mengganti perban yang sudah terlihat bercak darah.


" Maaf sus, apa lukanya sangat parah?" tanya Raisa cemas.


" Pak Aldo sangat kuat, dia sanggup menahan rasa sakit dan bisa melewati masa kritis. Tolong rawat pak Aldo ya bu!" pesan perawat yang telah menyelesaikan pekerjaannya.


Kemudian dia memberikan obat-obatan pereda nyeri untuk Aldo.


" Obat ini di minum setelah makan. Dan nanti malam akan kami cek lagi lukanya, di sarankan agar ibu tetap berada di samping pak Aldo. Agar tidak terjadi pergerakan di bagian perutnya." ucap perawat memberikan keterangan.


" Baik sus, terima kasih." ujar Raisa sambil tersenyum.


" Kenapa kau sampai nekat berbuat seperti itu?" tanya Raisa seraya mendekati Aldo.


" Aku mungkin sedang tidak beruntung." ucapnya berkilah.


" Kau benar-benar bodoh, kenapa harus melukai diri sendiri." ucap Raisa yang langsung memeluk Aldo, " Kau tahu, apa yang aku pikirkan tadi?" kata Raisa sambil menangis tersedu-sedu.


" Kau berpikiran apa?" tanya Aldo.


" Aku takut kehilangan kebahagiaan ku, apa kau tega merenggut kebahagiaan ku?" ucap Raisa penuh penekanan.


" Maafkan aku." ucap Aldo sambil memeluk dengan erat.

__ADS_1


" Kau tahu, aku sudah lelah dengan semua penderitaan yang aku alami. Aku hanya ingin bahagia, aku tidak ingin lagi ada kesedihan dalam hidup ku. Aku tidak ingin kehilangan cinta ku, yang benar-benar tulus aku dapat darimu. Aku takut...!" lirih Raisa.


" Terima kasih kau telah menerima ku, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu. " ucap Aldo sambil mencium puncak kepala Raisa.


Aldo merasa bahagia, walaupun ada rasa sakit di perutnya yang sedikit di tekan oleh Raisa. Namun hal itu tidak dia rasakan, karena terlalu bahagia.


Dia harus kuat menahan segala rasa sakit, demi wanita tercinta yang sudah membuka hati untuk nya.


" Tok, tok, tok..."


Terdengar bunyi ketukan pintu dari arah luar.


" Permisi pak, waktu nya makan malam." sapa petugas rumah sakit yang membawakan makan malam.


" Iya, masuk saja." kata Raisa yang melepas pelukannya, seraya mengusap air matanya.


Petugas pengantar makanan membawa nampan yang berisi bubur, susu dan buah.


" Silakan di makan pak, setelah itu minum obatnya." kata petugas yang sudah meletakkan nampan di atas meja.


" Terima kasih." kata Raisa.


Dan petugas makanan pun pergi, meninggalkan mereka berdua.


" Apa kau lapar?" tanya Raisa yang kembali duduk di bangku.


" Iya, " jawab Aldo.


Kemudian Raisa mengambil nampan yang berada di atas meja.


" Kau ingin duduk, biar aku naikkan tempat tidur nya." kata Raisa.


" Iya, " jawab Aldo sambil terus memperhatikan Raisa.


Raisa menekan tombol untuk menaikkan sandaran tempat tidur.


" Apakah sudah nyaman?" tanya Raisa.


" Sudah, " jawab Aldo.


" Kau mau makan atau minum susu dulu?" tanya Raisa menawarkan makanan yang berada di tangannya.


" Aku haus, mau minum air putih." kata Aldo.


Kemudian Raisa menaruh nampan di meja, yang berada di atas tempat tidur Aldo.


Raisa mengambil segelas air putih, dan di berikan kepada Aldo.


" Minumlah, dan aku suapi." kata Raisa yang langsung mengambil semangkuk bubur tanpa toping.


Karena perut Aldo tidak boleh mencerna makanan yang keras. Nanti akan berpengaruh pada luka di perutnya.


-


Silakan like dan berikan komentar mu.

__ADS_1


__ADS_2