
" Bu Isa, aku mau mendaftar kontes balet yang menang akan di ikut sertakan dalam kontes di Perancis." lapor Beby pada Raisa.
" Wah, kamu pasti menang Beb. " kata Raisa.
" Tapi bu, aku harus mencari pasangan anak-anak di bawah usia 10 tahun." jawab Beby sambil menundukkan kepalanya.
Raisa terdiam, sepertinya dia berpikir akan mencari pasangan menari untuk Beby.
" Memang tema kontesnya apa Beb?" tanya Raisa.
" Kakak dan adik." jawab Beby sambil melirik Alesha.
Raisa menatap mata Beby yang beralih ke Alesha. Sepertinya Beby menginginkan Alesha menjadi pasangannya.
" Apakah Alesha bisa dampingin kamu?" tanya Raisa mencari pembenaran di kedua mata Beby yang penuh harap.
" Kayaknya bisa bu Isa, aku senang banget kalo dedek Ale bisa nari sama aku." ucap riang Beby.
" Baiklah, kita mulai latihan besok. Dan kamu bisa daftar kan Ale." kata Raisa sambil tersenyum.
" Hore, Ale kita akan menjadi penari balet terkenal." sorak Sorai suara Beby sambil menggendong Alesha.
*****
Dengan gaun merah mudanya, Beby dan Alesha beberapa kali menunjukkan aksinya mengangkat kaki dan salah satu kakinya lagi berjinjit dengan jempolnya. Dia tengah menarikan baletnya yang berjudul Fairy Doll.
Beby dan Alesha terlihat kompak menari di atas panggung. Arifin dan Raisa pun begitu bahagia melihat putri kecil mereka tampil di ajang kompetisi nasional.
Acara pun usai, dan mereka lolos dan masuk grand final. Dan acaranya akan diadakan di Perancis.
" Kok bisa kebetulan ya, bulan depan papa juga mau ke Perancis. Jadi kamu dan Bu Isa bisa ikut papa ke sana." kata Arifin yang sudah berada di mobil dan duduk dekat Yuda sang sopir.
" Terima kasih pak Arifin, karena anda telah merubah nasib saya." kata Raisa.
" Semua sudah di gariskan Tuhan. Saya hanya mencoba membantu mu." kata Arifin sambil menoleh ke belakang.
" Kalau Beby mau, bisa pindah sekolah ke Perancis. " tawar Arifin pada anaknya.
" Beby pikir dulu pah, kan kasian dedek Ale kalau Beby tinggal di Perancis." kata Beby sambil mencium Alesha yang sedang tertidur lelap.
" Raisa, apa kamu mau tinggal di Perancis?" tanya Arifin.
" Tapi Pak!!" Raisa ragu, karena dia masih belum memberi kabar pada kedua orang tuanya.
" Tapi kenapa?" tanya Arifin.
__ADS_1
" Saya belum bertemu dengan keluarga saya setelah kejadian malam itu. Mereka pasti cemas, sebenarnya saya ingin menjenguk nya. Hanya saja malu, jika mereka tahu kalau saya di tuduh berselingkuh." tutur Raisa.
" Raisa kejadian itu sudah lama berlalu, dan sepenuhnya bukan salahmu. Hanya nasib baik tidak berpihak padamu saat itu. Kini kamu harus memperkenalkan cucunya yang telah menunjukkan prestasinya. Mereka pasti akan bangga, saat tahu Cucunya berprestasi." kata bijak dari Arifin yang mencoba menenangkan pikiran Raisa.
" Sekarang kita kerumah orang tuamu, dan meminta ijin mereka." kata Arifin, " Katakan di mana rumah orang tuamu?" tanya Arifin
" Tapi pak, saya sudah sering merepotkan anda." kata Raisa yang merasa tak enak hati.
" Raisa, aku tulus membantumu. Karena kau telah membimbing anakku sampai saat ini." kata Arifin.
" Baiklah pak, rumahku di pinggiran kota dekat perbatasan." kata Raisa.
Lalu Yuda membuka map internet, untuk mencari letak rumah Raisa.
Selang dua jam, akhirnya mereka sampai di depan rumah Raisa.
Terlihat sang adik bungsu nya yang sudah terlihat remaja, sedang menjaga warung sayur ibunya.
Raisa jadi teringat akan masa lalunya, karena dia adalah anak sulung. Dan bertanggung jawab untuk menjaga warung ibunya.
Raisa turun dari mobil, dan sang adik bungsu tak mengenali sosok kakak sulungnya.
Karena kini Raisa terlihat sangat cantik dengan rambut berwarna coklat.
" Anda siapa?" tanya Widya.
" Kamu gak kenal kakak?" tanya Raisa.
Widya lalu memperhatikan wanita cantik yang berbicara di hadapannya.
Mengenal sosok kakaknya yang bermata indah.
" Kak Raisa..." teriaknya lalu dia langsung keluar dari warung dan memeluk Raisa.
" Widya.." lirih Raisa seraya meneteskan bulir air mata yang kini telah membasahi pipinya.
" Kakak kemana aja? Bapak sama ibu nyariin kakak, khawatir sama kakak. Terus ibu jadi sakit-sakitan karena mikirin kakak." kata Widya sambil menangis di pelukan Raisa.
Hati Raisa sungguh pilu mendengar penuturan sang adik. Dia sungguh menyesal telah pergi sekian tahun tanpa memberikan kabar.
" Maafkan kakak, " lirih Raisa.
" Kak, itu siapa?" tanya Widya yang melihat mobil mewah terparkir di depan rumahnya. Dan nampak laki-laki paruh baya dan dua anak perempuan di samping nya.
" Kita masuk ya, nanti kakak ceritakan." kata Raisa, kemudian Raisa mengajak masuk Arifin ke rumahnya.
__ADS_1
Mereka telah duduk di dalam, terlihat sofa yang sudah keluar busanya. Rumahnya tidak terawat, karena ibunya sakit sejak kepergian Raisa.
Raisa pun masuk ke dalam kamar sang ibu. Terlihat ibunya sedang berbaring di tempat tidur, dengan tubuh yang sudah kurus.
" Ibu, maafin aku." Raisa langsung memeluk ibunda yang tergolek lemah.
" Kamu siapa?" tanya sang ibu yang matanya kini telah rabun karena menderita katarak.
" Raisa bu, ini Raisa pulang." lirih Raisa dengan suara isak tangis.
" Kamu kemana saja nak? Kenapa gak pulang ke rumah?" tanya sang ibu sambil memeluk Raisa.
" Maafkan Raisa bu, saat itu Raisa sungguh bingung. Raisa malu, dan sangat takut." kata Raisa.
" Seharusnya kamu pulang, dan tak usah risaukan ocehan orang." kata sang ibu dengan air mata sudah membasahi pelupuk matanya.
Raisa menceritakan semua kisahnya yang di usir oleh suaminya karena telah di perkosa.
Beberapa menit kemudian, bapaknya pun pulang dari pekerjaannya. Kini sang bapak bekerja sebagai kuli bangunan. Di usia yang tak lagi muda, dan hanya pekerjaan itu yang dia bisa.
" Bapak..." Raisa memeluk ayahnya.
Mereka cukup lama berada di kamar sang ibu. Kemudian Raisa memperkenalkan cucu mereka.
Raisa memperkenalkan Alesha pada keluarga nya. Terlihat sang ibu kembali sehat dan banyak tertawa karena bahagia.
Kedatangan Raisa adalah meminta ijin untuk tinggal di Perancis.
Sungguh kabar bahagia sekaligus kesedihan untuk mereka. Awalnya bahagia karena anak sulung nya kembali pulang, dan sedihnya adalah harus pergi lagi.
Raisa memperkenalkan Arifin pada keluarganya. Dialah malaikat penolong Raisa, di saat sedang kesulitan.
" Pak, pegang ini untuk biaya pengobatan ibu dan sekolah adik-adik. Dan bapak juga gak usah lagi kerja jadi kuli. Tiap bulan akan Raisa transfer. Maafin Raisa yang belum bisa merawat kalian." kata Raisa yang pamit dan menyerahkan sebuah ATM.
" Widya, nanti kamu beli handphone ya supaya bisa komunikasi sama kakak." pesan Raisa.
" Dan kalian harus sekolah sampai perguruan tinggi. Tolong jagain bapak sama ibu, nanti kakak akan mampir lagi ke rumah." kata Raisa sambil memeluk adik bungsunya.
Adik keduanya sedang bekerja, dan kini dia bekerja di minimarket dekat rumahnya.
Raisa pamit pulang, dan juga Arifin serta Beby dan juga Alesha.
-
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1