Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 94


__ADS_3

Usai makan malam, mereka pulang ke rumah. Karena seharian telah meninggalkan Alesha, bersama Celine dan Beby.


" Bisa, berhenti sebentar?" Raisa menyuruh Aldo menepikan mobilnya.


Aldo langsung menghentikan mobilnya, di pinggir jalan.


" Kamu kenapa, Sayang?" Aldo melihat ke arah Raisa, wajah nya pucat dengan keringat di keningnya.


" Perutku mual, dan ingin muntah." Raisa terlihat kepayahan, dengan wajah yang sudah memucat


Aldo panik, segera dia keluar dari mobilnya. Dan membukakan pintu untuk Raisa, lalu menuntunnya ke tepi jalan.


" Aku, ambilkan plastik, " kata Aldo yang telah mendudukkan Raisa di trotoar.


Raisa hanya mengganggukkan kepalanya dan duduk di trotoar, sambil meluruskan kedua kakinya.


Segera Aldo mencari plastik, di dalam mobilnya. Tak juga dia temukan, akhirnya dia melihat paper bag berwarna putih. Segera dia mengeluarkan isinya, dan keluar dari mobil.


" Pakai ini, karena tidak ada plastik, " kata Aldo seraya memberikan paper bag berwarna putih.


" Huek, huek ..." Raisa memuntahkan seluruh isi makanan dari dalam perut nya.


Aldo dengan lihai, memijat tengkuk leher Raisa. Membalurkan dengan minyak kayu putih, sambil mengelus perlahan.


" Apa sudah enakan?" Aldo menanyakan pada istrinya, memastikan jika keadaannya sudah membaik.


" Perutku, mual." Raisa terlihat lemas, usai memuntahkan seluruh isi makanan.


Aldo teringat, kala sakit beberapa tahun yang lalu. Dia mengalami mual dan muntah, serta lemas.


Apakah Raisa merasakan hal yang sama saat ini?


" Aku, panggilkan ambulan, " kata Aldo yang tidak tega melihat istrinya dengan wajah yang sudah pucat.


" Tidak perlu, hal ini wajar bagi ibu hamil." Raisa mencegah tangan Aldo yang ingin mengambil ponselnya.


Selang setengah jam, perut Raisa tak lagi mual.


" Ayo, kita pulang." Ajak Raisa yang langsung bangun dari duduknya.


****


Sesampainya di rumah, terlihat Alesha sudah tertidur pulas di kamarnya. Sedangkan Beby masih meneruskan belajarnya.


" Bu Isa, kok wajahnya pucat?" Tanya Beby yang melihat Raisa masuk ke dalam kamarnya.


" Iya, mungkin aku lelah." Kata Raisa yang sudah duduk di sebelah Beby, " Kamu masih belum selesai belajarnya?" Tanya Raisa.


" Belum, besok aku akan ada ulangan di sekolah. Jadi aku harus belajar lebih giat." Kata Beby.


" Tapi jangan terlalu lelah, karena kau telah menjaga Alesha sejak tadi." Kata Raisa.


" Tidak, Alesha tidak merepotkan justru aku senang mempunyai teman bermain."


" Iya sudah, aku ke kamar dulu." Kata Raisa sambil mengusap kepala Beby.


" Iya, bu Isa istirahatlah." Kata Beby.


Beby masih belum terbiasa memanggil Raisa dengan sebutan kak. Karena sedari kecil, dia selalu memanggil Raisa dengan sebutan bu Isa.


Raisa langsung kembali ke kamarnya, menemui suaminya yang masih bergelut dengan laptop.

__ADS_1


" Apa, kau tidak lelah?" Tanya Raisa sambil mendekati Aldo.


" Tidak, karena tadi banyak pekerjaanku yang tertinggal." Kata Aldo dengan mata yang fokus ke arah laptop.


" Iya, semua itu jugakan salahmu." Sindir Raisa.


Aldo langsung menghentikan pekerjaannya, dia sudah tahu dengan sikap Raisa yang sedang menyindirnya.


" Maafkan, aku. Aku tidak akan lagi terjebak oleh seseorang." Kata Aldo seraya menghampiri Raisa yang sudah merebahkan dirinya di atas kasur.


Raisa memalingkan wajahnya, dan bersembunyi di balik bantal guling.


" Sekarang, aku harus bagaimana?" Tanya Aldo yang mendekatkan bibirnya ke telinga Raisa.


Saat akan mencium pipinya, Aldo melihat mata Raisa sudah terpejam.


" Huft, wanita memang susah untuk di mengerti." keluhnya yang langsung duduk dan berjalan menuju kursi kerjanya.


**


Pagi pun tiba, terlihat Aldo masih bergelut dengan selimutnya.


Raisa sudah terbangun sejak pagi, karena suasana hatinya sedang membaik.


Raisa memasakkan menu ke sukaan Aldo, yaitu nasi putih dengan lauk tempe goreng dan sambal terasi.


Tidak sulit menemukan terasi di Perancis, walaupun harganya lumayan mahal. Namun demi memuaskan nafsu makan suami, Raisa harus menyediakannya.


" Mas, bangun." Raisa menggoyangkan tubuh Aldo.


"Mmmm, " Aldo langsung memeluk tubuh Raisa.


" Ih, lepaskan..." berontak Raisa sambil memukul pelan dada Aldo.


Aldo melepaskan pelukannya, dan langsung membuka kedua matanya.


" Ale, kamu mengganggu papa saja." keluh Aldo yang telah memeluk Alesha. Karena Alesha langsung berlari memeluk Aldo, saat dirinya melepaskan pelukan sang istri.


" Pa, ayo makan." rajuk Alesha manja.


" Iya, papa mandi dulu." kata Aldo, sambil mencium pipi Alesha.


" Ih, papa bau." kata Alesha yang mendorong wajah Aldo.


Raisa hanya tersenyum, melihat tingkah Alesha yang sudah bisa bermanja-manja dengan papanya.


Tiba-tiba perut Raisa kembali mual, segera dia bergegas menuju kamar mandi.


" Huek, huek..." Raisa kembali muntah, padahal dia belum makan.


" Papa, mau urutin mama dulu." kata Aldo yang langsung bangun dan berlari menghampiri Raisa.


" Huek, huek..."


" Aku panggilkan dokter." kata Aldo sambil memijat tengkuk leher Raisa.


" Tidak perlu, nanti juga baikkan." kata Raisa yang menarik tangan Aldo, mencegahnya mengambil ponsel.


" Aku ambilkan minyak kayu putih." kata Aldo.


Selang beberapa menit kemudian, perut Raisa membaik. Dan Aldo langsung membawanya menuju tempat tidur.

__ADS_1


" Ale, kamu lekas sekolah. Kak Beby sudah menunggu." kata Aldo.


" Baik, Pah!" jawab Alesha, yang telah di tunggu Beby di ruang makan.


" Aku, mau rujak." pinta Raisa sambil menatap Aldo.


" Rujak?" kaget Aldo dengan permintaan Raisa.


" Iya, sepertinya enak makan mangga muda." jawabnya sambil berpikir.


" Mangga muda? Dimana aku temukan buah itu?" tanya Aldo.


" Iya, pokoknya aku mau mangga muda." kekeh Raisa yang langsung memalingkan wajahnya.


" Iya, aku akan carikan." kata Aldo.


Aldo pun segera berangkat mencari mangga muda.


" Berry, apa kau tahu dimana ada mangga muda?" tanya Aldo.


" Mangga muda?" bingung Berry.


" Iya sudah, bantu aku mencari mangga muda." kata Aldo memerintah kan Berry.


" Baik, Tuan." kata Berry.


Berry segera menghubungi anak buahnya, untuk mencari mangga muda.


Selang beberapa jam, Berry mendapatkan informasi. Jika mangga muda yang di cari sudah berbentuk manisan.


" Tuan, adanya manisan mangga." lapor Berry.


" Ya sudah, kau beli saja. Dan carikan yang lain." kata Aldo mengajukan pilihan lain.


" Baik, Tuan." kata Berry.


Sore pun tiba, semua aneka olahan mangga sudah tersedia di hadapan Aldo.


" Kau masukkan ke mobilku." perintah Aldo.


Dia merasa frustasi, dengan keinginan sang istri. Jika saja dia ada di Indonesia, maka mangga muda akan mudah di dapatkan.


" Raisa, kau di mana?" tanya Aldo yang telah masuk ke dalam kamar.


" Maaf, Tuan. Nyonya sedang ke pusat perbelanjaan bersama non Beby dan Non Ale." lapor Celine.


" Apa?" dengus Aldo, " Sejak kapan?" tanya Aldo.


" Nyonya berangkat, sekalian jemput sekolah non Ale dan non Beby." jawab Celine.


" Huft, " Aldo menghela nafasnya berat.


Dia pusing memikirkan keinginan istrinya, sedangkan sang istri malah jalan-jalan ke mal.


" Celine, apakah aku harus memenuhi keinginan wanita hamil?" tanya Aldo.


" Sebaiknya iya, Tuan." jawab Celine, " Karena hal itu merupakan bentuk perhatian, dari suami ke istri." tutur Celine.


" Apakah nanti anakku akan ileran, jika tidak aku turuti keinginan ibunya?" tanya Aldo.


" Ileran?" bingung Celine.

__ADS_1


-


Silakan like, vote dan berikan poin hadiah untuk karyaku


__ADS_2