Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 81


__ADS_3

Mobil mereka telah sampai di halaman rumah Raisa.


Kebetulan hari menjelang sore, sehingga banyak ibu-ibu yang berkumpul di depan rumah masing-masing.


Mobil Aldo sudah terparkir, " Gendong Ale, ya!" kata Raisa pada Aldo


" Iya, sayang." kata Aldo sambil menarik tuas remnya.


Raisa membuka pintu, dan membawa buah tangan untuk kedua orang tuanya. Dan dia pun masuk terlebih dahulu.


Sementara Aldo membuka pintu belakang, bermaksud ingin menggendong Alesha.


" Mas, kerepotan ya?" panggil tetangga Jamilah yang merupakan ibu dari Raisa.


" Oh, enggak bu." jawab Aldo sambil tersenyum.


" Ya ampun Mas, senyum nya itu loh bikin hatiku klepek-klepek." teriak Sulastri.


Raisa mendengar suara berisik tetangganya, dia pun melihat dari jendela.


" Ish dasar, sukanya tebar pesona." gerutu Raisa.


" Mas, mau di bantuin?" sapa Bu Cokro yang melintas bersama Wulan anaknya.


" Enggak perlu, Bu." kata Aldo yang langsung menutup pintu mobil.


Aldo pun langsung membawa Alesha masuk ke dalam rumah.


Sementara para tetangga langsung berkumpul di depan rumah Sulastri. Mereka membicarakan kehadiran Raisa, yang baru saja datang.


" Tuh Wulan, kamu harus pintar nyari suami kayak Raisa." Sindir Sulastri seraya melirik Wulan yang berdiri di sebelah ibunya.


" Eits, pasti si Raisa pake pelet tuh!" cibir bu Cokro sambil menatap sinis ke arah rumah Jamilah.


" Alah sok tahu kamu, kalau memang dia beruntung ya beruntung aja. Gak usah sirik gitu!" ejek Juminten yang merupakan tetangga baik yang dekat dengan Jamilah.


" Ih, kamu kan emang akrab sama Jamilah. Ya pasti, kamu bela dialah!" kata bu Cokro yang tidak mau kalah.


" Makanya anakmu tuh kalau bergaul jangan pilih-pilih. Anak gadis tuh harus rajin dan murah senyum." kata Juminten yang langsung meninggalkan kerumunan ibu-ibu.


Bu Cokro menatap sebal ke arah Juminten, tak terima anaknya di cela.


Wulan memang tipe yang pemilih, dia tidak suka bergaul dengan orang yang tidak selevel dengan derajatnya.


Makanya para gadis dan pemuda suka menghindari nya. Karena sifat sombong dan angkuh, serta suka merendahkan orang.


****


" Enak ya, bisa tebar pesona." Sindir Raisa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


" Maksudnya apa, nih?" tanya Aldo yang kerepotan membawa Alesha.


" Nak Aldo, sebaiknya Ale di taruh di kamar._ kata Jamilah yang baru keluar dari dapur.

__ADS_1


" Iya, bu." jawab Aldo yang langsung menuju kamar Raisa.


Raisa mengikuti Aldo dari arah belakang, dengan wajahnya yang cemberut.


" Mukanya kenapa, sih?" tanya Aldo bingung melihat wajah Raisa yang di tekuk.


" Enggak apa-apa." jawab Raisa yang langsung memalingkan wajahnya.


Tanpa tau kesalahannya, Aldo langsung pergi meninggalkan kamar Raisa. Dia langsung menuju mobilnya, mengambil buah tangan yang tadi di beli oleh mereka.


" Kak Aldo?" panggil Rina yang baru saja pulang dari kuliah.


" Eh, Rin apa kabar?" tanya Aldo yang membawa bungkusan cemilan.


" Baik, Kak!" jawab Rina, " Sini kak, Rina bantu." kata Rina yang langsung memarkirkan motornya.


Rina membawa bungkusan yang lain, yang Aldo taruh di bawah.


Mereka pun masuk ke dalam, dan menaruh bungkusan di dapur.


" Nanti kamu tata, ya." kata Aldo sambil menepuk-nepuk tangannya. Lalu dia menuju wastafel untuk mencuci tangan.


" Baik, Kak." jawab Rina.


Aldo menghampiri kedua mertuanya di ruang tamu. Mereka berbincang-bincang tentang usaha ayahnya dan ibunya.


Mempunyai warung sayur sederhana karena modal dari Aldo, hingga berkembang menjadi mini market. Semua itu berkat keuletan sang ayah, yang fokus menjalankan usahanya.


" Syukurlah, kalau keadaan ayah dan ibu membaik. Kami jadi tidak perlu cemas." kata Aldo


" Maaf, kami akan tinggal lagi di Perancis untuk waktu yang lama." kata Aldo sambil menggenggam kedua tangannya.


" Kapan kalian akan berangkat?" tanya Jamilah.


" Besok." jawab Aldo.


" Kok mendadak, Kak?" tanya Rina yang membawakan tiga cangkir teh dan segelas susu untuk ibunya.


" Iya, aku di beritahu oleh asisten ku kemarin." jawab Aldo.


" Nak Aldo, di minum tehnya." kata ibu Jamilah yang menyuruh Aldo meminum teh.


" Raisa mana?" tanya ayah.


" Di kamar, " jawab Aldo, " Sejak tadi mukanya cemberut aja, aku gak tahu alasannya." kata Aldo yang mengadu pada kedua mertuanya.


" Biar aku yang ke kamar, Kak." kata Rina yang langsung bangun dari duduknya. Dia langsung menuju kamar Raisa.


" Tok, tok, tok..."


" Kak," panggil Rina.


" Masuklah, " sahut Raisa.

__ADS_1


Dan Rina pun masuk ke dalam kamar Raisa.


" Kak, kamu kenapa?" tanya Rina.


" Enggak kenapa-kenapa, emang kenapa?" balik Raisa bertanya.


" Loh kok ditanya, malah balik nanya?" sungut Rina, " Kata Kak Aldo, kakak cemberut aja dari tadi " lapor Rina


" Ish dasar, tukang ngadu." gerutu Raisa.


" Memang ada apa, Kak?" tanya Rina.


" Kakak hanya kesal saja sama dia, karena terlalu banyak tebar pesona." kesal Raisa sambil meremas ujung bajunya.


" Oalah, aku pikir soal apa? Hahaha... kakak ada-ada saja deh!" kata Rina dengan tertawa lepas, " Perasaan laki-laki itu memang gak peka, Kak. Kita sebagai wanita walaupun kasih isyarat ke dia, gak bakal ngerti. " tutur Rina.


Raisa hanya terdiam, dia mendengarnya penjelasan dari adiknya. Walaupun dia telah menikah dua kali, namun dia belum paham dengan urusan cinta.


" Iya udah kak, sebaiknya temui kak Aldo." saran Rina.


" Iya, iya..." jawab Raisa lugas, dia langsung bangun dan berjalan menuju pintu.


" Jangan ngambek lagi!" tutur Rina.


Kemudian Raisa keluar dari kamarnya, menghampiri kedua orang tuanya dan juga Aldo.


Mereka sedang bersenda gurau di ruang tamu, menikmati teh hangat dan cemilan yang tadi di bawa Raisa.


" Raisa, duduk sini!" panggil ayah Raisa.


" Iya, Yah!" sahut Raisa, dan menghampiri ayahnya.


Raisa duduk di sebelah Aldo, dengan wajah yang masih di tekuk.


" Raisa, kamu jangan suka ngambek sama suami." ucap Jamilah menasihati Raisa.


" Enggak kok, aku gak ngambek." kata Raisa sambil melirik ke arah Aldo.


Aldo yang merasa di bela oleh ibu mertua nya, langsung tersenyum penuh kemenangan.


" Iya udah, besok kamu mau pergi ke Perancis. Ibu doakan , kamu selamat sampai tujuan." kata Jamilah sambil menatap anaknya sendu.


" Iya bu, Raisa akan kangen sama ibu dan ayah." ujar Raisa yang langsung menghampiri kedua orang tuanya. Raisa duduk di antara ayah dan ibunya, lalu memeluk mereka.


" Maafin Raisa ya ayah, ibu belum bisa membahagiakan kalian." ucap Raisa sambil menahan air mata yang hampir terjatuh dari pelupuk matanya.


" Kamu sudah sangat membantu perekonomian kamu, Nak! Juga menyekolahkan adikmu sampai kuliah, ayah bangga sama kamu." kata ayah sambil memeluk erat anak sulungnya.


" Terima kasih ya, Sa. Semoga kamu selalu bahagia, dan pernikahan kalian tetap rukun sampai maut memisahkan." pesan ibu Jamilah.


" Iya, bu." Jawa Raisa.


Kemudian mereka kembali menikmati hidangan, sampai Alesha terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


-


Silakan like dan berikan komentar mu ya guys.


__ADS_2