Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Bab 85


__ADS_3

Aldo langsung membawa Raisa menuju rumah sakit. Dia tidak ingin melihat istrinya, menderita terlalu lama dengan penyakit.


" Kau tunggu di sini, aku akan mengambil nomor antrian." kata Aldo yang menaruh Alesha di pangkuan Raisa.


Padahal Aldo bisa saja memanggil dokter pribadi nya. Namun dia tidak puas, jika nanti mendapatkan diagnosis yang tidak tepat.


Selang beberapa menit, Aldo telah sampai membawa nomor antrian.


" Tunggu sebentar lagi." kata Aldo yang sudah duduk di sebelah Raisa, kemudian dia mengambil alih menggendong Alesha.


" Kau tidak perlu cemas dengan keadaan ku, hanya pusing dan mual kenapa harus ke rumah sakit?" tanya Raisa yang bingung dengan sikap suaminya yang terlalu over protective.


" Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." jelasnya.


" Baiklah, kalau hanya masuk angin saja kau harus mengerik badanku." ucap Raisa memberi syarat.


" Miss Raisa Ekasuci." terdengar nama Raisa d panggil oleh perawat.


Segera Aldo menuntun Raisa, masuk ke ruang dokter.


" Mas, aku bisa sendiri." kata Raisa mencoba menepis tangan Aldo. Namun Aldo kekeh menuntun tangannya, sambil menggendong Alesha.


" Selamat pagi, " sapa dokter laki-laki yang duduk di kursi kerjanya.


" Pagi, " jawab Raisa sambil masuk ke dalam ruangan dokter.


Saat tahu dokter di dalamnya adalah laki-laki, Aldo segera menyusul Raisa.


" Silakan duduk, Miss." ucapnya.


" Terima kasih, dokter Fernando." sahut Raisa.


Sebenarnya percakapan mereka menggunakan bahasa Perancis. Hanya saja author tidak mau ribet, maaf ya😉


" Apa keluhan anda?" tanyanya.


" Pusing, mual dan muntah-muntah." kata Raisa.


" Sejak kapan?" kembali lagi dokter Fernando bertanya.


" Sejak di pesawat, tadi malam." Tutur Raisa.


Fernando melihat ke arah Aldo, dia melihat nya sedang menggendong gadis kecil.


" Aku sarankan untuk periksa ke dokter kandungan." ucapnya melirik ke arah Aldo.


" Maksud nya?" Raisa bingung dengan saran yang di berikan oleh Fernando.


" Sepertinya, gadis kecil ini akan punya adik." balasnya sambil mengulas senyum.


Mata Aldo terlihat berbinar, dia tak menyangka akan memiliki anak lagi.


" Apa anda serius dokter?" Raisa mencoba meyakinkan perkataan sang dokter.


Dokter hanya mengangguk kan kepalanya, " Sebaiknya saya rujuk sekarang, kamu bisa langsung menemui dokter Rebecca Van Dijk." kata Fernando.


" Baik, Dok. Kami akan segera ke sana." kata Aldo dengan antusias, segera dia mengambil surat rujukan.


" Dimana ruangan dokter Rebecca?" tanya Aldo.


" Keluar dari sini dua pintu ke arah kanan." jelasnya.

__ADS_1


Aldo langsung menuntun tangan Raisa, dia tidak sabar mendengar hasilnya.


Mereka menuju ke arah kanan, dan melewati dua pintu.


" Toj, tok, tok..."


Aldo mengetuk pintu, dan terdengar suara dari dalam.


" Silakan masuk." sahutnya.


Aldo dan Raisa pun masuk ke dalam, seraya mengucap salam.


" Pagi, dokter Rebecca?" sapa Aldo yang sudah duduk di bangku.


Raisa hanya menggeleng kan kepalanya, melihat tingkah suaminya.


" Pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya melihat ke arah Aldo dan Raisa.


" Ini surat rujukan dari dokter Fernando." kata Aldo yang langsung menaruh kertas di atas meja.


" Anda, Revaldo Junior putra?" tanya Rebecca sambil mengamati wajah Aldo.


" Iya, " jawabnya.


" Senang bertemu dengan Anda, suatu kehormatan bisa berhadapan dengan Anda." ujar Rebecca.


Aldo tidak begitu mengenal Rebecca, namun dokter cantik itu sangat mengenal Aldo.


" Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Aldo dengan menyipit kan kedua matanya.


" Iya, Anda adalah penyumbang dana di yayasan yang saya miliki. Saya memiliki yayasan panti asuhan, dan Anda adalah donatur saat peresmian gedung baru Panti kami." Tutur Rebecca.


" Oh maaf, aku tidak begitu mengenali Anda." kata Aldo.


" Baiklah, siapa yang mau di periksa?" tanya Rebecca sambil melihat ke arah Raisa dan Alesha.


" Istri saya, kata dokter Fernando dia menyarankan untuk periksa di dokter kandungan." jelas Aldo.


" Mari saya periksa, silakan nyonya naik ke tempat tidur." kata Rebecca yang langsung mengaitkan stetoskop di telinga nya.


Raisa langsung berjalan menuju tempat tidur, dan langsung merebahkan tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, Rebecca memberikan cup kecil pada Raisa.


" Apa anda sudah tahu cara pakai nya?" tanya Rebecca memastikan.


" Sudah." jawab Raisa yang langsung mengambil cup kecil dari tangan Rebecca.


Raisa langsung berjalan menuju toilet, untuk menampung air seni nya.


Setelah terisi, Raisa membawanya ke luar toilet dan menaruhnya di wastafel.


Dia masih ingat saat memeriksa kehamilan pertama kali, bersama Faisal.


Rebecca memasukan alat kehamilan ke dalam cup, yang berada di atas wastafel.


" Tunggu lima menit, kita akan tahu hasilnya." kata Rebecca.


" Gadis cantik, kamu senang tidak kalau punya adik?" tanya Rebecca pada Alesha.


Karena sedari tadi Alesha hanya terdiam, duduk di pangkuan Aldo.

__ADS_1


" Adik?" tanya Alesha yang masih bingung, kemudian dia teringat dengan perkataan Aldo di waktu pagi hari.


" Yeay, papa berhasil bikin dedek." sorak Alesha bergembira.


Raisa terkejut mendengar Alesha begitu bergembira.


Lalu dia menatap tajam ke arah Aldo, karena teringat kejadian kemarin.


Aldo hanya tersenyum, dengan menunjukkan semua giginya yang putih.


" Gadis kecil, kamu gembira sekali?"tanya Rebecca.


" Iya, kemarin papa bisikin Ale mau bikin dedek." ucapnya polos.


Tangan Raisa langsung menyentuh perut Aldo, dia merasa malu karena Alesha telah mengatakan rahasianya.


" Auw...." pekik Aldo.


Rebecca hanya tersenyum, melihat tingkah keluarga kecil dihadapannya.


Kemudian Rebecca langsung berjalan, menuju ke arah wastafel.


Diangkat nya alat kehamilan, yang sudah sejak lima menit tenggelam di cup.


" Selamat gadis cantik, papa kamu berhasil bikin dedek." suaranya sambil berbisik.


" Yeay, Ale mau punya dedek..." suara Alesha begitu bahagia.


Raisa hanya tersenyum malu, melihat tingkah anaknya. Dan juga kelakuan suaminya, yang semakin membuat pipinya memerah.


" Terima kasih, dokter. " kata Raisa.


" Saya resepkan vitamin, dan kita bertemu sebulan kemudian untuk mengecek kondisi janin Anda." kata Rebecca yang memberikan resep.


Aldo senang bukan kepalang, akhirnya dia akan menemani Raisa di masa kehamilan nya. Tidak seperti dulu, dialah yang menjadi korban ngidamnya bayi Alesha.


Sampai -sampai Alesha bisa merasaka, kalau dirinya adalah ayah kandung nya. Terbukti kesembuhan Alesha lebih cepat, saat bertemu Aldo.


Mereka langsung menghampiri mobil Aldo, yang sudah menunggu di halaman rumah sakit.


" Hati-hati, Sayang. Jangan jalan terlalu cepat!" kata Aldo sambil menuntun Alesha dan Raisa.


Saat berjalan melewati pintu keluar otomatis, mereka berpapasan dengan Sarah dan teman-temannya.


" Aldo..." panggil Sarah yang langsung menghampiri Aldo bersama Raisa.


" Sarah..." lirih Aldo.


" Bukankah, dia pramugari yang tadi pagi? tanya Raisa pada Aldo.


" Iya, " jawab Aldo seraya menatap sinis ke arag Sarah.


" Kalian sedang apa disini?" tanya Sarah sambil membelai rambut Alesha.


" Aku baru saja mengecek, kesehatan istriku." jawab Aldo.


" Oh, yang muntah-muntah semalam itu?" jawab Sarah melirik ke arah Aldo.


" Iya, dan kami harus segera pulang." kata Aldo yang langsung menuntun Raisa dan Alesha.


" Tunggu Raisa, bisa kita berteman?" ucap Sarah seraya menahan langkah Raisa.

__ADS_1


-


Silakan like dan berikan komentarmu


__ADS_2