
Bu Cokro ingin berbalik meninggalkan rumah Jamilah, datanglah Aldo yang sudah memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah.
" Wis, wis, wis, ganteng amat sih! " takjub Bu Cokro yang terpesona dengan penampilan Aldo.
Aldo hanya melempar senyum ke arah Bu Cokro. Kemudian dia berjalan menuju rumah Raisa.
" Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu?" Tanya Raisa pada Aldo dengan wajah yang senyum -senyum sendiri.
" Bukankah Ibu tadi itu tetangga mu?" Tanya Aldo sambil membuka kaca mata hitamnya.
" Dia cuman tukang gosip, yang datang kemari hanya ingin mengejek kami." ujar Raisa.
" Oh..." jawab Aldo yang hanya beroh ria.
" Ayo lekas, kita pergi ke butik." ajak Aldo.
" Ke butik, mau ngapain?" tanya Raisa yang kini bahasanya pun sudah berubah, menjadi bahasa Indonesia campuran.
" Iya, fitting baju pengantin lah!" kata Aldo.
Gaya bahasa mereka kini, seperti anak-anak muda zaman sekarang. Berbeda saat mereka berada di Prancis, yang menggunakan bahasa formal.
" Baiklah, kau tunggu di bangku." kata Raisa yang menyuruh Aldo duduk.
Raisa masuk ke dalam kamarnya, untuk mengganti baju. Sedangkan Bu Jamilah membuatkan teh, untuk Aldo.
" Nak Aldo, apakah di Perancis ada teh?" tanya Bu Jamilah yang sudah membawakan secangkir teh hangat, dan ditaruh di atas meja.
" Ada Bu, hanya saja Raisa tidak pernah membuatkan aku teh." tutur Aldo.
" Loh, memangnya Raisa di sana malas ya?" tanya Bu Jamilah yang sudah duduk berhadapan dengan Aldo.
" Enggak kok Bu. Di sana aku hanya mengantar jemput Raisa bekerja. Setelah itu, aku pulang ke rumah." kata Aldo.
" Oh, memang di sana Raisa bekerja apa?" tanya Bu Jamilah yang tidak tahu pekerjaan anaknya.
" Raisa seorang guru tari balet Bu. Dan kemarin baru saja mendapatkan penghargaan internasional sedunia, di Perancis." kata Aldo menjelaskan.
" Wah Ibu bangga mendengarnya, rupanya anak Ibu bisa terkenal di Prancis." kata Bu Jamilah dengan raut wajah bahagia.
" Aku sudah selesai berdandan, apakah kau ingin mengajak Alesha?" tanya Raisa yang telah rapi menggunakan dress berwarna merah muda dengan panjang selutut, dan flat shoes berwarna putih.
Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, nampak cantik dan terlihat seperti masih gadis.
" Alesha tidur tadi sama bapak di kamar." kata Bu Jamilah.
Aldo dan Raisa pun pamit dan Alesha dititipkan oleh sang nenek, karena dia sedang tertidur.
Semua tetangga Raisa hanya mengintip mereka, melalui celah jendela. Mereka iri dengan Raisa, yang mempunyai pasangan yang tampan dan juga gagah serta kaya.
" Bu lihat, pacarnya Raisa sangat tampan sekali." kata Wulan yang berada di sebelah Ibu Cokro.
__ADS_1
" Halah, paling dia pakai pelet." ejek Bu Cokro.
Itu merupakan sebagian dari hujatan tetangga, yang iri melihat Raisa.
****
" Bu Jamilah, yang tadi itu calon mantu nya ya?" tanya Sulastri yang merupakan tetangga sebelah Jamilah.
" Iya." jawab Bu Jamilah dengan singkat, saat dia sedang bermain dengan cucu kesayangannya.
Alesha terbangun, saat Raisa dan Aldo sudah pergi meninggalkan rumah. Dan Bu Jamilah mengajak Alesha, bermain di depan rumahnya.
" Ini anak dari suami yang pertama ya?" tunjuk Sulastri kearah Alesha.
" Nggak usah kepo deh Bu Sulastri, urusin aja rumah tangga Ibu yang kusut dan carut-marut." balas Bu Jamilah.
" Ish..." kesel Sulastri dia langsung menutup pintu dengan kasar.
" Nenek, orang itu kenapa sih?" tanya Alesha dengan suara polosnya.
" Oh dia nggak ada duit, jadi nggak bisa jajan." jawab Bu Jamilah sambil tertawa kekeh.
" Oh aku punya duit nek, aku kasih ya nanti!" kata Alesha sambil tersenyum.
Sang nenek hanya tersenyum mendengar keluguan dari cucunya.
***
" Aldo ini calon istri kamu?" Tanya Arneta yang merupakan teman Aldo, sekaligus desainer terkenal.
" Ibu dari anakku, sekaligus calon istriku." kata Aldo yang langsung merangkul Raisa.
" Oh, kalian sudah punya anak rupanya!" kata Arneta yang sangat terkejut mendengar penuturan Aldo.
" Kamu desainer atau wartawan sih?" cibir Aldo yang begitu malas menanggapi pertanyaan dari Arneta.
" Kalau kalian mau bergosip, sebaiknya aku pulang saja." kata Raisa seraya membalikkan badannya.
" Eh jangan marah dong, Aku kan cuman bercanda?" tutur Arneta sambil menarik lengan Raisa.
Kemudian Arneta langsung membawa Raisa ke ruangannya.
" Kamu suka yang model apa?" tanya Arneta, " Oh ya nama kamu siapa ya?" tanya Arneta yang sedari tadi tidak mengetahui nama Raisa.
" Namaku Raisa." jawab Raisa.
" Baiklah Raisa, silakan kamu pilih model mana yang kamu suka." kata Arneta yang menunjukkan katalog miliknya.
" Yang simpel aja nggak usah repot-repot." ucap Raisa sambil menunjuk gaun dengan halaman nomor 5.
" Baiklah kita ukur ya." kata Arneta yang langsung mengambil tali meteran, dan mengukur setiap inci badan Raisa.
__ADS_1
Usai Raisa memilih baju pengantin, kini giliran Aldo mengukur jas yang akan digunakan pada acara pernikahannya nanti.
Setelah memilih baju pengantin dan juga jasnya, Aldo pun langsung membayar cash dan harus selesai pada hari pernikahan nya.
" Jangan lupa ya Net, hari Sabtu udah kelar, soalnya mau aku pakai pada pagi harinya." pesan Aldo pada Arneta.
" Oke bos!" ucap Arneta seraya menunjukkan dua ibu jarinya.
Aldo langsung melajukan mobilnya ke kantor.
" Kamu mau ke mana?" tanya Raisa.
" Aku mau mampir ke kantor ada urusan mendadak." kata Aldo yang tadi menerima telepon dari Arifin.
" Oh."
Raisa merasa malu, jika dia harus pergi ke kantor. Dia akan malu, jika banyak pegawai yang mengenalinya.
" Sebaiknya aku pulang pakai taksi online aja deh!" ucap Raisa.
" Aku hanya sebentar, setelah itu kita langsung pulang." tutur Aldo.
Aldo tetap melajukan mobilnya ke kantor. Raisa bertanya dalam hatinya, apakah Lina sahabatnya masih bekerja di sana atau tidak?
Sesampainya Aldo langsung memakirkan mobilnya di parkiran VIP. Aldo langsung menuntun tangan Raisa, masuk ke dalam lift khusus CEO.
Pintu lift terbuka, Raisa dan Aldo keluar menyusuri lorong ruangan CEO.
" Duduklah!" Aldo menyuruh Raisa untuk duduk di sofa.
Seketika bayangannya teringat akan masa lalunya. Saat Aldo telah membuatnya menderita. Tiba-tiba air mata menetes di sudut matanya.
Aldo yang duduk di kursi kerjanya, melihat Raisa mengusap kedua matanya.
" Raisa kau kenapa?" tanya Aldo yang langsung meletakkan ponselnya.
" Aku hanya teringat kenangan buruk masa lalu." ucap Raisa dengan menundukkan kepalanya.
Kemudian Aldo mendekati Raisa, lalu mengusap puncak kepalanya.
" Maafkan aku, maafkan semua perbuatan ku saat itu." kata Aldo menyesal. Lalu dia memeluk Raisa.
Terdengar suara pintu terketuk, " *T*ok tok tok."
Aldo melepas pelukannya, " Masuklah." ucap Aldo dengan suara tinggi.
Pintu pun terbuka, masuklah sekertaris Aldo.
" Lina..." Raisa terkejut melihat sahabatnya yang kini menjabat sebagai sekretaris.
" Raisa." ucap Lina yang begitu terkejut melihat keberadaan Raisa.
__ADS_1
*S**ilakan like , vote dan berikan komentarmu ya guys*!!