
" Kamu jangan marah ya sama tante, tante gak tahu rumah Fay." kata Raisa memohon pada Katie agar mempercayai nya.
" Iya tan, " jawab Katie, " Tan, gimana perkembangan Ale?" tanya Katie.
Raisa menjadi muram, karena perkembangan nya terlihat nyata saat Alesha bersama Aldo.
" Tan, kok mukanya muram gitu?" tanya Katie yang melihat wajah Raisa berubah menjadi muram.
" Tadi Ale bertemu dengan papanya, dan terlihat sangat akrab." kata Raisa sambil tertunduk.
" Bagus dong Tan, jadi dia tahu siapa papanya." kata Katie sambil menatap Raisa.
Katie sudah dewasa, dan bagi Raisa dia merasa Katie sudah bisa di ajak tukar pikiran.
" Tante gak akan kasih tahu ke dia tentang Alesha." kekeh Raisa masih sangat keras kepala.
" Tan, mungkin kalau Alesha tahu siapa papanya dia akan menjadi anak normal seperti yang lain." saran Katie.
" Tapi tante sudah sangat sakti hati Kat.." Raisa menangis dalam pelukan Katie.
" Perlahan Tante, aku harap tante tidak egois. Karena Alesha butuh sosok seorang laki-laki yang bisa melindungi nya " kata Katie dengan bijak.
" Tante akan pikirkan. kata Raisa sambil mengusap air mata yang sudah menetes di ke dua pipinya.
Katie pun balik ke kamar nya, setelah mendapatkan penjelasan dari Raisa tentang Fay.
***
Satu minggu kemudian, proyek Aldo dan Arifin yang berada di Indonesia mengalami kendala.
Terpaksa mereka harus balik ke Indonesia untuk mengeceknya.
Arifin dan Aldo pergi bersama ke Indonesia.
Sesampainya, Arifin meminta pada Aldo untuk menjenguk sang kakek.
" Aldo, aku ingin menjenguk kakekmu. Karena setelah ini pasti kita akan sibuk sekali." pinta Arifin
" Baiklah, mari ikut aku." kata Aldo yang mengajak Arifin masuk ke dalam mobil.
Saat di perjalanan, Arifin akan menyombongkan diri di depan Wisnu. Wisnu yang menginjakkan harga diri nya, dan memecatnya secara tidak hormat. Kini Wisnu harus tahu, kalau semua proyek milik cucunya berada di area kekuasaan nya.
Mereka pun sampai di rumah sakit, Aldo mengajak Arifin menuju kamar VIP.
" Belum ada perkembangan juga dengan kakekmu?" tanya Arifin yang berada di dalam lift.
" Belum, dia hanya bisa mengangguk dan menggerakkan jarinya jika ingin menyampaikan sesuatu." kata Aldo bersedih.
Akhirnya mereka sampai di kamar VIP, Aldo pun mempersilahkan Arifin untuk masuk terlebih dahulu.
Arifin melangkahkan kakinya dengan wajah angkuh. Dan berdiri di sebelah tempat tidur Wisnu.
__ADS_1
" Kakek, aku datang." kata Aldo berbisik di telinga Wisnu.
Seketika kedua mata Wisnu pun terbuka perlahan.
Bibirnya hanya bergerak saat memanggil Aldo.
"A--ldo.." terasa berat bibirnya mengucap.
" Kek perkenalkan pak Arifin, " kata Aldo yang mengarahkan pandangannya ke Arifin.
Kedua mata Wisnu beralih ke sosok Arifin, yang telah berdiri di sampingnya.
Sontak membulatkan kedua bola matanya, sungguh terkejut saat melihat nya.
Terulas di senyum Arifin penuh keangkuhan.
" Akhirnya kita bertemu lagi." kata Arifin penuh penekanan.
" A-a- arifin..." bibirnya bergerak, terasa kelu dan berat.
Suasana hening beberapa saat, dan kemudian terdengar suara Wisnu yang begitu lancar berbicara. Padahal sebelum nya bibir nya tak mampu berucap.
" A-aldo, di-dia pa-pa mu." kata Wisnu dengan suara terbata-bata.
" Maksud kakek?" tanya Aldo, begitu juga Arifin yang begitu terkejut mendengar penuturan Wisnu.
Lalu dada Wisnu sesak, kemudian Aldo langsung memanggil dokter.
Selang beberapa menit, para dokter khusus pun datang memeriksa keadaan Wisnu.
" Apa maksud dari kata-kata kakek?" lirih Aldo sambil duduk di ruang tunggu.
" Dimana Johnson?" tanya Arifin pada Aldo.
" Bagaiman kau tahu nama papaku?" tanya Aldo bingung.
" Nanti akan aku jelaskan, dimana Johnson?" tanya Arifin penuh penekanan.
" Dia hidup bersama istrinya setelah kematian ibuku." kata Aldo yang mengungkap masa lalunya.
" Jadi saat kau lahir, Johnson tidak merawatmu?" tanya Arifin.
" Jangan kau sebut laki-laki brengsek itu." kata Aldo yang sangat membenci Johnson.
Karena sejak lahir Johnson tidak pernah menemui nya.
Selang setengah jam, dokter pun keluar dari kamar inap VIP.
" Bagaimana keadaan kakekku?" tanya Aldo.
" Dia memanggil mu." kata dokter jaga, dan mereka langsung pergi meninggalkan Aldo dan Arifin.
__ADS_1
Aldo pun masuk ke dalam kamar, dan di susul oleh Arifin.
Aldo berdiri tepat di sebelah tempat tidur Wisnu.
" Aldo.." ucap Wisnu yang kini suaranya tak lagi terbata-bata.
" Kakek, kakek sudah bisa berbicara?" tanya Aldo dengan gurat wajah kebahagiaan.
" Kakek mungkin akan pergi sebentar lagi, sebelum kakek ingin memberitahu satu hal padamu. " kata Wisnu sambil duduk bersandar di headboard tempat tidur rumah sakit.
" Iya kek." jawab Aldo.
" Raisa datang saat malam kepergian mu ke Perancis, dan kakek tidak memberitahukan mu. Kata Rohman wajahnya terlihat seperti habis menangis, dengan membawa tas besar." kata Wisnu.
Arifin pun teringat dengan kejadian malam itu, saat menemui Raisa yang tertidur di atas aspal.
Arifin geram mendengar nya, rasanya ingin meninju Aldo.
" Dan satu hal yang perlu kau ketahui, bahwa Arifin adalah ayah kandung mu." kata Wisnu seraya mengalihkan pandangannya ke sosok Arifin.
" Apa?" ucap kedua dan sontak keduanya sangat terkejut.
" Sebelum ibumu menikah, ibumu telah mengandungmu. Dan dia berkata, bahwa benih yang ada di perutnya adalah milik Arifin. Hal itu membuat marah Johnson, dia hanya bersedia menikahinya tanpa mau menyentuh nya. Dan membuat perjanjian padaku kalau akan menceraikan Alesha setelah melahirkan." ujar Wisnu.
Keduanya saling memandang, sungguh amat miris nasib mereka. Harus berpisah karena keangkuhan sang kakek.
" Maafkan aku Arifin, karena Alesha sangat mencintai mu. Setelah melahirkan Aldo, dia mengalami pendarahan hebat karena stres selama masa kehamilan. Entah apa yang di lakukan Johnson, hingga dia begitu tertekan." ucap Wisnu dengan air mata sudah mengenangi pelupuk matanya.
" Aku harap kalian bisa memaafkan ku, dan aku bisa pergi dengan tenang." kata Wisnu yang tiba-tiba memejamkan kedua matanya.
Aldo baru menyadari kalau kakeknya sudah tidak bernafas.
Segera dia memanggil dokter, untuk memastikan keadaan sang kakek.
Dan ketika dokter selesai memeriksa, selimut putih langsung menutup seluruh badan Wisnu.
Sang kakek langsung di bawa ke pemulasaraan jenazah.
" Kakek...." Aldo menangis sekencang-kencangnya, bersedih kehilangan kakek yang amat menyayangi nya.
Wisnu merawat Aldo sejak dia di lahirkan oleh Alesha. Saat itu Wisnu sangat menjaga Aldo, karena dia adalah penerus dari kekayaaan nya.
Aldo sangat kehilangan sosok kakek yang penyayang.
Dia dan Arifin pun mengurus pemakaman Wisnu, mengantarkan nya ke peristirahatan terakhir.
Arifin mengabarkan tentang meninggalnya Wisnu kepada sang istri. Dan juga menceritakan tentang Aldo kepadanya.
Beruntung Arifin mempunyai istri dengan hati penuh kelembutan. Dia begitu menerima semua kenyataan yang Arifin sampaikan.
Dan tentang Aldo anaknya, jangan dulu di beritahu oleh anak-anak nya. Arifin meminta agar dia sendiri yang mengatakannya pada Katie dan Beby.
__ADS_1
-
Silakan like dan berikan komentarmu.