
Hari menjelang malam, Raisa mengabari Bi Zainab agar menjaga Alesha.
" Halo, Bi." sapa Raisa melalui sambungan telepon seluler nya.
" Iya, Non! Kok uda malam belum pulang?" tanya Bi Zainab cemas.
" Aldo masuk rumah sakit, dan aku minta tolong sama bibi untuk menjaga Ale." pinta Raisa.
" Den Aldo kenapa Non?" panik bibi.
" Dia... Dia hanya terpeleset di kantor, dan tadi pingsan. Jadi bibi tidak usah cemas." kata Raisa mengabari.
Dia tidak ingin membuat Bi Zainab cemas, namun dia lupa kalau Aldo adalah pengusaha terkenal.
Berita penembakan langsung tersiar di televisi. Namun Bi Zainab tidak ingin bertanya banyak tentang Aldo. Dia berpikir pasti Raisa mempunyai alasan, agar dirinya tidak cemas.
" Ya sudah bi, tolong jaga Ale ya!" kata Raisa yang langsung menutup sambungan teleponnya.
" Kenapa kau berbohong pada bibi?" tanya Aldo yang mendengar percakapan Raisa.
" Aku hanya tidak ingin membuatnya cemas, pasti dia akan kepikiran tentang mu." kata Raisa seraya mendekati Aldo, lalu duduk di sampingnya.
Aldo melihat acara di televisi, menampilkan dirinya yang di bawa oleh papanya.
Namun acara tersebut langsung dia matikan, dia tidak ingin membuat Raisa malu, karena berbohong pada bi Zainab.
Bi Zainab pasti sudah menonton acara di televisi sore tadi.
" Kau istirahat lah, apa ingin tidur di samping ku?" kata Aldo menggoda Raisa.
" Jangan macam-macam, atau aku cubit perutmu." kata Raisa sambil mencebikkan bibirnya.
" Kau cantik sekali, kalau lagi marah." kata Aldo menggoda Raisa sambil mencubit pipi nya.
" Ish.." tepis tangan Raisa.
Kemudian Raisa mematikan lampu kamar, dan dia terbaring di sofa.
Di balik kesakitan nya, ada hikmah yang di dapat oleh Aldo. Dia bisa melihat kecemasan di raut wajah Raisa. Dia mendapatkan kejujuran cinta dari Raisa, dan telah berhasil mengambil hatinya.
Sejenak dia berpikir, akan melakukan sesuatu pada keluarga Johnson. Hukuman apa yang cocok untuk mereka, karena telah merecoki kehidupan nya.
***
Pagi pun tiba, Raisa begitu terkejut saat melihat keluarga besarnya datang.
Mereka semua berkumpul di depan kamar Aldo, dan yang berada di dalam hanya papa Arifin dan ayahnya.
" Pah, ayah kalian?" Raisa bingung dengan kehadiran mereka.
" Ayah melihat berita tentang Aldo, makanya ayah langsung menghubungi mertuamu." kata ayah Raisa.
Percuma kebohongan yang dia tutupi pada bi Zainab. Sebenarnya dia tidak ingin membuat keluarga nya cemas.
__ADS_1
" Ayah sendiri?" tanya Raisa.
" Ayah sama ibumu. " katanya, " Sebaiknya kamu sarapan, ibu sudah buatkan makanan kesukaan mu." kata ayah yang mendekati Raisa.
Dan Raisa pun keluar dari ruangan, dia menghampiri sang ibu yang berada di bangku.
" Bu.." panggil Raisa yang langsung mencium tangan ibunya.
" Kok kamu gak ngabarin ibu sih! " kata nya sedikit kesal.
" Aku gak mau ibu khawatir." kata Raisa sambil menundukkan kepalanya.
" Aldo sekarang anak ibu, sama seperti kamu. Jadi kalau ada apa-apa, langsung kasih tau kami." kata Ibu mengingatkan.
" Iya, bu." jawabnya.
" Bagaimana dengan Ale?" tanya ibu sambil membuka rantang berisi makanan.
" Dia sama bibi." kata Raisa.
" Ya sudah, ibu akan ke rumahmu. Nanti biar bibi yang membawakan pakaianmu." kata ibu yang begitu perhatian pada Raisa.
" Iya, Bu!" katanya sambil menyuap nasi di piring.
Selesai makan, Raisa mengajak ibunya masuk ke dalam kamar.
" Yah, ibu mau ke rumah Raisa. Mau jaga Ale, biar bibi yang bawakan baju untuk nya sama Aldo." kata Ibu yang mendekati Aldo di tempat tidur.
" Aldo, kamu yang kuat ya. Ibu hanya bisa bantu doa." ucapnya sambil mengelus lengan Aldo.
" Iya bu, terima kasih." kata Aldo.
" Baiklah, aku akan minta supir mengantar kalian." kata Arifin yang merangkul bahu ayah Raisa
Mereka pun pergi meninggalkan Raisa dan Aldo.
" Ih, kamu kok gak ngomong sih kalau masuk berita di televisi?" rajuk Raisa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
" Aku hanya tidak ingin menyinggung perasaan istriku tercinta." kata Aldo sambil tersenyum.
" Kamu jangan ngeliatin aku kayak gitu." gerutu Raisa.
" Abis, kamu kalau ngambek tuh tambah cantik." goda Aldo.
***
Hari berganti, Aldo telah pulih dari lukanya. Kini dia di perbolehkan untuk pulang ke rumah.
"Aku sudah tidak tahan ingin memeluk mu di rumah." bisik Aldo yang berada di sebelah Raisa.
Mereka telah naik mobil, dan kini menuju rumah Aldo.
Sesampainya di rumah, Aldo di sambut hangat oleh seluruh karyawan. Termasuk anaknya, yang sudah hampir seminggu di tinggal oleh mereka.
__ADS_1
" Mama, papa..." panggil Alesha yang langsung menghampiri mereka.
Aldo langsung memeluk Alesha, namun dia belum mampu menggendong nya.
" Ale, maafin papa yang belum bisa menggendong kamu." kata Aldo.
" Ale sama mama dulu ya!" kata Raisa yang langsung memegang tangan Alesha, lalu menggendongnya.
" Terima kasih Bu, ayah kalian telah menjaga Alesha." kata Aldo yang langsung mencium tangan mertuanya.
" Iya sama-sama nak Aldo, kami senang bisa bersama cucu." kata ibu mertuanya
" Sebaiknya kamu lekas ke kamar." kata Arifin.
" Pak, den ada tamu " kata Deni yang tiba-tiba datang memanggil Arifin dan Aldo.
" Siapa?" tanya Aldo.
" Seorang wanita, yang mengaku bernama Calantha." sahut Deni yang sedang berdiri di depan pintu.
" Suruh masuk." kata Raisa.
Deni langsung berbalik menuju pintu gerbang, bermaksud ingin mempersilakan tamunya masuk.
Selang beberapa menit kemudian, tibalah Calantha di depan pintu.
" Maaf mengganggu." ucap Calantha sambil menundukkan kepalanya.
" Bu Calantha, " lirih Raisa, dia melihat gurat kesedihan di raut wajahnya.
Raisa menghampiri Calantha, dan merangkul menuju sofa.
" Silakan duduk." kata Raisa yang mempersilakan Calantha duduk.
" Terima kasih, Raisa." ucapnya tersenyum.
" Maafkan kami Bu, semua diluar kehendak kami. Bukan maksud kami membuat keluarga ibu menjadi seperti ini." kata Raisa sambil memegang tangan Calantha.
" Raisa, aku ke sini hanya ingin mengucapkan permintaan maaf. Maafkan semua kesalahan yang di lakukan oleh suami, dan anak-anak ku. " kata Calantha.
" Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong mereka. Jadi aku ingin kalian bisa memaafkan perbuatan mereka. Kedatangan ku ke sini adalah ingin pamit pulang. Dan akan menunggu keluarga ku utuh kembali." kata Calantha.
Dia menyadari kesalahan terbesar suami dan anak-anak nya. Semoga hukuman yang mereka dapatkan, bisa membuat jera.
" Kalau memang suami dan anak-anak mu berperilaku baik, mungkin akan meringankan hukuman nya." ucap Aldo yang berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk.
" Biar saja, aku hanya ingin fokus membangun sekolah ku lagi. " kata Calantha.
" Kalau begitu, aku pamit pulang. Sampai jumpa " ucapnya seraya mencium pipi Raisa.
Calantha tidak ingin menuntut apapun, dia tahu kesalahan keluarga nya. Sekeras apapun dia berusaha, pasti tidak akan bisa membebaskan keluarga nya. Calantha ingin memberikan pelajaran berharga, pada keluarga kecilnya.
Silakan like dan berikan vote serta komentar mu.
__ADS_1