
" Apa yang kau lakukan Mas, Aldo!" ucap Raisa penuh penekanan.
" Aku hanya mengajak nya untuk makan bersama, apa itu salah?" ucapnya.
Raisa hanya terdiam, tak ingin memperpanjang masalah. Dia akan membahasnya di rumah, soal sikap Aldo pada Faisal.
Mereka memulai makan siang, Raisa sibuk menyuapi Alesha.
" Kau tidak makan, Sayang?" tanya Aldo.
" Tidak, aku habis makan bakso tadi." jawab Raisa dengan nada ketus.
" Kenapa kau tidak mengajakku?" tanya Aldo.
Raisa menatap malas Aldo, dia masih kesal soal tadi.
" Sebaiknya kau habiskan makananmu, setelah itu kembali bekerja." kata Raisa.
Aldo memang terbiasa menghadapi sikap Raisa yang jutek. Dan itu tak membuatnya peka, padahal Raisa ingin di mengerti oleh Aldo.
Usai menghabiskan makanannya, Aldo kembali ke kantor.
" Papa balik dulu ya ke kantor," pamit Aldo pada Alesha sambil mencium keningnya. Dan Alesha membalasnya dengan pelukan.
" Sayang, aku balik dulu ya!" pamit Aldo seraya mencium pipi Raisa.
" Iya, " jawab Raisa dengan wajah masamnya.
" Kok muka kamu kayak rujak?" ledek Aldo.
" Maksudnya apa den?" tanya Bi Zainab bingung.
" Pedes, asem Bi." kata Aldo.
Lalu Bi Zainab memperhatikan wajah Raisa. Terlihat Raisa menajamkan pandangan nya ke arah Aldo.
" Oke, oke aku jalan dulu." kata Aldo menyerah, sepertinya istrinya sedang sensitif.
Walaupun sering di cemberut in oleh Raisa, tapi itu selalu membuat Aldo menjadi rindu.
Mereka menuju mobil masing-masing, sepertinya Alesha sudah lelah, sehingga dia tertidur pulas di gendongan Raisa.
****
"Pak Aldo," panggil Lina yang melihat Aldo ingin masuk ke dalam ruangan CEO.
"Iya," jawab Aldo sambil memutar badannya.
"Barusan ada tamu," lapor Lina
"Siapa?" tanyanya.
"Namanya Jenifer," jawab Lina
"jenifer, siapa?" tanya Aldo seraya mengerutkan keningnya.
"Jenifer Johnson nama panjangnya," kata Lina meneruskan.
"Jenifer Johnson? Mau apa dia?" tanya Aldo
"Enggak tahu, Pak. Dia hanya memberitahukan namanya, lalu pergi setelah tahu anda sedang makan siang," kata Lina
__ADS_1
"Baiklah, lain kali kalo dia datang katakan aku tidak ingin bertemu dengannya," kata Aldo.
"Baik, Pak," jawab Lina
Kemudian Aldo langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Mau apa anak itu?" geram Aldo sambil berjalan menuju jendela.
Dia melihat keindahan kota dari arah jendela, memandangi ibukota yang masih padat dengan deretan mobil di tengah kemacetan.
"Maafkan aku Raisa, aku hanya ingin menunjukkan pada Faisal kalau kau berhak bahagia," kata Aldo sambil menyelipkan tangannya di saku celana
Aldo tidak pernah menyesal merebut Raisa dari Faisal. Dia akan membuat Raisa bahagia, tanpa merasakan lagi kesedihan seperti yang dialami saat bersama mantan suaminya.
Terdengar bunyi dering telepon miliknya, lalu dia mengambil di saku bajunya.
" Halo.." jawab Aldo.
" Aldo, Jenifer anaknya Johnson mengamuk di kantor papa." lapor Arifin panik.
" Apa, Pah?" kaget Aldo.
" Dia menginginkan kau mencabut semua tuntutan. Lalu menyelesaikan masalah korupsi secara baik-baik." ujar Arifin.
" Apa, enak saja! Apa dia tidak sadar kalau ayahnya telah berbuat jahat?" kata Aldo sambil mendengus kesal.
" Entahlah, dia menghancurkan semua barang dan mengancam dengan pistol." kata Arifin.
" Apa dirinya sudah gila?" ejek Aldo.
" Entahlah, apa kau bisa datang ke sini?" pinta Arifin pada Aldo.
Segera dia bergegas pergi meninggalkan ruangan nya.
" Mau kemana Pak?" tanya Lina yang merupakan sekertarisnya
" Aku mau ke kantor papaku, kau handle semua pekerjaanku," pesan Aldo.
"Baik, Pak!" kata Lina.
Aldo berjalan menuju lift dengan tergesa-gesa, langkah kakinya di percepat. Setelah pintu lift terbuka dia langsung masuk dan menekan tombol basemen.
" Ayah dan anak kok sama saja sifatnya!" gumam Aldo yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dia langsung melesatkan nya menuju kantor papanya.
Sementara di kantor Arifin, suasana begitu mencekam. Seluruh karyawan di ancam oleh Jenifer. Dia menodongkan pistol dan tidak mengijinkan karyawan untuk bergerak.
" Hey Arifin, keluar kau. Jangan jadi pengecut." teriak Jenifer.
Sementara Arifin melihat tingkah Jenifer, melalui kamera cctv di dalam laptop nya.
" Katakan dimana ruangan bos kalian?" tanya Jenifer pada salah satu karyawan.
" Di- dilantai atas." jawabnya gugup dan ketakutan.
" Cepat antarkan aku." kata Jenifer memaksa, sembari menodongkan pistol ke arah kepalanya.
" Ba-baik..."
Mereka berjalan menuju lorong dan melewati tangga darurat. Arifin sudah mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Jenifer.
Mereka pun sampai di lantai atas, karyawan perempuan itu pun langsung mengetuk pintu ruangan Arifin.
__ADS_1
" Tok, tok, tok..." suaranya mengetuk pintu.
" Masuklah." sahut Arifin dari arah dalam ruangan nya.
Pintu terbuka, terlihat Jenifer sedang menodongkan senjata ke arah Arifin.
Arifin dengan santai menghadapi Jenifer, yang sepertinya sedang terbawa emosi.
" Cepat hubungi anakmu, agar dia membebaskan ayah dan kakakku." kata Jenifer dengan suara meninggi.
" Aku sudah menghubungi Aldo, tapi sayangnya dia sedang menikmati makan siang bersama keluarga kecilnya." tutur Arifin dengan ekspresi wajah yang santai.
" Jangan bohong, aku tahu kau bersekongkol dengan anakmu." ujar Jenifer tak percaya.
" Apa kau tahu seberapa berat hukuman bagi seorang penipu?" tanya Arifin mengalihkan pembicaraan.
" Aku tidak perduli, sejak kehadiran kalian keluarga ku hancur berantakan." bentak Jenifer.
" Kehadiran kami di mananya?" balik Arifin bertanya, " Bukankah semua ulah ayah dan kakakmu, Fay!" ucap Arifin penuh penekanan.
" Dengar, aku tidak perduli. Aku hanya ingin membawa ayahku kembali ke Perancis." gertak Jenifer.
Namun Arifin tetap tak gentar menghadapi Jenifer. Dia hanya gadis labil, yang tidak pernah mengerti tentang masa lalu ayahnya.
" Kenapa sifat ibu kalian tidak mengalir padamu? " ucap Arifin dengan senyum mengejek.
" Itu bukan urusan mu." elak Jenifer.
Kemudian mata Arifin beralih ke pintu, di mana sudah ada Aldo di belakang Jenifer.
Dengan jalan perlahan, Aldo mencoba mendekati Jenifer. Namun sayangnya, Aldo tidak mengetahui seluk beluk ruangan papanya.
Di belakang Arifin merupakan lemari kaca, yang bisa memantulkan bayangan.
Dengan cepat Jenifer membalikkan badannya, lalu melepaskan tembakan ke arah Aldo.
" Dor..."
Suara tembakan terdengar, Aldo langsung menyergap Jenifer hingga jatuh kelantai.
" Brak..!"
Aldo langsung mengambil senjata, yang berada di tangan Jenifer. Lalu melemparkannya jauh dari mereka terjatuh.
Arifin langsung menghampiri Aldo, dan menahan tubuh Jenifer dengan mengunci kedua tangannya ke belakang.
" Ah, lepaskan aku. " berontak Jenifer dalam genggaman Arifin.
Arifin langsung membawa Jenifer keluar, dan memanggil Security.
" Pak, cepat bawa dia ke polisi. Berikanlah pengaduan tentang ancaman dan pengrusakan serta membuat kegaduhan." kata Arifin memberikan perintah.
" Baik, pak!" jawab dua orang satpam yang langsung mengamankan Jenifer.
" Lepaskan, aku..." teriak Jenifer meronta-ronta.
Arifin langsung masuk ke dalam ruangan nya. Dia terkejut melihat Aldo yang sudah terkapar di lantai, dengan darah mengalir.
-
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1